‘Odeng’ Menu Korea Kompetitor Otak-otak


Ini dia Odengnya dah siaap. (Dokpri)


Terus terang, aku baru pertama kali ini mencicipi menu ‘Odeng’ yang aslinya dari Korea ini.  (ndesooo banget yak). Minggu, 30 November 2014 siang tadi, kali pertama aku beli di ajang Jakarta Street Food Festival  di La Piazza, Kelapa Gading, Jakarta. Melihat sajian makanan ini di salah satu booth, mengundang aku bertanya. Kata penjualnya, Odeng semacam otak-otak yang umum dikenal. Tapi bedanya kalau otak-otak bahan ikannya adalah tenggiri, sedangkan kalau Odeng adalah ikan tuna. 

“Ikan tunanya yang putih,” kata mbak penjual.

Okelah, saya pikir ga ada salahnya mencoba. Lantas aku beli satu porsi Odeng seharga Rp. 30.000,- Tak menunggu lama karena memang sudah masak. Aku lihat satu porsi terdiri dari Odeng sebanyak dua buah. Odeng ditusuk pakai ‘tusuk sate’. Bentuknya memanjang lumayan besar. Sekilas malah mirip dadar gulung tapi beda warna. Aku meminta untuk dibungkus. Maksud hati mau dibawa pulang soalnya aku sudah kenyang setelah makan menu lainnya sebelumnya. Sampai di rumah, kutaruh Odeng dalam piring dan kuahnya dalam mangkok.


Odeng seporsi isi dua tusuk ini. (Dokpri)

Odeng lunak, empuk dan sedap. (Dokpri)

Aku coba cicipin. Empuk dan kenyal aroma ikan tunanya terasa di lidah. Tak terlalu susah untuk menikmati rasanya. Apalagi ada semangkuk kecil kuah beraroma ikan juga. Kuah hangat disertai sayuran, kayaknya daun bawang deh. Enak dan menghangatkan saat kuah itu meluncur melalui tenggorakan. Swedapppnyaaa. 

Kuahnya hangat dan segar. (Dokpri)


Tak ada kekurangan soal rasa di menu Odeng bagiku. Cita rasanya tidak membuat kaget, mungkin karena aku pecinta menu sea food. Jadi soal makan ikan tuna, tidak kaget lagi hehee. Yang menjadi perhatianku kecuali kuahnya adalah tekstur Odeng yang lunak dan familiar di mulut. Maklum khan menu Asia juga yaa. Wah jangan-jangan ntar bisa nyaingin menu otak-otak yaaa. By the way, aku pikir, pasti setiap menu ada penggemarnya tersendiri.  Oke. Nikmati hidup dengan ragam kuliner. #SalamKuliner

Nikmat dan Gurih Nasi Cakalang di Jakarta Street Food Festival (JSFF) di La Piazza

Nasi ayam teri sambal ijo. Maknyoosss. (Dokpri)


Datang di hari terakhir pagelaran Jakarta Street Food Festival (JSFF) di La Piazza, Kelapa Gading, Jakarta, aku manfaatkan untuk mencicipi menu nasi cakalang. Menu nusantara yang ada di salah satu booth JSFF. Itung-itung sekalian makan siang. Maklum dari pagi belum sarapan, hanya minum teh. Maka sengaja aku datang jam 12.30 wib. Tempat masih belum ramai, cuaca agak panas saat aku tiba di lokasi. Wajar saja meja-meja bagian tengah belum banyak terisi. Kebanyakan pada duduk di seberangnya yang ada atap plastik. Booth juga belum lama buka, biasanya hari Minggu buka jam 11.00 wib.

