In Event Review

“Cooking For Love” ala Chef Nik dan Sarah Bareng Asian Food Channel

Menyajikan makanan penuh cinta dan menggugah selera itu sebuah karya tersendiri. Seperti dihadirkan oleh Asian Food Channel dengan demo masak di musim ketiga atau terbarunya dari Cooking for Love. Demo masak yang digelar di Almond Zucchini Cooking Studio Jakarta itu menghadirkan Celebrity Chef asal Malaysia Nik Michael Imran dan pembawa acara AFC TV Sarah Benjamin. Kedua chef yang piawai memasak ini menampilkan kreasi masakan yang ekonomis, proses cepat, dan rasa lezat dengan sentuhan modern. Ide-ide memasaknya memberi inspirasi bahwa makanan bergaya restoran bisa dihadirkan di rumah dengan ide-ide dan kreasi masakannya.

Hi #madYanger Minggu lalu aku sempat ikutan demo masak sekaligus menyaksikan langsung acara Cooking for Love yang special banget. Bukan hanya melihat bagaimana masakan diolah namun memberikan wawasan baru soal  tips dan tricks masakan yang memperkaya ide dan kreasi masakan. 

Itu yang aku peroleh saat acara Cooking for Love di Almond Zucchini Cooking Studio Jakarta. Dan pastinya berkesempatan mencicipi racikan duo chef ternama itu. Lezatoz!

Adalah Celebrity Chef yang ganteng  asal Malaysia Nik Michael Imran, yang didampingi wanita cantik asal Singapura pembawa acara AFC TV Sarah Benjamin yang terbang langsung ke Jakarta khusus untuk acara Cooking for Love. Wanita yang saat itu lengan kirinya sedang cedera itu, tak menyurutkan untuk berbagi kreasi masakan bersama Nik.

Cooking for love. (Foto BozzmadYang)

Rasa penasaran terhadap aksi mereka tersalurkan saat acara Cooking for Love dimulai. Sebuah area ‘dapur’ memasak sudah siap. Sudah ada beberapa bahan yang disiapkan. Lengkap dengan peralatan memasak. Dapur yang cantik, bersih dan modern. Semarak demo masak dihadirkan oleh karakter keduanya yang ramah, riang dan jenaka. Maka acara memasak mengalir dengan renyahnya.

“Hari ini saya akan memasak beberapa resep dari musim terbaru Cooking for Love, saya juga akan berbagi tip dan trik rahasia dapur untuk menciptakan hidangan lezat untuk orang terkasih,”
kata Nik sesaat sebelum memulai acara memasaknya.

Sarah dan Nik demo masak. (Foto BozzmadYang)

Nah Nik dan Sarah memperkenalkan dan memperagakan demo masak dengan menu kreasinya masing-masing. Nik, pria yang demen nasi goreng racikan ala Indonesia itu menampilkan masakan menu Lumpia Udang ala Vietnam,  Crab Pasta dan Pavlova Platter. Sementara Sarah memasak hidangan lezat dengan sentuhan modern, Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes dan Coffee Cheesecake. 

Vietnamese Prawn Spring Roll, Crab Pasta dan Pavlova Platter ala Nik

Vietnamese Prawn Spring Roll  atau Lumpia Udang ala Vietnam resep asli milik Chef ganteng Nik. Ini adalah masakan tradisional memiliki cita rasa yang segar dari beragam sayuran yang digunakan dan dicelupkan ke dalam saus Vietnam yang menggugah selera. Sesuai namanya, cita rasanya ala Vietnam yang memang berciri segar, bahan-bahan segar.

“Udangnya jangan terlalu matang, namun agak kecokelatan saja,” kata Nik dalam bahasa Inggris bercampur Melayu. 

Menurutnya dengan warna kecokelatan yang muncul, udang di dalamnya masih terasa empuk, cukup di suhu sekitar 50-58 derajat Celcius.

Vietnamese Prawn Spring Roll. (Foto BozzmadYang)
Itu pula yang kurasakan saat mencicipinya. Udangnya empuk dan lembut.  Gulungan sayuran itu segar dan berasa kalau dicelup Saus Vietnam yang berbahan air  jeruk nipis, gula pasir,  kecap ikan, bawang putih dan cabe merah.  Memasaknya siih sebentar, persiapannya yang lumayan waktunya. Oiya, untuk yang vegetarian,  udang bisa diganti dengan jamur. Kecap ikan bisa dihilangkan. 

Crab Pasta. Ini olahan kepiting! Wah favorit banget ini mah. Karya Nik ini adalah hidangan Crab Pasta dengan daging kepiting segar yang tempatkan di antara susunan pasta dengan sejumput ikura dan selada air sebagai sentuhan akhir.  Sempat icip-icip ini beneran khas rasa kepitingnya berasa. Lezat. 

Crab Pasta. (Foto BozzmadYang)
Saat Nik demo masak Crab Pasta ini, termasuk sebentar, tak perlu waktu lama, sekitar 15an menit saja. Caranya juga cukup mudah. Untuk vegetarian ikura dan daging kepiting bisa diganti dengan jamur  shimeiji.

Pavlova Platter karya Nik ini sebagai hidangan penutup.  Racikan kombinasi sempurna dari whipped cream dengan stroberi segar. Tampilannya menyegarkan sesuai dengan rasa segar dan manisnya pas  menurutku.  Dessert ini cocok untuk dinikmati saat makan malam biasa, pesta atau pun sekadar suguhan manis yang biasa dihidangkan untuk kawan maupun pasangan. So sweet deh! 

Pavlova Platter. (Foto BozzmadYang)

Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes and Coffee Cheesecake ala Sarah Benjamin

Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes, ini menu karya Sarah yang juga Food Blogger asal Singapore. Dia sharing resep yang mudah namun cita rasa kombinasi yang unik. Bahannya kaya rempah rempah, olahan  dari nasi dan daging sapi pilihan. Tentu saja bersaus kari yang khas. 

Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes (Foto BozzmadYang)
Untuk resep dessert,  Sarah menyiapkan Coffee Cheesecake dengan kombinasi cita rasa kopi dan cheesecake tradisional yang dimasak tanpa menggunakan oven. Jadi menghemat waktu. Komposisinya ada sandwich vanili coklat, bubuk kopi instan dan whipping cream. 

