Contact

Silakan kontak saya di:

Email = bozzmadyang@gmail.com
Twitter = @bozzmadyang
Instagram = @bozzmadyang

Facebook = Bozz Madyang

Terima kasih

 

Tiwul Cabuk Khas Wonogiren

Nasi tiwul dengan cabuk, telur ayam rebus dan gudangan atau urap khas Wonogiren. (foto pribadi)
Ketika bicara soal kuliner apalagi kalau tidak membahas soal rasa, taste spesifik makanan yang bikin lidah perasa berdecap-decap. Decap kenikmatan rasa yang membawa rindu kala makanan itu habis tak bersisa. Genre khas, tradisional, pribumi berpadu dalam nilai sensasi ‘sesuatu’ yang dihadirkan kembali suatu saat. Apalagi kalau jenis makanan itu susah didapat kecuali di daerah tempat produksinya. Ngangenin pastinya. 
Dalil diatas berlaku juga buat menu kuliner tradisional satu ini. Nasi Tiwul Cabuk Wonogiren. Biar mudah penyebutannya, saya singkat Tibuk alias Tiwul Cabuk. Menu yang cukup dikenal karena nuansa kental pribumi, berkarakter tradisi namun mempunyai taste special nan berbeda, khas kedaerahannya. Menu ini merupakan perpaduan antara nasi tiwul dan cabuk produk original penduduk Wonogiren (’e’ dibaca seperti dalam kata ‘keren’). Wonogiren adalah sebutan ‘gaul’ untuk Kabupaten Wonogiri. 

Wonogiri sendiri terkenal dengan sebutan Kota Gaplek, karena banyak produksi gaplek di kota ini. Gaplek adalah bahan dasar untuk membuat nasi tiwul yang disebut juga pohung atau singkong atau ubi ketela pohon yang telah dikeringkan. Pohungnya adalah pilihan dan telah kering sehingga tiwul tidak apek (beraroma tak sedap). Tak heran nasi tiwul tersohor kelegitannya sampai ke mancanegara. Konon mantan Presiden Soeharto (alm) sangat menyukai nasi tiwul ini. Maklum saat masa kecil, beliau sempat bermukim di salah satu daerah bagian selatan kota Wonogiri ini. Oleh karena itu, menu ini sangat layak masuk referensi kuliner dalam Indonesia Travel, sebagai menu yang memperkaya khasanah kuliner di tanah air dan bercita rasa khas nusantara. Mari coba kita rasakan, kayak apa sih pesona menu ini, dimana letak passion Wonogirennya. 

13774314422134571912
Performa nasi tiwul kecoklatan sedangkan cabuk warnanya hitam legam. (foto pribadi)

Coba kita cicipin nasi Tibuk ini. Performa nasi tiwul jika diamati berbentuk gumpalan-gumpalan bulir-bulir kecil. Bulir ini terbentuk saat pengolahan tepung gaplek atau disebut kabluk yang dicampur air lalu diuleni (diremas-remas terus menerus) hingga menjadi bulir-bulir kecil tiwul. Antar bulir itu menyatu satu sama lainnya. Agak liat. Jika sudah matang warnanya kuning tua kecoklatan dan ada yang hitam. Kabluk tadi memungkinkan terjadinya ragam tekstur tiwul, ada yang sedikit kasar, ada juga yang lebih halus, dan agak lengket. Sementara sebagai sparing partner makan nasi tiwul adalah cabuk. Kolaborasi keduanya jadilah Tibuk.

Cabuk adalah jenis menu dari biji tanaman wijen yang sangat khas Wonogiren. Diolah sedemikian rupa hingga perwujudannyanya lembek meski agak kering juga. Berwarna hitam legam bertekstur halus meski tidak lembut, karena faktor butiran biji wijennya. Rasa dan aroma khas berasa agak pedas dan getir. Dipengaruhi oleh bumbunya diantaranya cabe, bawang putih, gula jawa, daun kemangi muda, parutan kelapa lalu dibungkus daun pisang hingga berbentuk gulungan.


13774315272028827640
Cabuk warnanya hitam dalam gulungan daun pisang. (foto pribadi)

Cara makan Tibuk lebih nikmat tidak menggunakan sendok, tapi langsung menggunakan tangan. Satu ‘pulukan’ kecil kumpulan jari-jari tangan kita ditambah satu ‘dulitan’ cabuk langsung sekali suap. Satu suapan dan kunyahan pertama akan terasa kenyal nasi tiwulnya. Kunyahan berikutnya rasa bercampur dengan pedas agak sedikit getir dari cabuknya. Wuiiihhh… mata jadi mengerjab-ngerjab nikmat. Apalagi tibuk ditaruh di alas daun jati. Aroma daun jatinya turut ‘berkolaborasi’ rasa. Boleh juga ditambahin ‘jangan lombok ijo’ (sayur cabe hijau) dengan sedikit kuah. Kuah sedikit saja, asal membasahi tiwulnya. Bagi yang terbiasa makan tiwul akan merasakan sensasi jaman baheula. Bayangkan tibuk disajikan dalam bungkusan daun jati atau daun pisang, mantap dan maknyuuss !!