Aku samperin booth Chicken Story. Bungkusan berisi nasi dan lauknya dipajang di depan. Berderet mengundang selera. Bungkusanya pakai daun pisang. sementara bagian tengah nampak beraneka lauk pauk yang mengundang selera. Semua dikemas kecil-kecil. Ada tempe, teri, udang, cumi, bihun, bakso, kentang dan masih banyak lagi. Harganya berkisar Rp.5000 – Rp. 7000,- per kemasannya. Sementara nasi ayam terinya dijual dengan harga Rp. 21.000. Ada beberapa pilihan lauk dalam setiap bungkusnya. Aku sih pilih ayam teri. Suka aja terinya. heheee



Saatnya Mencicipi Nasi Cakalang

Akhirnya kubawa satu paket nasi cakalang terdiri dari nasi ayam teri dan krupuk dalam plastik. Aku membeli lauk tambahan terpisah, yakni sotong dan tempe. Lalu aku duduk di sebuah meja, aku mulai membuka bungkusan nasi dari daun pisangnya.

Satu paket. Krupuk dan nasi cakalang. Lauk sotongnya tambahan. (Dokpri)

 Nasi putih bercampur dengan daging ayam yang disuwir-suwir plus terinya ada paling atas. Aromanya wangi. Ada sambal ijonya juga. Suapan pertama rasanya gurih-gurih agak pedas nasinya, bercampur rasa asin dari khas teri. Demikian pula saat mengicipi sotong, asin dan empuk, aroma amisnya hanya tercium sedikit. Lumayanlah rasanya tak mengecewakan.



Aku pikir cukup beruntung, karena terkadang ada nasi yang dibungkus daun dengan aneka lauk yang terkadang ada yang basi. Jadi aromanya menjadi tak sedap. namun nasi cakalang kali ini benar-benar fresh. Aku merasakan kenikmatan nan berselera dari nasi yang gurih dan sedap. Untuk lauk sih, seperti umumnya. Bagusnya banyak pilihan lauk tambahannya. Jika ada kesempatan lain, aku masih mau mencoba nasi ini. Cukup mengenyangkan meski porsi dalam satu bungkus tak begitu banyak. 

Oke. Itulah rasa gurih dan nikmat nasi cakalang di hajatan Jakarta Street Food Festival (JSFF) di La Piazza, Kelapa Gading, Jakarta. Terima kasih untuk La Piazza yang telah menggelar acara ‘pesta’ kuliner. Cocok untuk para pecinta kuliner khususnya di Ibukota dan sekitarnya. Kali lain pengen dunk kuliner dari Indonesia Timur. hehee. #SalamKuliner




Menu Tamaki ala Jepang, Nikmat Rasanya ‘Sesuatu’


Tamaki-nya belepotan, tadi bawanya terguncang-guncang sih hehee. (Foto pribadi)

Pada Minggu 30 November 2014 siang, kembali saya datang untuk kedua kalinya di acara Jakarta Street Food Festival (JSFF), La Piazza Kelapa Gading Jakarta. Kali ini saya penasaran mencoba menu ala Jepang, Tamaki. Sebelumnya sudah mencoba menu favorit Modzilla, saat kunjungan pertama bareng teman-teman. Rasa Modzilla enak dan gurih. Makanya kesempatan di hari terakhir acara JSFF ini kunikmati dengan seporsi Tamaki. Soalnya belum pernah coba heheee. 

Bentuk Tamaki  unik menurut saya. Mungil dan unyu hehee. Bahan dasarnya tetap nasi dong, secara Jepang makanan pokoknya nasi juga khan. Nasinya tentu sudah bercampur bumbu. Terus di dalamnya ada daging kepiting. Diiris memanjang. Putih warna dagingnya dengan kulit kemerahan. 

 
Ada daging kepiting dan nasinya dibalut rumput laut. Yummmmiii (Foto pribadi)


Uniknya lagi gulungan nasi itu dibalut dengan rumput laut berwarna hijau tua. Tentu saja menambah aroma rasa gurihnya. Ukurannya termasuk sedang, pas sekali lahap kalau bagi saya heheee. Eh ada bumbu sambal cabe kering yang sudah ditumbuk halus. Bumbu ini hanya pelengkap citarasa jika anda penyuka aroma pedas. 