Untuk racikan ini aku demen, soalnya penggila kopi dan coklat. Kombinasi keduanya ala Coffee Cheesecake menghadirkan nuansa kelezatan tersendiri. God job!
Coffee Cheesecake. (foto BozzmadYang)
Cooking For Love Setiap Rabu pukul 9 Malam di AFC 

Nah sharing 5 menu dari Nik dan Sarah itu dalam demo masak Cooking for Love itu adalah promosi ketiga, terbaru dari  Cooking for Love yang ditayangkan di AFC/ Asian Food Channel yang merupakan saluran televisi terdepan yang berfokus pada makanan dan menyajikan keunikan kuliner Asia dengan rasa global. AFC adalah bagian dari Scripps Networks Interactive, salah satu produsen konten gaya hidup terkemuka di dunia.

Tayangan AFC dapat disaksikan di lebih dari 10 negara di Asia Pasifik. Untuk informasi lebih lanjut, kepoin saja situsnya di www.asianfoodchannel.com atau di Facebook www.facebook.com/asianfoodchannel.  

Oiyaaa, jika #madyanger penasaran dengan resep-resep racikan chef Nik dan Sarah juga resep lainnya sejak episode penayangan perdana, klik dan unduh dimare yess www.asianfoodchannel.com/en/lovetocook/cooking-for-love. 

Dan kalau mau lihat tayangan episode baru Cooking For Love musim ketiga, tongkrongin saja setiap hari Rabu pukul 9 malam di AFC.

Atau mau tau kelima resep yang diperagain di acara demo masak Cooking For Love minggu lalu? Neh kukutipin di bawah ini. Lengkap dari chef Nik dan Sarah. Cekidot!

Vietnamese Prawn Spring Roll

Vegetarian option: Vietnamese Vegetable Spring Roll
Recipe courtesy of Nik Michael Imran
Yield: 10 pax
Prep Time: 30 minutes
Cook Time: 10 minutes
Difficulty Level: Average
For Vegetarians: Replace prawns with mushrooms and omit fish sauce.

INGREDIENTS:
Spring Roll Ingredients:
• 3 cups rice vinegar
• 3 tbsp sugar
• 2 carrot, cut into batons
• 2 cucumbers, cut into batons
• 3 tbsp butter
• 4 cloves garlic, minced
• 1 can of Del Monte prune juice
• 1tbsp fish sauce
• 1 tbsp paprika powder
• 20 prawns, deshelled and deveined
• 10 rice spring roll wrappers
• 1 packet rice vermicelli, cooked
• 1 head lettuce
• 1 bunch fresh mint, roughly chopped
• 1 bunch fresh cilantro, roughly chopped

Dipping Sauce Ingredients:
• 3 tbsp lime juice
• 2 tbsp sugar
• ½ cup water
• 2 ½ tbsp fish sauce
• 1 clove garlic, finely minced
• 1 red chilli, finely chopped

METHOD:
1. In a small bowl, prepare the filling for the spring roll, whisk sugar and rice vinegar
together until sugar is fully dissolved. Add and submerge carrots and cucumber.
Leave them to pickle for an hour in the fridge.
2. Prepare the dipping sauce by combining lime juice, sugar, water, fish sauce garlic and
chilli, ensure that it’s a light golden colour. Stir well to dissolve the sugar.
3. In a pot, melt some butter and add the minced garlic. Saute until translucent then
add prune juice, fish sauce and paprika powder and bring to a boil.
4. Then, reduce to a simmer. Skewer prawns with a bamboo stick and then, poach in
thesimmering liquid for 2 to 4 minutes. When cooked, remove prawns off the
skewers and set aside.
5. In a small bowl, soak the rice spring roll wrapper for a few seconds to soften.
6. Place the spring roll wrapper flat on working surface, fill closer to bottom lip of the
wrapper with rice vermicelli, a piece of lettuce, mint, cilantro, and pickled
vegetables.
7. Fold wrapper from bottom up, just to cover filling, then add prawns above the first
fold.
8. Fold the left and right sides of wrapper over the edge of the filling, make sure
everything is nice and tight then fold bottom up all the way to the top.
9. Repeat with the rest of the ingredients.
10. Serve with dipping sauce.

Crab Pasta

Recipe courtesy of Nik Michael Imran
Yield: 2
Prep Time: 5 minutes
Cook Time: 15 minutes
Difficulty Level: Easy
For Vegetarians: Remove ikura and crab meat. Replace 500g of crabmeat with shimeiji
mushrooms to make a Truffled Mushroom Aglio Olio.

INGREDIENTS:
• 40g garlic, minced
• 40g red chilli, sliced lengthwise, julienned and minced
• 200g watercress leaves
• 300g spaghetti
• Sea salt
• 1 cup olive oil
• 2 tbsp truffle oil
• 200g fresh crab meat, blanched
• 2 tbsp Ikura

METHOD:
1. Mince the garlic. Slice red chili lengthwise, remove the seeds and pith, then finely
julienne before mincing.Pluck medium sized branches from the watercress, including
some leaves.
2. In a pot of boiling water, add pasta and salt, leave it to cook until al dente.
3. In a small pan, lightly sauté the minced red chili and garlic until translucent on a
medium to medium low heat. Turn off the heat and transfer the red chili and garlic
mix into a mixing bowl.
4. In the bowl, add the blanced crab meat, sea salt and watercress. Toss evenly to mix.
Once spaghetti is cooked, immediately add to mixing bowl with a little pasta water.
5. Add truffle oil and and combine evenly wth the pasta. Season with more salt. For
garnishing use Ikura and watercress leaves. Serve.

Pavlova Platter

Recipe courtesy of Nik Michael Imran
Yield: 6 – 8 pax
Prep Time: 20 minutes (heat the oven)
Cook Time: 1 hour 15 minutes
Difficulty Level: Intermediate

INGREDIENTS:
• 4 cold egg whites
• 1 cup sugar
• 2 tsp vinegar
• 4 tsp corn-starch
• 1 tsp vanilla extract
• 750ml whipped cream
• 200g strawberries, cut into quarters
• 3 passionfruit
• Pinch of salt

METHOD:
1. Preheat oven to 120°C (do not exceed 140°C).
2. Using a handmixer, whisk the cold eggs and salt until foamy then add the vinegar
and continue whisking until soft peaks form.
3. Add sugar bit by bit until meringue is shiny and stiff peaks have formed.
4. Toss in vanilla extract and fold gently to combine. Sift the corn-starch into the same
bowl and continue to fold gently until everything is combined.
5. Line a baking pan with parchment paper. To hold the paper in place, you can use
some of the meringue mixture to stick the paper on to tray.
6. Form little bowls of pavlovas, about 2-3inches wide, using a spatula. Leave some
space between bowls to leave room for expansion.
7. Bake te pavlovas for 75 minutes or until the Pavlova is dry then turn off the oven and
crack open the oven door slightly to allow the oven to cool down gradually for
another 30 minutes.
8. While you wait for the pavlovas to cool, in a cold metal bowl, use a hand mixer to
whip the cream until soft peaks form.
9. Slice strawberries and scoop out passionfruit flesh into separate bowls and set aside
for topping.
10. To assemble, place a generous dollop of whipped cream in the hollowed middle of
the pavlova, then top with strawberries and passionfruit. Serve immediately.

Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes

Recipe courtesy of Sarah Benjamin
Yield: 6 pax
Prep Time: 30 minutes
Cook Time: 35 minutes
Difficulty Level: Intermediate

INGREDIENTS:
Spice paste:
• 5 large dried chilies, soaked in water and deseeded
• 1 tsp salt
• 1 shallot, peeled and roughly
chopped
• 5 cloves garlic, peeled
• 1 5-cm piece of galangal, peeled
• 2 stalks of lemongrass, outer layer and hard ends removed, chopped
• 1 tbsp ground coriander
• 2 tsp ground cumin
• ½ tsp ground black pepper
• 1 tsp shrimp paste
• Zest of 2 kaffir limes or regular limes
• 2-4 bird’s eye chilies, stalks removed (or add more if you really like spicy food)

Curry sauce:
• 1 ½ tbsp brown sugar
• 1 tbsp fish sauce
• 3 tbsp vegetable oil
• 1 cup coconut milk
• 3 kaffir lime leaves, finely shredded
• Thai basil leaves, julienned, to garnish
• 3 lime wedges, to serve
• Salt, to season
Rice:
• 2 tbsp + 1 tbs caster sugar
• 1 tsp salt
• 2 tbsp japanese rice vinegar
• 2 cups japanese short-grain rice, cooked
• 2 cups water
• 2 tbsp soy sauce
• ½ tbsp fish sauce
• 2 large rib-eye or sirloin steaks

METHOD:
1. First, make the spice paste by blending all the ingredients together in a food
processor until smooth. Add some oil to help it along. Set aside.
2. In a heavy pot, heat up oil over a medium heat, and fry the spice paste until fragrant,
and oil is coming to the surface. Toss in brown sugar and fish sauce. Stir well.
3. Add the coconut milk and salt, bring the curry to a boil.
4. Turn the heat down, cover the pot, and simmer for 15 to 20 minutes, until the sauce
is thickened. Season to taste with additional sugar, if necessary. Stir in most of the
finely shredded kaffir lime leaves, and set aside to cool.
5. While the curry is cooking, make your rice cakes. Stir 2 tablespoons of caster sugar,
salt and rice vinegar together until everything is dissolved. Fold this mixture into the
freshly cooked rice evenly.
6. Wet your hands a little, and scoop out small handfuls of the rice. Press together to
form a compact rectangle, like the rice in sushi. Try to get the sides as even as
possible. Repeat with all the rice.
7. Heat a frying pan up over a medium-high heat and add one tablespoon of oil to the
pan. Fry the rice cakes for 1 minute on each side, until lightly crisp. Remove to a
plate.
8. Stir the fish sauce, 1 tablespoon sugar and soy sauce together until the sugar has
dissolved. Brush this mixture onto all sides of the rice cakes, then return to the pan
and cook on a medium heat to caramelize on all sides.
9. Next, sear your steak. Pat the outside of the steak dry with kitchen paper. Heat a
tablespoon of oil in a heavy frying pan over a high heat. Fry the steak for 4-5
minutes, flipping every 20 seconds, until you have a nice golden crust on the outside,
and the steak is cooked to your desired doneness. If you have a digital thermometer,
the steak should be 54-55C for medium rare. Remove the steaks to a plate, pour
over any pan juices, and let them rest for 5-10 minutes. Slice the steak into 1-cm
thick slices.
10. To serve, lay the rice cakes out on a platter, and top with a slice of steak. Spoon
some red curry sauce over, and garnish with julienned Thai basil leaves. Serve
alongside lime wedges.

Coffee Cheesecake Pots

Recipe courtesy of Sarah Benjamin
Yield: 8 pots
Prep Time: 20 minutes
Cook Time: nil
Difficulty Level: Easy

INGREDIENTS:
Mocha Cookie Crumb
• 150g chocolate vanilla sandwich cookies
• 1tsp instant coffee powder
Coffee cheesecake mousse:
• 300 ml whipping cream
• 1 block cream cheese (about 225g)
• 2 tbs instant coffee powder, dissolved in 1 tablespoon hot water
• 200g icing sugar, sifted
• 1 tsp vanilla extract
Sponge Layer
• ½ packet ladyfinger sponge biscuits
• 250ml brewed coffee, sweetend with 2 teaspoons sugar

METHOD:
1. To make the mocha cookie crumbs, grind the chocolate biscuits together with the
coffee powder using your hands.
2. Using a hand blender, prepare the mousse by beating whipped cream to stiff peaks.
Next, in a separate bowl, whisk the cream cheese with the shot of coffee, icing sugar
and vanilla extract until fluffy.
3. Add one third of the whipped cream into the cream cheese mixture and fold it in
gently. Then, fold in the remainder of the whipped cream.
4. Now, get ready to assemble the pots. Fill the base of each jar with a layer of the
mocha cookie crumbs. Top with a layer of cheesecake mousse. Dip the sponge
biscuits into coffee, and place on top. Top with some more of the cheesecake
mousse mixture, then a final layer of the mocha crumbs.
5. Coffee cheesecake pots can be served immediately, or chilled in the fridge until
ready to eat. 

@bozzmadyang

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Event Review

Ayam Aduhai Ala Dubai, Its My Choice


MENIKMATI makanan lezat bercita rasa special, rame-rame itu pasti seru dan menyenangkan. Bareng kawan oke, bareng keluarga oke, bareng komunitas oke. Tentu selain bisa berbagi cerita, juga bisa berbagi selera tentang menu-menu yang tersedia. 

Jika menu fast food menjadi pilihan pastinya pengen menu yang something different dong. Yang memberikan petualangan rasa berbeda dari biasanya. Atau yang menantang goyang lidah dengan racikan rasa yang mungkin belum pernah dialamai. Udah getu lebih asyik lagi dukungan tempat, lokasi dan suasana yang asyik. 

