In Goyang Lidah

Tiwul Cabuk Khas Wonogiren

Nasi tiwul dengan cabuk, telur ayam rebus dan gudangan atau urap khas Wonogiren. (foto pribadi)
Ketika bicara soal kuliner apalagi kalau tidak membahas soal rasa, taste spesifik makanan yang bikin lidah perasa berdecap-decap. Decap kenikmatan rasa yang membawa rindu kala makanan itu habis tak bersisa. Genre khas, tradisional, pribumi berpadu dalam nilai sensasi ‘sesuatu’ yang dihadirkan kembali suatu saat. Apalagi kalau jenis makanan itu susah didapat kecuali di daerah tempat produksinya. Ngangenin pastinya. 
Dalil diatas berlaku juga buat menu kuliner tradisional satu ini. Nasi Tiwul Cabuk Wonogiren. Biar mudah penyebutannya, saya singkat Tibuk alias Tiwul Cabuk. Menu yang cukup dikenal karena nuansa kental pribumi, berkarakter tradisi namun mempunyai taste special nan berbeda, khas kedaerahannya. Menu ini merupakan perpaduan antara nasi tiwul dan cabuk produk original penduduk Wonogiren (’e’ dibaca seperti dalam kata ‘keren’). Wonogiren adalah sebutan ‘gaul’ untuk Kabupaten Wonogiri. 

Wonogiri sendiri terkenal dengan sebutan Kota Gaplek, karena banyak produksi gaplek di kota ini. Gaplek adalah bahan dasar untuk membuat nasi tiwul yang disebut juga pohung atau singkong atau ubi ketela pohon yang telah dikeringkan. Pohungnya adalah pilihan dan telah kering sehingga tiwul tidak apek (beraroma tak sedap). Tak heran nasi tiwul tersohor kelegitannya sampai ke mancanegara. Konon mantan Presiden Soeharto (alm) sangat menyukai nasi tiwul ini. Maklum saat masa kecil, beliau sempat bermukim di salah satu daerah bagian selatan kota Wonogiri ini. Oleh karena itu, menu ini sangat layak masuk referensi kuliner dalam Indonesia Travel, sebagai menu yang memperkaya khasanah kuliner di tanah air dan bercita rasa khas nusantara. Mari coba kita rasakan, kayak apa sih pesona menu ini, dimana letak passion Wonogirennya. 

13774314422134571912
Performa nasi tiwul kecoklatan sedangkan cabuk warnanya hitam legam. (foto pribadi)

Coba kita cicipin nasi Tibuk ini. Performa nasi tiwul jika diamati berbentuk gumpalan-gumpalan bulir-bulir kecil. Bulir ini terbentuk saat pengolahan tepung gaplek atau disebut kabluk yang dicampur air lalu diuleni (diremas-remas terus menerus) hingga menjadi bulir-bulir kecil tiwul. Antar bulir itu menyatu satu sama lainnya. Agak liat. Jika sudah matang warnanya kuning tua kecoklatan dan ada yang hitam. Kabluk tadi memungkinkan terjadinya ragam tekstur tiwul, ada yang sedikit kasar, ada juga yang lebih halus, dan agak lengket. Sementara sebagai sparing partner makan nasi tiwul adalah cabuk. Kolaborasi keduanya jadilah Tibuk.

Cabuk adalah jenis menu dari biji tanaman wijen yang sangat khas Wonogiren. Diolah sedemikian rupa hingga perwujudannyanya lembek meski agak kering juga. Berwarna hitam legam bertekstur halus meski tidak lembut, karena faktor butiran biji wijennya. Rasa dan aroma khas berasa agak pedas dan getir. Dipengaruhi oleh bumbunya diantaranya cabe, bawang putih, gula jawa, daun kemangi muda, parutan kelapa lalu dibungkus daun pisang hingga berbentuk gulungan.


13774315272028827640
Cabuk warnanya hitam dalam gulungan daun pisang. (foto pribadi)

Cara makan Tibuk lebih nikmat tidak menggunakan sendok, tapi langsung menggunakan tangan. Satu ‘pulukan’ kecil kumpulan jari-jari tangan kita ditambah satu ‘dulitan’ cabuk langsung sekali suap. Satu suapan dan kunyahan pertama akan terasa kenyal nasi tiwulnya. Kunyahan berikutnya rasa bercampur dengan pedas agak sedikit getir dari cabuknya. Wuiiihhh… mata jadi mengerjab-ngerjab nikmat. Apalagi tibuk ditaruh di alas daun jati. Aroma daun jatinya turut ‘berkolaborasi’ rasa. Boleh juga ditambahin ‘jangan lombok ijo’ (sayur cabe hijau) dengan sedikit kuah. Kuah sedikit saja, asal membasahi tiwulnya. Bagi yang terbiasa makan tiwul akan merasakan sensasi jaman baheula. Bayangkan tibuk disajikan dalam bungkusan daun jati atau daun pisang, mantap dan maknyuuss !!

Untuk memperoleh tibuk, di beberapa lokasi pasar di Wonogiri tersedia. Kita bisa beli sesuai dengan ragam pilihan. Misalnya nasi tiwul campur cabuk, ikan teri, mie glondong (pentil), gudangan (urap) dan lain-lain. Sementara kalau di supermarket di kota, ada yang menyediakan nasi tiwul dalam bentuk bahan mentah. Di acara-acara tertentu seperti Jakarta Fair kemarin, bahan tiwul ini juga dijual dalam kemasan kantong plastik yang cantik. 

13774317382142407472
Nasi tiwul disajikan lengkap dengan cabuk, mie glondong, gudangan atau urap, peyek kacang dan teri, ikan asin. (foto pribadi)

Untuk diketahui, sedikit sejarah nasi tiwul, pada awalnya fungsi nasi tiwul sebagai makanan pokok pengganti nasi putih (beras padi). Maklum dulu beras mahal, sementara geologi tanah di wilayah Wonogiri sulit untuk bertani padi, tapi lebih mudah untuk berkebun dan menanam siongkong. 

Dalam perkembangannya seiring kehidupan masyarakat yang lebih baik, menu ini sudah bergeser posisinya bukan sebagai makanan pokok lagi, namun menjadi salah satu menu yang dikangenin bagi yang pernah mengkonsumsinya. Termasuk saya. Kalau pas pulang kampung, menu nasi tiwul plus cabuk, sayur lombok (cabe) ijo, gudangan (urap), tempe benguk sudah menjadi menu yang harus dicicipin lagi. ‘Gairah merindu’ kampung kelahiran yang sesaat sirna di kota, kembali kental terasa. Saya pikir, teman-teman wajib mencoba menu ‘Tibuk’ ini. Minat?

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Featured Post

Saat Tau Makanannya Gak Enak, Food Blogger Mesti Motret, Gimana Ya?

SEBAGAI Food Blogger kecuali sering icip-icip makanan dan minuman beraneka rupa, dalam   menuliskannya tentu sangat butuh foto-foto...

Google+ Followers

Viva LOG