Bumbu cabe halus. (Foto pribadi)

Satu porsi di arena JSFF dijual seharga Rp. 17.000. Isinya 6 gulung. Jangan kemaruk yaaa. Meski enam  gulung kalau sudah masuk perut, sudah sangat mengenyangkan. Seperti makan seporsi nasi dengan lauknya heheee. Sooo beli seporsi cukuplah kalau buat sendiri. Tapi kalau mau lebih, yaaa silakan hehee. 

Wis pokoknya layak buat dicicipin dweh. Tapi kalau ajang JSFF ini kelar hari ini, nyari dimana yak? Di Jakarta mestinya banyak yaaa…Khan banyak resto ala Jepangnya. Tadi lupa nanyain sama penjualnya heheee. Atau mungkin di La Piazza ada yaa?

Oke segitu dulu. #SalamKuliner
Lagi masak beberapa pesanan. (Foto pribadi)

Satu porsi isi enam. Tapi sudah lumayan membuat kenyang. (Foto pribadi)




Menikmati Kenyal dan Nendangnya Bakmi Karet Krekot




RABU 26 November 2014, aku berkunjung bareng teman-teman Blogger Kompasianer Penggila Kuliner (KPK) Kompasiana yang menggelar aksi Gerebek ke Dok 88 La Piazza Kelapa Gading, Jakarta. Ajang Jakarta Street Food Festival (JSFF) menjadi tujuannya.

Wah tempatnya ramai, desainnya desain stret food khas kota di Asia. Langsung saja aku ‘ngider’ alias keliling di area yang lumayan luas itu. Jalan kesana kemari, bingung juga habisnya jenis makanannya banyak. Maklum lebih dari 30an booth berpartisipasi di acara tahunan La Piazza itu. Keren juga sih.

Eh aku baru ingat, aku khan demen olahan menu mie pangsit. Soo, langsung ajah aku nyari-nyari menu mie dan pangsit rebus. Akhirnya di ujung kiri berseberangan dengan booth Sate Blora Cirebon dan Sate Padang Pariaman aku menemukan boot Bakmie. Lihat foto di atas. Itulah boothnya.

Langsung ajah aku pesan mie pangsit yang ternyata sehari-hari buka di kawasan Samanhudi. Menunggu sebentar, jadilah Bakmi Karet Krekot. Membayar seharga Rp. 37 ribu dengan ‘duit-duitan’. Yaaa duit-duitan, jadi alat pembayaran yang sah di area JSFF ini adalah uang kertas yang bisa ditukar dengan uang asli di Kasir. Tempatnya di depan saat pintu masuk di depan dan pintu masuk di samping.

1417172321264599197
Duit-duitan alat pembayaran yang sah di Jakarta Street Food Festival. (Foto Ganendra)
“Cik tambahin kuahnya,” pinta aku pada Encik penjualnya.

“Boleh,” jawabnya ramah.

Aku langsung duduk di meja tak jauh dari situ. Jadi ada seporsi mie dan kuah kaldu ayam yang ditempatkan terpisah. Aku lihat mienya berbeda dengan mie umumnya di abang-abang mie ayam itu. Jelas dunk, ini beda kelas. Mienya lebih gede dan bertekstur halus, licin, mengkilat. bentuknya tidak pipih namun gilig. Kalau dipencet terasa kenyal ‘membal’. Sedikit keras dan liat/ padat, pertanda kandungan terigunya padat. Terus ada 2 buah pangsit. Bentuknya gulung seperti umumnya. Diatas mie ditaburi potongan dadu daging ayam, daun sawi dan daun bawang.
1417172443750209378
Bakmi Ayam Karet Krekot plus pangsit. (Foto ganendra)
Saatnya menikmati. Kulihat ada toping daging ayam yang dipotong bentuk dadu, kecil-kecil. Tentu tak lupa ada daun bawangnya. Kuaduk-aduk dengan sumpit agar agar bumbunya menyatu. Eh minyaknya sedikit. Jadi mie-nya ga ‘klomoh‘ (istilah Jawa), karena over minyak. Setelah merasa adukan merata, ditandai dengan warna yang tambah kecolatan tapi bening.