Soo, menu special apa yaa? 

Ayam! Olahan ayam itu kan populer, spesialnya apa? Ayam panggang! Umumnya kan kebanyakan ayam diolah digoreng. Goreng garing, crispy dan lain sebagainya. Lalu dicocol sambal, saos dengan nasi putih. Biasa kan yak. 

Nah kalau yang special tentu yang beda. Ayam dipanggang. Lebih memberikan taste special dan lebih sehat, karena bebas dari minyak. Lalu ditemani nasi. Bukan nasi putih, tapi nasi kuning ala Timur Tengah! 

Flamming Grilled Chicken dan Chiciking Rice. Itu menu special yang aku cicipin untuk ketiga kalinya. Ketiga! Ya. Itu menu khusus dan menjadi andalan di Chicking Indonesia yang dipegang lisensinya PT Ayam Top Sukses dan PT Ayam Top Indonesia. 

Flamming Grilled Chicken. (bozzmadyang)
Flamming Grilled Chicken. (bozzmadyang)
Kali ketiga aku mencicipi menu di Mal@Bassura, Cipinang Jakarta Timur setelah sebelumnya mencicipi di cabangnya BSD City Tangerang. 

Wajib menikmati menu di resto Chicking Ayam Top Dubai, dengan menu andalannya Flaming Grilled Chicken dan Chiciking Rice, itu menu terlaris di yang tersedia di 100 gerai di 10 negara.  

Flaming Grilled Chicken adalah olahan potongan ayam tanpa kulit paling lezat, dengan rempah halus yang menimbulkan sensasi rasa. Potongan ayam direndam dalam bumbu sedemikian rupa. Lalu dipanggang dengan sempurna, ini olahan yang lebih sehat daripada digoreng. 

Untuk nasinya,  Chicking Rice, racikan menu yang ‘ngArab’ banget. Berwujud nasi berwarna kuning yang sekilas mirip nasi kuning  pada umumnya. Namun beda di rasa. Bentuknya pun lebih panjang dari nasi umumnya. Tekstur nasinya ‘mawur’ tak lengket. Maklum itu beras impor, dari beras Arab atau beras Basmati.  

Asal tahu saja,  cita rasa gurih Chiciking Rice ini sangat diminati lidah-lidah perasa di berbagai negara. Misalnya saja di India, Pakistan, Irak, Iran, Afghanistan, Bangladesh, Sri langka.    

Untuk rasa yang di Indonesia?


"Untuk rasa menu, sudah kita sesuaikan dengan lidah orang-orang di sini, agar bisa dinikmati dengan mudah,"  kata Angelia Merry, Public Relation Manager Chicking Indonesia di depan food blogger di Mall@Bassura, Minggu (5/11/2017).

Untuk minumannya bagi yang demen teh or kopi ada Kopi Arab dan teh Arab. Ada yang berbeda, karena dicampur dengan kapulaga. Ada sensasi tersendiri. Buatku ini benar-benar petualangan rasa, karena factor pembedanya itu. 

 (bozzmadyang)
Mau minuman yang dingin ada juga, Dubai Breeze, minuman menyegarkan bersoda. Minuman yang cocok dipadu dengan camilannya, Chick Pops ataupun Tandoori Fries. 
Tandoori fries. (bozzmadyang)
Burger. (bozzmadyang)
Menu Nikmat, Asyiknya Tempat
Suasana berbeda menikmati menu-menu andalan Chicking Indonesia di Mall@Bassura. Ruangan luas, ada indoor dan outdoor. Daya tampung cukup banyak. Didesain sedemikian rupa, meja dan kursi tersedia. Soo bagi mereka yang perokok, duduk di luar yess, dengan AC alami hehee.
 Indoor. (bozzmadyang)
Outdoor.  (bozzmadyang)
Outdoor (bozzmadyang)
 Indoor (bozzmadyang)
Ruang outdoor mampu menampung 30 orang lebih, seperti saat aku ajak #madYanger test food dimare. Bersih tempatnya. Kursi dan meja masih tersedia di depan tenant. Jadi kalau datang rame-rame, sangat mungkin tertampung.

Lokasi di lantai 2 mall yang beroperasi sejak 26 Mei 2016 itu asyik untuk acara makan-makan bareng komunitas or kawan genk. Apalagi tenant Chiciking ini dekat banget dengan Cinema XXI, soo abis makan gampang deh cari hiburan nonton film.

Jadi cocok deh buat acara makan rame-rame sambil menikmati menu-menu special ala racikan Timur Tengah. Its my choice. Yukk serbuuuu!

@bozzmadyang
Chicking Mall@Bassura
Mall@Bassura Lt 2 Unit RE/05
(Depan Cinema XXI)
Jl. Basuki Rahmat No. 1A, Jakarta Timur
Telp. 021 22807722
IG: @chicking.indonesia
FB: Chicking Indonesia
www.chickingglobal.com

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Review

Secangkir Kopi Stamina, CNI Ginseng Coffee

 

NGOPI itu dekat dengan pria. Ngopi itu sosialisasi. Ngopi itu persahabatan. Ngopi itu asyik. Ngopi itu gaya hidup. Ngopi itu…Sehat!

Sederet makna dari aktivitas ‘ngopi’ mewakili apa pun. Bagi pecintanya #coffeelover, secangkir kopi itu berjuta makna. Bagiku ngopi itu mendatangkan rasa gembira. Bersemangat dan membuat momen menjadi berbeda.

Ngopi membuat bersemangat dan lebih aktif, seperti yang konon dilihat oleh Kaldi seorang penggembala kambing abad 8 Masehi. Kisah yang sering disitir, tentang kambingnya yang aktif bergerak selepas mengkonsumsi cherry dari pohon kopi.

Ngopi alias minum kopi biasa dilakukan di pagi atau pun malam hari. Meski sebenarnya bebas-bebas saja dan tak terpancang oleh waktu.  Bersyukur bahwa negeri ini kaya akan khasanah kopi. Dari Sabang sampai Merauke, tumbuh kopi-kopi yang memberikan cita rasa beragam.

Produksi kopi dalam negeri sebesar 250.000 ton/ tahun menempatkan negeri kita sebagai negara eksportir kopi no 4 terbesar di dunia, di bawah Amerika, Brazil dan Jerman. 