Untuk memperoleh tibuk, di beberapa lokasi pasar di Wonogiri tersedia. Kita bisa beli sesuai dengan ragam pilihan. Misalnya nasi tiwul campur cabuk, ikan teri, mie glondong (pentil), gudangan (urap) dan lain-lain. Sementara kalau di supermarket di kota, ada yang menyediakan nasi tiwul dalam bentuk bahan mentah. Di acara-acara tertentu seperti Jakarta Fair kemarin, bahan tiwul ini juga dijual dalam kemasan kantong plastik yang cantik. 

13774317382142407472
Nasi tiwul disajikan lengkap dengan cabuk, mie glondong, gudangan atau urap, peyek kacang dan teri, ikan asin. (foto pribadi)

Untuk diketahui, sedikit sejarah nasi tiwul, pada awalnya fungsi nasi tiwul sebagai makanan pokok pengganti nasi putih (beras padi). Maklum dulu beras mahal, sementara geologi tanah di wilayah Wonogiri sulit untuk bertani padi, tapi lebih mudah untuk berkebun dan menanam siongkong. 

Dalam perkembangannya seiring kehidupan masyarakat yang lebih baik, menu ini sudah bergeser posisinya bukan sebagai makanan pokok lagi, namun menjadi salah satu menu yang dikangenin bagi yang pernah mengkonsumsinya. Termasuk saya. Kalau pas pulang kampung, menu nasi tiwul plus cabuk, sayur lombok (cabe) ijo, gudangan (urap), tempe benguk sudah menjadi menu yang harus dicicipin lagi. ‘Gairah merindu’ kampung kelahiran yang sesaat sirna di kota, kembali kental terasa. Saya pikir, teman-teman wajib mencoba menu ‘Tibuk’ ini. Minat?

Sensasi Walang Goreng


Rasanya gurih, garing, renyah agak pahit-pahit dikit. Aromanya khas daging terbakar, bercita rasa nutty flavor. Kriuk kriuk bunyinya saat dikunyah. Pas sampai ke tenggorokan nggrinjel-nggrinjel kalau tak dikunyah sempurna. 

Kira-kira itulah yang kurasakan saat mencoba makan walang goreng atau belalang goreng (Walang dari bahasa jawa). Walang yang kumaksud adalah belalang kayu, bukan belalang sembah atau sentadu.

Sensasinya lebih terasa kemrinyiss bukan maknyus seperti komentar Pak Bondan, ‘tukang cicip’ kuliner yang sering nongol di acara kuliner TV itu. Kemrinyis dalam arti nikmat dan sensasional, khususnya bagi saya yang sangat jarang mengkonsumsi serangga ini.

Itu bagi yang doyan, ada juga yang anti makanan ini, mungkin karena di luar mainstream. Jijik atau mungkin ngeri. “Walang kok dimakan?”

Paket kiriman dua toples walang goreng kuterima dari seorang sahabat yang tinggal di Yogyakarta. Senang sekali menerima bingkisan itu. Ingatan saya langsung melayang ke wilayah Gunung Kidul, yang saya kunjungi beberapa bulan lalu. 

Teringat saat membeli beberapa toples walang goreng di sebuah toko pusat oleh-oleh disana, persis seperti paket dari sahabat itu. 

Begini ceritanya. Saat itu ada keperluan survei lokasi untuk tagging koordinat (GPS) lokasi-lokasi pariwisata di Gunung Kidul dan sekitarnya. Berempat dengan rekan-rekan, kami berangkat menggunakan mobil milik teman dengan tujuan ke beberapa lokasi wisata di salah satu kabupaten di Yogyakarta itu.

Kami sangat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Di kanan kiri nampak kawasan hutan yang menghijau. Apalagi setelah melewati kawasan hutan Wanagama, sebuah hutan lindung buatan yang ditumbuhi tanaman keras, sangat menyejukkan. Terasa kontras sekali dengan image Gunung Kidul yang melekat selama ini sebagai kawasan tandus, kering dan selalu krisis air. 

“Kalau daerah yang kering dan tandus itu, di kawasan Gunung Kidul arah Selatan Mbak, yang menuju ke pantai-pantai wisata Baron, Kukup, Sadeng dan lain-lain,” jelas rekanku yang asli Yogyakarta menjawab pertanyaan rekan lain yang baru pertama kalinya ke daerah Gunung Kidul.

Teringat semasa kuliah di Yogyakarta dulu, beberapa kali saya mengunjungi obyek wisata di pantai selatan itu. Saya lihat wilayah selatan Gunung Kidul merupakan kawasan perbukitan karst atau kapur yang banyak terdapat goa-goa alam. Tanaman pohon jati banyak dijumpai di daerah itu. 

Kondisi itu tidak memungkinkan untuk budidaya pertanian karena kondisi lahan kurang subur. Dampaknya banyak warga yang mencari penghasilan alternatif, salah satunya adalah mencari walang untuk dijual. 

Walang banyak ditemui di pohon jati, mlanding (petai Cina), lamtoro, akasia, turi, tanaman jagung, ketela dan lain-lain. Bagi warga Gunung Kidul sendiri, belalang kayu adalah makanan yang biasa menjadi lauk-pauk sehari-hari, bukan camilan lagi. 