Satu suapan mie pertama. Mienya kenyal. Benar-benar kenyal terasa agak ‘melawan’ saat digigit. Rasanya asin dikit, segar dan enak. Suapan kedua aku coba pangsitnya, harum dan terasa daging dan sayurannya. Bercampur dengan kuah kaldu yang wangi dan sebagian kucampur, rasanya menjadi empuk-empuk lezat. Kuah kaldunya hangat dan khas beraroma daging ayam.

“Hmmm cocoklah untuk menghangatkan perut,” gumamku.

Tak butuh waktu lama, seporsi Mie Karet Krekot itupun habis. Hangat kuahnya menjadi penutupnya. Kekenyalan mie yang berbeda dan licin yang memudahkan untuk ‘disruput’ cukup membuat ‘nendang’ perut. Rasanya kalau dua porsi aku masih kuat ngabisin deh. Secara lembut dan lezat getu heheee. Apa kekurangan menu Bakmi Karet Krekot ini? Buat saya kurangnya hanya satu. Satu porsi ukurannya sedikit hahaaa… kurang banyak hehee.

Oke segitu ajah. Bagi penggemar menu bakmi, boleh deh Bakmi Karet Krekot ini menjadi pilihan. Datang saja ke Jakarta Street Food Festival yang masih berlangsung hingga Minggu 30 November 2014 mendatang. Oiyaaa, kalau mau lihat kemeriahan JSSF di La Piazza ini silakan lihat video Youtubenya DISINI. Video  diproduksi oleh Sentra Kelapa gading. See uuu! #SalamKenyang

@rahabganendra

Artikel ini ditayangkan juga di Akun Kompasiana milik Penulis dengan judul = Menikmati Kenyal dan Nendangnya Bakmi Karet Krekot
1417172270300517942
Makan kenyang, lezat dan nikmat di Jakarta Street Food Festival. (Dokpri)
1417171799347257631
Sumber : http://www.malkelapagading.com

Nikmatnya Kuliner Asia ala Jakarta Street Food Festival




TAK terasa aksi KPK (Kompasianer Penggila Kuliner) Gerebek memasuki angka 7. Oiyaa, untuk diketahui KPK sendiri adalah wadah bagi para Blogger yang suka menulis soal tema kuliner. KPK Gerebek 7 ini artinya tim elit pasukan KPK telah ‘mencokok’ 7 lokasi penyedia menu kuliner. Dari area Jakarta, Bekasi hingga Bogor. Target ke 7 KPK Gerebek kali ini adalah di La Piazza, Sentra Kelapa Gading, Jakarta.   Lalu apa yang digerebek?

Kali ini ‘korban’nya adalah menu-menu yang tersedia di gelaran acara Jakarta Street Food Festival. Yaa, sebuah acara festival kuliner yang kedua kalinya digelar di La Piazza tepatnya di Dok 88. Oh yaa, di lokasi ini pada September 2014 lalu menjadi target KPK gerebek untuk pertama kalinya dengan tajuk acara BBQ Festival. Menurut Mbak Indri, Public Relation La Piazza, festival kuliner merupakan agenda tahunan di La Piazza. Maklum orang-orang di kawasan itu suka kuliner alias suka makan. Tak heran La Piazza menngelar acara kuliner yang dikemas festival kuliner, seperti Kuliner Tempoe Doeloe, Arabian, BBQ Festival dan Jakarta Street Food Festival

1417121168493240940
Ok. Kembali ke cerita KPK Gerebeknya. Saya jam 17.00 wib lewat dikit, sudah sampai di lokasi gerebek. Sengaja saya datang lebih awal, karena disamping mesti mengkoordinir teman-teman, juga karena tak mau terjebak macet. Tahu dunk kondisi Jakarta kalau udah lewat jam 17.00 wib atau tepatnya bubaran orang kerja, maceeettt udah pasti. Laa gimana ga macet wong orang kerja pulangnya berbarengan, dan langsung memenuhi jalan yang semakin tak menampung arus lalu lintas.