Banyak kopi pilihan yang bisa dinikmati. Yang populer tentu kopi instan. Namanya juga instan, jadi lebih simple dinikmati, cepat dan gak ribet. Kembali ke selera tentunya.  Sedemikian simplenya membuat popularitas kopi instan merambah semua wilayah di tanah air. 

Salah satu racikan yang mengangkat kepopuleran kopi adalah jenis racikan kopi ginseng. Kopi ginseng atau Ginseng Coffee dihadirkan oleh CNI dengan racikannya CNI Ginseng Coffee sejak 1994. 23 tahun lamanya, menjadi pioneer varian kopi ginseng pertama di negeri ini. 

Secangkir Ginseng Coffee

Kopi dikenal  memiliki banyak manfaat. Diantaranya dapat menstimulasi otak dan sistem saraf. Menurut Saptawati Bardosono, pakar gizi, Universitas Indonesia kafein yang terkandung dalam kopi mampu merangsang sistem saraf pusat, sehingga seseorang bisa berpikir cemerlang, tidak mengantuk dan konsentrasi tetap terjaga. 
Ginseng Coffee. (foto Bozzmadyang)
Kopi juga mampu mengurangi derita sakit kepala. Kafein dapat mempersempit pembuluh darah ke otak (vasokonstriksi), sehingga pelebaran pembuluh darah di daerah otak yang menjadi penyebab sakit kepala, bisa ditanggulangi.  Kopi berkhasiat melegakan nafas pada penderita asma, dengan cara melebarkan saluran bronkial yang menghubungkan kerongkongan dengan paru.

Kopi juga memiliki kemampuan menangkal radikal bebas. Kopi banyak mengandung antioksidan yang bermanfaat dalam membantu tubuh membuang zat-zat radikal berbahaya dan molekul perusak sel serta DNA, yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit kanker atau jantung.  Selain itu kafein membuat badan tidak cepat lelah.  

Sementara Ginseng sudah lama dikenal berkhasiat, seperti mengurangi stres mental, merangsang sistem kekebalan dan saraf, mengobati diabetes, mencegah perkembangan kanker, menurunkan kadar kolesterol, mengurangi kelelahan, serta meningkatkan daya tahan tubuh. 

Merilis Mediakom yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI, ginseng berkhasiat sebagai antikanker, antistres, antipenuaan, menguatkan fungsi jantung, mengatasi impoten, diabetes, pendarahan di luar haid, kelelahan kronik dan lain-lain.  

Soo, dapat dikatakan perpaduan dari kopi dan ginseng berkhasiat menambah stamina, meningkatkan kesehatan tubuh. 

CNI Ginseng Coffee 

CNI Ginseng Coffee adalah minuman serbuk kopi instan bermutu dengan ginseng. Dalam kemasan sachet, Ginseng Coffee seberat 400 gram terbagi menjadi 20 sachet. Masing-masing sachet @20 gram. CNI Ginseng Coffee dipasarkan CNI sejak 1994. Tak heran CNI sebagai pioneer kopi plus ginseng.
CNI Ginseng Coffee. (Dok CNI)
 Selama kurang lebih 23 tahun produk CNI Ginseng Coffee dipasarkan, CNI secara terus-menerus menjaga formulasi dan kualitas produk untuk meningkatkan loyalitas konsumennya. Kualitas keunggulan CNI Ginseng Coffee masuk dalam survey TOP Brand 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016 dan 2017 untuk kategori kopi ginseng. Ini jelas mengindikasikan kualitas bermutu produknya. 

Untuk pemasarannya CNI menerapkan sistem MLM. Cara ini memperkuat merek sangat mengandalkan pemberdayaan dari anggotanya sendiri.  

Nah untuk selengkapnya Anda bisa mengenal lebih jauh CNI Ginseng Coffee dan produk-produk CNI lainnya di situsnya www.geraicni.com. 

Jadi, bagi Anda yang ingin menikmati secangkir kopi yang Nikmatnya Asli tak Tertandingi, pastikan Anda mendapatkannya dalam racikan CNI Ginseng Coffee. Selamat mencoba!

@bozzmadyang 

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Event

Jelajah Gizi Malang, Jelajah Menjaga Eksistensi Kuliner Warisan Negeri (3)



Ditantang Masak Rawon Steak ala Chef Revo, Siapa Takut!

Steak Rawon? Ya, itu menu belum ada di dunia hahaa. Soalnya baru diperkenalkan oleh Chef Revo, finalis Junior Masterchef season 1! Meski baru berusia 14 tahun, welaah, wawasannya soal masak memasak jangan ditanya, luass! 

Nah Revo unjuk gigi dengan demo masak menu yaitu Apple Salad, Rawon Steak dan juga bikin minuman Lemon Teleng Tea. Apple Salad ini jenis olahan apel manalagi. Dibuat sedemikian rupa menjadi menu sehat kaya sayuran dan buah. 
Chef Revo demo masak. (foto: bozzmadyang)
Nah yang seru adalah demo Rawon Steak. Menu original karya Revo yang memadukan ala Barat dan Indonesia. Daging sapi menjadi bahan utama. Berbumbu local khas rawon yang dipadu dengan kluwak! Ya kluwak yang berbentuk bulat berkulit keras. Aku mesti membantingnya di lantai semen saat demo masak tim. Kok buat bumbu sih ya?

“Kluwak ini bisa menjadi antioksidan. Baik untuk tubuh,” jelas Prof. Ahmad yang setia menjelaskan nutizi dan gizi bahan makanan selama Revo demo masak.  

Ditutup dengan minuman sehat dan menyegarkan Lemon Teleng Tea. Minuman yang dipadu dnegan bunga Teleng yang berkhasiat antioksidan juga. Warna bunganya cantik, kebiruan, warna favoritku hehee. 
(foto: bozzmadyang)
Menyimak demo masak Chef Revo, khususnya Rawon Steak dengan racikan bumbu/ rempah local menjadi menarik. Setidaknya racikan bumbu itu menjadi kunci masakannya, tidak menggunakan penyedap rasa. Masakan dengan racikan rempah-rempah itu khas dan ciri masakan nusantara.

Melongok Industri Tempe, Kampung Tematik Desa Sanan

“SANAN, Sentra Industri Tempe dan Keripik Tempe,” itu tulisan terpampang jelas di gapura masuk Desa Sanan, yang aku lihat. 