Serangga ini diolah dengan cara sederhana yakni digoreng, dibacem ataupun hanya dibakar saja.

Kembali ke laptop, ke cerita di atas. Setelah ngetagg beberapa tempat, pada sore harinya, kami tiba di Gua Pindul, salah satu obyek wisata baru di Gunung Kidul. Seperti laiknya obyek wisata umumnya banyak yang menjual makanan dan minuman. 

Namun sayangnya karena hari telah sore beberapa penjual sudah tutup. Khususnya penjual walang goreng. Di meja-meja kayu sederhana yang berderet di pinggiran jalan hanya ada tulisan ‘Jual Walang Goreng’ namun penjual dan walang jualannya sudah tak nampak. 

Teman saya bilang di jalan nanti banyak toko-toko oleh-oleh yang menjual walang goreng. 
 
Walang goreng dijual di toko pusat oleh-oleh bersama menu camilan lainnya. (Foto dokumen pribadi)


Akhirnya saat di jalan Karangmojo – Wonosari, ketemulah sebuah toko pusat oleh-oleh. Senang karena keinginan makan walang akan terwujud. Tokonya lumayan ramai meski hari beranjak senja. 

Toples-toples walang goreng dan bacem berderet di rak bersama jenis camilan lainnya. Kemasannya apik-apik, dan ini menambah nilai jual walang sendiri. Kami lalu membeli beberapa toples. Satu toples berisi sekitar 30-an ekor walang, dipatok harga Rp. 35.000,- Murah atau mahal yah? 

Saya mencoba membayangkan, seandainya mencari sendiri walang sebanyak itu, pasti butuh waktu seharian. Itupun kalau mujur, kalau apes yaaa bisa berhari-hari. Hehehe. Saya perhatikan walang goreng itu warnanya agak kehitaman dan kering. Kering karena jenis goreng, kalau walang bacem agak basah. 

Lumayan besar-besar ukurannya. Suthang atau kaki belakangnya tinggal yang bagian paha. Bagian kaki sudah dipotong, dibuang. Sayap juga sudah tak ada. Bagian perut sudah kosong, karena jeroan, usus, dan kotorannya sudah dibuang. 

Akhirnya makanlah kami sepuasnya. Saya terakhir kali makan walang di masa kecil, itupun hanya saya bakar dengan bumbu garam. Iseng-iseng saja kalau pas mencari kayu bakar ke hutan di pinggiran desa.


Bentuk asli walang goreng (Foto dokumen pribadi)


Namun bagi teman-teman yang mau mencoba makanan ini, berhati-hatilah karena dapat menimbulkan alergi. Dampak alergi ditandai dengan gatal-gatal di kulit. Bisa di tangan, tubuh maupun muka. 

Tapi menurut si penjualnya waktu itu, jika terkena gejala gatal-gatal kita diminta untuk minum kopi hitam diseduh tanpa gula. Cara ini katanya manjur. Boleh dicoba deh. Kalau saya tak alergi makan walang, mungkin style perut kampung jadi sudah familiar dengan menu asli kampung ini. Hehehee… 

Oya, menu walang ini sudah ada yang diolah menjadi menu yang keren dan dikemas apik. Misalnya dibuat menjadi nugget. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Ridho Andika Putra. 

Ridho mengolah belalang menjadi nugget. Nugget ini bisa dikonsumsi oleh anak-anak hingga orang dewasa sebagai lauk maupun camilan. Lebih lengkap baca artikel Mau Cicip Nugget Belalang yang Gurih Kaya Protein?

Bentuk nugget mungkin lebih mudah diterima oleh banyak orang, karena saat memakannya tidak teringat bentuk aslinya. 

“Agak ngerii dan gimanaaa getu, kalau makan masih berbentuk walang,” komentar temanku.

Fakta menarik lagi adalah soal kandungan gizi walang. Menurut penelitian ternyata kandungan protein walang goreng dalam kondisi kering mencapai 60 persen, sedangkan pada kondisi basah mencapai 40 persen. 

Ini berarti proteinnya lebih tinggi dari udang windu, yang selama ini dikenal dengan kandungan tinggi protein. Mengindikasikan juga bahwa menu walang tidak beracun dan berbahaya untuk dikonsumsi.

Sedangkan kadar protein setelah diolah menjadi tepung, ada perbedaan nyata antara kadar protein tepung belalang kayu dan tepung udang windu, di mana protein tepung belalang kayu lebih tinggi dibanding tepung udang windu dengan kadar masing-masing 17,922 dan 9,846 persen. Informasi lengkap baca Protein Belalang Lebih Tinggi Dari Udang.”


1373615405718990852 


Tak kalah pentingnya untuk diketahui bahwa walang mempunyai kadar kolesterol dan lemak yang sangat rendah. 

Jadi kita tidak perlu khawatir akan terkena sakit jantung apabila mengkonsumsinya. Demikianlah teman-teman cerita si Bolang selesai. Selamat mencoba menu walang, sampai jumpa di edisi kuliner berikutnya.

@bozzmadyang