Artinya saya masih punya waktu 1,5 jam dari jadwal gerebek yang rencananya dimulai kumpul jam 18.30 wib. Nah, waktu senggang itu kugunakan untuk berkeliling di area yang lumayan luas itu. Beragam menu kuliner dipajang dengan konsep jualan kaki lima. Namun ditempatkan dalam booth yang rapi, artistik dan sedap dipandang. Nuansa street food ala kota-kota besar di Asia terasa banget. Kebersihan tempat nampak sekali terjaga. Wah menu-menunya ada menu nusantara dan menu dari negara tetangga khususnya Asia. Ada dari Jepang, Korea, Hongkong dan Tiongkok. 

Apa saja menu kuliner di Jakarta Street Food Festival? 

Banyak banget menunya. Tercatat lebih dari 30an booth menyediakan menu kuliner beragam. Menu nusantaranya meliputi Bebek Goreng (menu kesukaanku), Sate Padang Pariaman, Sate Blora Cirebon (Aneh yaa namanya), Mie Jawa, Bakso Raja, Martabak, Aneka Gorengan (bakwan jagung, sosis, tempe mendoan, bala-bala) dan lain-lain. 


14171225741805845430
1417122599371974189


Sementara menu Asia tercatat ada Hot Star, Auntie Anne, Donburi&Udon by Kenji Sushi, Classic Pizza Cone, Shao Kao, Thai Go Go, Kimchi Heaven, Thai Alley. Ada juga Food Truck yakni makanan yang dijual di atas mobil. Ada Kopi Oey Mobil Comby. Eh ada juga dari Yayasan Budha Tzuci yang menyajikan Vegetarian Food.


14171214591680153809
1417121791153817208
1417121868602759510
14171219051083223102
14171235411596474643
1417123288690435185
1417123308235063083

Saya sendiri bingung juga milih menu yang akan dicicipi. Lama berkeliling sambil menunggu anggota pasukan gerebek lainnya, akhirnya aku milih mencoba Mie Karet Krekot. Namanya unik yaaa? Nah Saya milih Mie Karet Krekot dengan pangsit. Saya khan penggemar pangsit, baik basah maupun kering. hehehee. Dengan memakai ‘uang-uangan’ harganya Rp. 37.000. Rasanya? Gurih segar kuahnya. 

Sengaja saya minta tambah kuah, karena memang suka. Hangat terasa di kerongkongan dan perut sangat cocok di hari yang mendung saat itu. Tekstur mie nya halus berbentuk gilig, kenyal dan lebih keras dari mie umumnya. Saat digigit, mie itu terasa ‘melawan’, maklum kenyal persis karet. Mungkin itu yang melatarbelakangi namanya, Mie Karet Krekot. Heheheee. Bintang 4 dari 5 bintang soal rasanya, menurutku.

1417121363240983823
14171213831889244610
Gerebek Aneka Menu dengan ‘Duit-Duitan’

Tak terasa hari beranjak gelap. Teman-teman KPK gerebek mulai datang. Udin, Tigor, Bang Nur, Bunda Siti. Sementara Fitri sama Pak Gun terjebak macet. Dan dua anggota lainnya ijin tak jadi datang karena mendadak berhalangan. Jadilah kami bertujuh menikmati menu kuliner Asia. Pilihanpun beda-beda. Sengaja agar kami bisa saling mencicipi menu lainnya. ‘Duit-Duitan’ jatah gerebek Rp. 100.000 per personil lumayan cukup untuk menuntaskan hasrat mencicipi sebanyak rupa menu yang dimau. 