(foto: bozzmadyang)
Desa wisata tematik, Desa Sanan menjadi tujuan jelajah Gizi Malang. Bagiku mengunjungi industry pembuatan tempe menjadi pengalaman yang berharga. Dipandu oleh Pak Arif, kami berkesempatan mengenal proses pembuatan tempe, kripik tempe. Ternyata pembuatan tempe cukup berliku dan butuh pengalaman. Di sini juga aku tau bahwa limbah tempe diolah menjadi pakan ternak.

Melihat bagaimana kedelai dicuci, dihamparkan setelah dikasih ragi tempe, hingga tempe dipotong tipis-tipis diolah menjadi keripik aneka rasa. Ada proses peragian dengan menggunakan ragi khusus. Ternyata tak sembarang ragi dipakai, untuk mendapatkan tempe yang berkualitas. Tempe yang tak mudah sobek saat digoreng (maklum mesti dipotong tipis) dan bercita rasa enak. 

Takjub juga melihat proses pemotongan tempe tipis-tipis dengan cara manual! Kudu berpengalaman agar bisa melakukannya. Meski ada juga proses yang dilakukan dengan menggunakan mesin. Namun cara manual juga masih banyak diterapkan.

(foto: bozzmadyang)
Untuk dibuat keripik, tempe cukup digoreng kering. Ada bermacam rasa. Namun dijelaskan bahwa favorit tetaplah rasa original alias asli. Itu yang kurasakan saat mencicipi tempe keripik yang baru habis digoreng. Renyah dan gurih. Eh lumayan juga sih dibawain satu kotak aneka rasa keripik tempe, buat oleh-oleh rekan kantor deh. Hehehee.

Pembuatan tempe dan keripik dilakukan ‘rumahan’ oleh warga Sanan. Berbeda-beda kemampuan mengolah dalam seharinya. Ada yang mencapai ratusan kilogram bahkan hingga ukuran ton. Hasil dari industry tempe itu terlihat dari infrasturktur jalan yang bagus, dan rumah-rumah yang tertata bagus. 
Meski pasaran masih local, namun industri tempe Sanan ini tak kesulitan di pemasaran. Nama yang populer turut menetukan.  Dan pastinya banyak wisatawan yang berkunjung ke Desa Sanan, gegara tempe! 

Dari Cwie Mie Malang Hingga Sop Buntut di Taman Indie  

Tak bosan menikmati menu berkuah hangat Cwie Mie dan Sop Buntut ala kuliner Malang. Kali ini menikmatinya di Taman Indie. Ini resto yang etnik dengan ornamen kayu yang kental budaya Jawa. Dua menu yang mendampingi menu ala khas Malang lainnya.  Makan malam yang tetap berkhas Malang ini menjadi menu di malam terakhir Jelajah Gizi Malang. Esoknya kami akan kembali ke ibukota dan lainnya. 
(foto: bozzmadyang)
Praktis malam itu acara diisi ringan dengan games, tebak makanan dalam kotak. Makanan yang hanya bisa dikenali dari bentuk dan baunya. Juga games mengambil bahan makanan dengan sumpit di atas kereta mainan yang berjalan. 
Diakhiri dengan pengumuman pemenang untuk Instagram Competition, Tim Terbaik, Peserta teraktif dan lainnya. Syukurlah aku kebagian menjadi pemenang di Photo Instagram Competition.  Malam yang indah!

Pelangi Cerah di Jodipan

Minggu, 15 Oktober 2017. Pagi cerah dari Hotel Ijen Suites, tempatku menginap. Hari ini hari terakhir di Malang. Pagi itu aku lebih banyak minum jamu yang tersedia di resto Hotel Ijen Suites. Jamu Beras Kencur dan Kunyit Asem. Itu jamu kesukaanku, yang terbiasa kuminum sejak kecil. 

Jam 08.00 wib, bus beranjak dari hotel. Jodipan, tujuannya. Itu kampong yang lagi ngehit belakangan ini. Kampung yang berwarna-warni dilihat dari kejauhan. Atap, genteng, dinding dicat dengan aneka warna terang. Seperti melihat Pelangi di Jodipan.
(foto: bozzmadyang)
 “Hai, ojo buang sampah nang ngisor, iso keno sirahku,” teriak seorang nenek di bawah. Kira-kira nenek itu bilang  jangan buang sampah sembarangan ke bawah, bisa terkena kepalanya.

Itu yang kudengar saat meniti jembatan naik menuju jembatan kaca. Memang sebaiknya tidak selayaknya pengunjung mengotori kampung yang dijaga kebersihannya. Pasalnya banyak wisatawan yang datang.  

Seperti Minggu itu, aku dan peserta Jelajah Gizi Malang lainnya mesti antre di jembatan kaca. Jembatan Kaca yang baru diresmikan awal Oktober 2017 ini, berkapasitas 50 orang. Jembatan di atas sungai itu membagi kampung menjadi dua, yakni kampung Tridi dan Kampung Warna-warni. Pengunjung dikutip Rp. 2000 saat lewat jembatan. 
(foto: bozzmadyang)
Kampung Wisata di Kota Malang, Jawa Timur ini berlokasi di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Dulunya adalah permukiman kumuh, seperti umumnya perkampungan pinggiran sungai.
Masalah utama adalah sanitasi. Hingga kemudian muncul ide konsep kampung warna warni. Ide yang diamini oleh warga kampong dan hadirnya sponsor cat. Lokasi dengan rumah dan genting yang dicat bak warna pelangi ini banyak dikunjungi wisatawan. 
Seperti akhir pekan ini saat aku ikut #JelajahGiziMalang 2017, pengunjung berjubel blusukan lewat gang-gang sempit yang sarat mural berbagai ragam di Kampung Tridi. Spot untuk foto-foto banyak banget dengan aneka tema mural. Ada tembok besar China, Wayang, Singa dan lain-lain.

Sementara di Kampung Warna-warni lebih berornamen hiasan di sepanjang gang. Rumah dan dinding tentu saja diwarnai dengan warna terang. Lumayan bersih di sepanjang jalur dari Jembatan kaca hingga naik ke jalan raya.
(foto: bozzmadyang)
Wajah kampong Tridi dan Kampung Warna-warni selayang pandang memberikan perubahan. Khususnya wajah kumuh kampong pinggiran sungai menjadi lebih indah. Dan tentunya akan memotivasi warga terlebih bisa mendatangkan dana yang bermanfaat bagi kampong mereka. 

Tentunya harapan warga bisa menjaga kebersihan yang ditunjang dengan perawatan sarana dan prasarana maka akan lebih berdampak baik bagi mereka. Otomatis wajah Malang juga turut terdampak positif. Tentu perubahan wajah itu semakin baik bila diikuti dengan habit warganya tentang perilaku sehat dalam keseharian, seperti menjaga sungai tidak digenangi sampah. 