141712125128460056

Setelah berpencar ‘berburu’ menu, hasilnya ditaruh di meja yang ramai oleh pengunjung lain. Saya membeli Bakso Raja, Bebek Paha Goreng, Sushi Modzilla, Udang Kanci, Aneka Gorengan. Yang lain membeli Sate Padang, Nasi Goreng, Ayam Daun Pandan, Nasi bungkus beserta ragam lauknya, Thai Go Go, Hong Tang, Ice Cream dan lain-lain. Meja pun penuh. Sambil mencicipi makanan kami sharing-sharing soal rasa dan juga acara ditemani Mbak Indri.

Bagi saya pribadi saat mencicipi Bebek Goreng, terkesan dengan sambalnya. Ada tiga macam sambal yang semuanya dengan kepedasan yang pas di lidah saya. Maklum saya penggemar menu pedas bersambal. Sementara bebeknya sendiri ukurannya sedang, bebek kampong. Beda dengan bebek Hainan yang ukurannya agak besar. namun anehnya dagingnya empuk hasil dari pengolahan yang sempurna. Bumbunya meresap. Hasilnya satu paha bebek goreng masuk ke perut dengan indahnya heheee. Nikmat dan tepat mengisi perut saat mulai lapar menyerang. 

1417122974355128337
1417122889796819425
1417122916182866382
1417123730550439114

Menu ketiga yang saya coba adalah Sushi Modzilla yang saya beli di booth Don Buri & Udon Kenji Sushi. Dari bahan ikan dengan bumbu agak asam. Rasanya unik. Benar-benar unik, empuk. Agak meringis saat pertama kali menyentuh lidah. Maklum jarang-jarang saya makan model beginian. Cita rasa uniknya juga terasa di menu udang kancinya. Bentuknya juga mirip segi empat berwarna putih. Sedapplaaah. Harganya? Rp. 17.000 dapat satu porsi isi 5 biji. Lumayanlah.

Saking asyiknya ngobrol, tak terasa malam makin larut. Jam menunjukkan hampir pukul 21.00 wib. Artinya sejam lagi festival akan tutup. Akhirnya kami sepakat untuk pulang. Maklum tempat tinggalnya lumayan jauh, ada yang dari tangerang, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Bekasi dan lain-lain. Lalu berpamitanlah kami pada Mbak Indri dan berterima kasih. Perut kenyang nyaris mblenger kebanyakan nafsu icip-icip heheee. Yang jelas menu kuliner Asia ala Jakarta Street Food Festival sangat layak dicoba. Nah, bagi anda yang pengen gerebek menu-menunya, datang saja ke Jakarta Street Food Festival yang akan ditutup pada Minggu 30 November 2014 mendatang. Masih 3 hari lagi!
Oke sekian info KPK Gerebek 7. Sampai jumpa di KPK Gerebek berikutnya.

#‎JSFFLpz‬ #SalamLahab #SalamKenyang!!!
@rahabganendra


14171230161106862235

1417123109944034031
14171236332106744030


14171236142074882292
14171231261867739710

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di Acara Kompasianival 2014



SERU dan heboh sebagai wujud kegembiraan ada di booth KPK (Kompasianer Penggila Kuliner) Kompasiana di acara Kompasianival 2014. KPK yang baru terbentuk pada September 2014 ini menjadi salah satu pengisi ruang ‘pamer’ di dalam Gedung Sasono Utomo, TMII Jakarta yang digelar pada Sabtu 22 November 2014. Sahabat-sahabat yang datang dari dalam kota dan luar kota tumplek bleg di booth yang dapat ‘jatah’ 3 x 3 meter. Tentu tak cukup buat menampung pasukan khususnya emak-emak yang juga membawa beragam makanan dari daerahnya masing-masing.

Satu meja pun full tank diisi makanan beraneka ragam makanan khas daerah. Saya bawa dua kotak Lapis Talas Bogor, teman lain ada yang membawa Mochi Cianjur, Ayas, Jobong, Madu Mongso Gresik, Brem Madiun, Tahu Sutra, Kue Ketawa, Enting-Enting Madiun, Cireng Pedas Bandung, Kerupuk Bangka, Lapis Legit Istimewa (Rumbutten Speecok) dan makanan nusantara paling jauh adalah Bika dan Bolu Meranti yang saya sebut Bika Bolu Samosir buah tangan dari Fitri Manalu! Eh ada juga menu khas Makassar Jalangkote dan Es Pisang Ijooo made in Bunda Siti Rabiah! Manstaaf dan tercatat menu paling laris. Bos Kompasiana Kang Pepih Nugraha ajah, merem melek setelah nyicipin. Saking nikmatnya. heheee.. 


1416819895905139571
14168199471259860590
1416820000588593328
1416820043500769038
14168200171641487

Ada juga makanan dari luar negeri, eh maksudnya ala luar negeri tapi dibuat di dalam negeri hehee, Coklat Magyarul Hungary yang dibawa Mbah Indah Noing, dan ditambah Coklat Belgia hadiah juara menulis untuk saya dari Mbak Sabrina dan Luc dari Sweety & Salty. Wiss pokoknya seru di booth KPK. 

Pagi di TMII
 
Sebenarnya aku dimintain tolong jemput Mbak Avi sama Mbak Nur yang naik kereta dari Surabaya. Mereka rencananya turun di Stasiun Jatinegara. Namun karena waktunya mepet, ga sempat untuk menjemputnya. Mereka memutuskan naik taksi. Syukurlah datang sebelum acara dimulai. 

Jam Seiko jadulku menunjukkan angka 07.15 WIB ketika sampai di parkiran Taman Mini Indonesia Indah. Kesibukan sana-sini sudah ramai. Langsung aku ke Booth KPK yang bersebelahan dengan Fiksiana Community (FC). Ga ada orang. Tak lama Mbak Wawa muncul, disusul kemudian Ella sambil bawa ‘perabotan’ untuk dekorasi Booth. Dekorasi maksudnya yaaa, pasang standing banner, tulisan, siapin kertas daftar makanan, foto kegiatan KPK. Ga perlu waktu lama selesai. Berikutnya datang Pak Sutiono yang memang sudah kukontak sebelumnya untuk bantu-bantu di Booth KPK. 

Seterusnya satu per satu anggota ‘pasukan’ KPK datang. Ada Mbak Avy, Mbak Nur dan temannya, Okti Li dan keluarga kecilnya, Oma Eni, Fie Andini dari Cibubur, Afriska, Indah Noing bareng si krucilnya bawa coklat Hungari. Sebelum tengah hari satu meja sudah terisi full makanan… sampai ga muat. Beberapa makanan malahan dieksodus-kan ke booth sebelah, Fiksiana Community. Yang lainnya terpaksa ditaruh di bawah dweh. heheee. 

1416820101249874276
1416820133152160527
14168201651874551713
1416820182563775194
1416820215504216223
Swedappnya Icip-Icip

Sebagai booth penyedia makanan gratis tentu saja menarik banyak pengunjung. Mulai dari sekedar icip-icip pengen nyoba rasanya maupun yang penasaran. Bahkan Bos Kompasiana Kang Pepih tak mau rugi #Eh tak mau ketinggalan turut menikmati es pisang ijonya made in Bunda Siti Rabiah. Makanan khas Makasar racikan Bunda ternyata maknyooosssss. Paling laris dicobain sekian banyak orang. Jalang kotenya pun demikian. Banyak yang nyomot. Senang semuanya pokoknya. Bunda yang berkegiatan mengajar dan demen nulis ini ternyata jago masak! Wah boleh buka restoran ala Makasar nampaknya heheee. 