RM Inggil, Antara Rumah Makan dan Museum Budaya 

Makan siang hari terakhir di malam, special. Itu menurutku mengingat pilihan tempat yang etnik dan berbudaya banget. RM Inggil Malang. Sebuah rumah makan yang tak biasa. Ada museum di depan rumah makan. Unik. Desain museum dengan aneka lukisan, pernik topeng, telepon jadul, kaset pita dan lain-lain.

(foto: bozzmadyang)

(foto: bozzmadyang)

(foto: bozzmadyang)
Menikmati menu di sini tentu berbeda dengan balutan aroma nuansa tempoe doeloe yang kental. Pilihan lokasi yang sangat berkesan untuk rumah makan ini. 

Jelajah Gizi Malang adalah Catatan Berharga 

Tak kupungkiri waktu 3 hari 2 malam turut dalam acara Jelajah Gizi Malang adalah pengalaman berharga. Bagaimana pun banyak member wawasan baru tentang khasanah kuliner Malang dan destinasi wisatanya. Juga mengenal lebih dekat peran masyarakat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kampung Sanan dan Jodipan, itu inspiratif. Bisa menjadi contoh bagi desa lainnya di tanah air. 

Kehidupan yang diciptakan dengan konsep kampong tematik, industry tempe dan kampong wisata membawa perubahan yang positif bagi warganya. Sementara kuliner Malang yang khas dan lestari oleh para pelaku usaha kulinernya tentu menjadi catatan tersendiri. Bahwa siapa pun bisa berperan serta dalam menjaga eksistensi kuliner warisan budaya negeri, dengan masing-masing cara. 
(foto: dadangtrippo)
Termasuk aku sebagai bloger, food bloger, bertanggungjawab turut serta menjaga lestarinya kuliner melalui tulisan. Paling tidak aku bisa mengajak kawan-kawan bloger di Komunitas Kompasianer Penggila Kuliner (KPK) Kompasiana untuk lebih aktif menuliskan tentang kuliner nusantara. 

Menuliskannya, membingkainya, merekamnya, mendokumentasikannya dan menyebarkannya. Harapannya bisa semakin bermanfaat dan turut melestarikan kuliner tradisioanal agar tetap bertahan di tengah gempuran kuliner dari mancangera.

Itu yang aku petik dari partisipasi di jelajah Gizi Malang. Aku berkewajiban menjaga eksistensi kuliner warisan negeri bersama siapa pun yang memiliki kepedulian yang sama. Aku punya  kesempatan mencatat dan memiliki sejarah, melalui budaya kuliner. Semoga. 

Terima kasih kepada Danone  dan Nutricia SariHusada untuk kesempatan turut menjelajahi kuliner Malang di Jelajah Gizi ke 5, Jelajah Gizi Malang. Semangat!
@bozzmadyang

Tulisan ini ditayangkan juga di www.sarihusada.co.id dengan judul: Jelajah Gizi Malang, Jelajah Menjaga Eksistensi Kuliner Warisan Negeri (3)

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Event

Jelajah Gizi Malang, Jelajah Menjaga Eksistensi Kuliner Warisan Negeri (2)


Klasiknya Museum Angkut dan Kuliner Pasar Apung

“Bu lihat kemari Bu,” kataku sambil membidikkan kamera ke Ibu Ning, penjual Putu Tegal & Rangin Surabaya di atas perahu kecilnya, di Pasar Apung, Museum Angkut, Batu, malang. 

Itu momen saat hari jelang gelap ketika langkah kakiku dan peserta Jelajah Gizi Malang tiba di Museum Angkut. Pertama kali aku menginjak lokasi  museum transportasi dan tempat wisata modern yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur ini. 
Bu Ning. (foto bozzmadyang)
Temaram lampu yang menyala di sana sini, membuat petang itu seperti berpesta. Perahu-perahu kecil menawarkan dagangan kuliner. Kuliner khas tradisional. Beraneka ragam.

Seorang gadis penjaja akesoris tersenyum saat aku minta berpose dan kujepret sebelum aku masuk pintu De’ Topeng. Dipandu langsung oleh sang pemilik museum yang ternyata museum dibangun berawal  dari kegemarannya mengumpulkan barang-barang kuno. Bersama sang istri, kisah-kisah di balik benda-benda bersejarah ini begitu menarik. 
(foto bozzmadyang)
Menarik menyusuri museum De’Topeng berasa menyusuri masa lalu. Betapa tidak, aneka benda-benda bersejarah, uang logam, patung batu, batik, budaya adat, dan lainnya. Patung Ganesha mengingatkan masa-masa kejayaan kerajaan. Begitu pula dengan koin logam, ataupun serat-serat tulisan dengan menggunakan getah pohon. Ada patung Loro Blonyo, berbusana pengantin Jawa.
(foto bozzmadyang)
(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)
Sensasi tak kalah seru, saat aku masuk ke museum angkut dengan beragam sarana transportasi dari berbagai negara. Beragam moda transportasi, motor, mobil kuno, kereta, sepeda gowes mengisi ruangan museum. Di sinilah aku bisa melihat beragam transportasi dari tradisional sampai modern. 

Berasa di Kota Batavia tempoe doeloe saat masuk ke Zona Sunda Kelapa dan Batavia. Lampion, lampu, dagangan rokok, pelabuhan, pedati dan alat transportasi tradisional membuat seperti di kota Jakarta tempoe doeloe. 
(foto bozzmadyang)
Di zona lain, sempat blusukan ke zona Gangster Town and Broadway Street. Ini kota para gangster. Dengan transportasi motor mobil dan motor yang unik cenderung seram. Kayak sedang lihat acting film saja di sini. Klop dengan para pemerannya. Kota juga dinaungi lampu-lampu layaknya kota Gangster. Seram namun seru!
(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)

Sayang tak banyak waktu yang tersedia. Hari sudah malam. Aku dan teman satu tim yang dibentuk saat di perkebunan Kusuma Agro Wisata, dengan nama tim “Menjes’ harus menyelesaikan tugas, yakni photo di patungnya manusia hijau ‘Hulk’. Lumayan pusing juga nyarinya yang ternyata dekat dengan pintu akhir. Tugas selesai.

Pasar Apung menjadi blusukan berikutnya, saat tugas mencari 3 macam jenis makanan harus ditunaikan. Sukses deh. Meski kami lupa memfotonya, karena faktor lapar. Hahaa. 

Malam Eksotis di Pupuk Bawang  

“Wah kita nginep sini saja, pemandangannya keren,” kataku saat makan malam di Resto Pupuk Bawang kepada Prof Ahmad yang semeja. Tapi udaranya dingin eeuyy, karena terbawa angin yang berhembus.

Duduk di bantalan sambil leyeh-leyeh sekaligus ngobrol dengan Prof Achmad. Sembari bolak balik mengambil makanan yang terhidang, khas Malang pastinya. Menu yang menghangatkan, ada bakso bakwan malang, dan wedang angsle. Untuk menambah energy ada rawon. Yang menarik perhatianku adalah sempol ayam. 
Sempol. (foto bozzmadyang)
Ini jenis jajanan street food, abang-abang alias pinggiran jalan yang lagi ngehits. Rasanya enak. Dinikmati dengan saos. Biasa dijual di alun-alun Malang Rp. 2000an. Saking enaknya (atau laagi pengen apa ya) saat ke hotel, tempat menginap, aku bawa beberapa tusuk. Puas deh.

Tentu jajanan Sempol ini menjadi bagian kuliner tradisional yang merakyat. Dijual bebas di alun-alun atau pun pinggiran jalan. Khasanh kuliner yang memperkaya budaya negeri.

Jambu Luwuk Resort Bernuansa Pegunungan bak di Luar Negeri

Jambuluwuk Resort, Batu itu tempat peserta Jelajah Gizi Malang menginap. Lokasinya oke. Penginapan dengan nama-nama kota. Aku di penginapan Jogjakarta, yang lain ada Semarang, Solo dan lain-lain. Datang saat malam jadi kami tak sempat menikmati suasana, ditambah badan yang lumayan letih.

Sabtu 14 Oktober 2017. Paginya, ternyata kawasan itu indah banget. Jauh memandang Gunung Arjuna seperti menyapa Selamat Pagi. Hawa khas pegunungan terasa, kuhirup dalam-dalam hingga paru-paru terasa penuh. Kuhembuskan, kuhirup berulang-ulang.  Aku menjepret agungnya Gunung Arjuna dan mengunggahnya di Instagram. Komentar dari kawan menyadarkanku, bahwa tempat ini bak di luar negeri!
(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)
Berlanjut sarapan. Sudah pastiu menu ala Malang terhidang. Aku gak biasa sarapan pada jam 07.00 wib seperti pagi itu. Jadi ketela dan bubur sumsum jadi menu sehatku ditemani dengan jus. Cukuplah. Suasana teras nyaman memanjakan mata dengan pemandangan alamnya. Gunung Arjuna tetap menawan di kejauhan. Pohon menghijau di kejauhan. Sementara irama senam pagi yang entah dimana, terdengar sayup dari bawah. Pagi yang sempurna!

Namun aku mesti beranjak, jam 08.00 wib jadwal jelajah destinasi berikutnya. Semangat pagi!

Surga dan Neraka di Coban Rondo   

Olahraga pagi ala Jelajah Gizi Malang, ya nge-games. Aneka permainan yang dikemas menarik bikin riang dan tertawa.  Ada tebak nama makanan hanya dengan icip-icipp. Bersama tim Menjes, meski gak bener semua namun bisa nebak beberapa. Dari icip-icip 5 makanan, 2 meleset. Jenang Apel, Brem, adalah diantaranya yang ketebak. Ada games nutrisi, terus berlanjut bermain Treasure Hunt di Labirin.

Wah ini susah juga karena ada 4 clue yang harus dicari dan ditemukan. Aku yang bertugas di menara memberi petunjuk jalan. Sesuai kesepakatan tim Menjes,kode kanan adalah telunjuk satu (surga). 
(foto bozzmadyang)
Kode 2 telunjuk adalah ke kiri (neraka). Terus 3  jari adalah lurus, dan 4 jari adalah mundur. Susah juga karena kadang tim gak kelihatan di gerumbul tanaman yang tingginya melampaui mereka. Maafkan kawan, aku sempat bingung ngarahinnya! But sukses deh bisa menemukan 4 clue.

Nah clue itu ternyata untuk menebak sebuah profesi yang misterius. Mumet dan bikin pening. Meski akhirnya nebak jawabannya adalah Marketing!

Games berikutnya ini menurutku menarik. Menghias ban dengan tanaman. Ini ada pesan moral untuk mencintai tanaman, mempercantik dan memotivasi dengan yang hijau-hijau. Jadi ada ban mobil bekas yang bebas di cat warna warni. Lalu aneka tanaman ditaruh di tengahnya. Dibuat seperti taman kecil, secantik mungkin. Semua games itu dinilai secara tim dan diakumulasikan untuk akhirnya bisa ditentukan pemenangnya. 
(foto bozzmadyang)
Spicy Enthog Aceh Dancok

Makan siang mampir di Daun Coklat alias Dancok yang berada di seberang area labirin. Gak jauh. Menu Enthog Aceh ala Dancok menggoda banget. Warna kecoklatan pekat dengan potongan dagingnya menarik perhatianku. Apalagi lama gak pernah makan daging enthog. 

Bagiku menu ini special, karena jarang makan ginian. Selain itu ada minuman es coklat yang  ‘nendang’ dan menyegarkan. 

(foto bozzmadyang)
Rindang di Dancok. (bozzmadyang)

(bozzmadyang)
Suasana yang menarik di Dancok ini bukan hanya menunya, namun area lokasi yang berupa lereng dengan pepohonan tinggi menjulang.  Cahaya matahari mengintip di sela-sela dedauanan. Spot cantik untuk selfie dan welfie disediakan. Diantara pepohonan dibangun fasilitas ayunan dan tempat menikmati alam di kejauhan berbahan kayu. 

Udaranya sejuk menyegarkan. Dan memasak di lokasi ini semakin membuat seru acara.

@bozzmadyang

Tulisan ini ditayangkan juga di www.sarihusada.co.id dengan judul: Jelajah Gizi Malang, Jelajah Menjaga Eksistensi Kuliner Warisan Negeri (2)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Featured Post

Saat Tau Makanannya Gak Enak, Food Blogger Mesti Motret, Gimana Ya?

SEBAGAI Food Blogger kecuali sering icip-icip makanan dan minuman beraneka rupa, dalam   menuliskannya tentu sangat butuh foto-foto...

Google+ Followers

Viva LOG