Ada yang lebih heboh lagi. Emak-emak ternyata diam-diam di belakang mengupas buah-buahan, ada mangga, timun dan lain-lain. Cobek dan ulegan pun dikeluarin. Mereka mau bikin rujaaaak! 

Wah ini mah kesukaan saya. heheee. Langsung dah nyicipin rujak ala dadakan di booth KPK… nikmat dan pedaaasssssssss ternyata. Sebagian lagi dipajang di meja. Beberapa pengunjung mencicipinya, pada kepedasan. Cuman Mbak Yayat keknya yang ga kepedasan. Dia mampir di KPK saat sudah sore. Kelaparan kali yaaa abis wawancaranya sekian banyak booth, termasuk wawancara saya di KPK. heheeee…. 

1416820259713715979
14168202892015093049

Oh iyaaaa, rencananya sih di Booth KPK ada acara makan bareng setelah permainan atau games. Tapi ternyata susah menyesuaikan dengan kondisi lapangan tempat acara. Banyaknya acara nangkring, apalagi adanya figure fenomenal yang lagi disorot dan menanjak popularitasnya, Ahok, Kang Emil, dan Ganjar Pranowo. Siapa yang tidak kenal mereka. Para tokoh yang dianggap berpihak pada kepentingan rakyat. Saya sendiri seperti tahun sebelumnya, antusias kalo narasumbernya Ahok alias Basuki Tjahya Purnama yang sekarang sudah menjabat Gubernur DKI Jakarta.

14168205072002798642
14168205221654589535

Akhirnya apa hendak dikata, games urung diadakan dan makanan pun hampir ludes dinikmati para pengunjung. Hasilnya? Booth KPK nampaknya penyumbang besar sampah! Repotnya lagi panitia tidak menyiapkan bak sampah di booth sesuai pemberitahuan sebelumnya bahwa akan ada fasilitas tempat sampah. Jadilah kardus, plastik dan sebagainya menjadi tempat sampah sementara. Namun demikian yang jelas semua senang menikmatinya.

Beberapa Kompasianer tertarik bergabung di grup KPK, khususnya Jakarta. Saya menyarankan untuk join di Grup fesbuk KPK. Syaratnya mudah, seorang Kompasianer yang punya akun Kompasiana dan bersedia menulis reportase hasil gerebek. 

Sempat dikunjungi juga Kompasianer of The Year, Pak Tjiptadinata Efendi beserta istri bu Rosaline. Ada juga penulis dan pemilik penerbitan Peniti Media, Pakde Thamrin Sonata yang banyak mengomporin para penulis untuk menerbitkan buku. Hasilnya beragam ide berkaitan dengan kegiatan KPK muncul. Ide yang positif pastinya. heheee. Penulis kembaran lainnya Pak Thamrin Dahlan (Kembaran namanya aja maksudnya heheee) juga merespon positif keberadaan KPK ini. Menurutnya KPK sebuah komunitas yang sangat potensial untuk dikembangkan. 

“Wah KPK luar biasa, sudah rajin gerebek ke mana-mana, meski baru 2 bulanan dibentuk. Boleh suatu saat ikutan gerebek,” kata Kompasianer Pensiunan di Badan Narkotika Nasional ini. 

Hingga menjelang malam, booth diberesin seiring usainya acara. Semua perhatian berbalik fokus ke panggung utama berkaitan dengan pengumuman Kompasiana Awards. Saya masih di booth beres-beres bareng Mbak Avy, Mbak Nur dan teman Mbak Avy. Sekalian ngobrolin soal komunitas KPK. Hingga dari speaker di ruangan itu terdengar menyebutkan bahwa nama saya meraih penghargaan Best of Fiction. Seiring dengan itu, ponsel bordering, WA bunyi, SMS masuk… dari teman-teman yang di dalam ruangan sebelah. Isinya meminta saya ke ruangan sebelah dan menginformasikan terpilihnya saya. Tentu saya senang dan berbahagia. Ando, Fahmi, Mbak Avy, Mbak Nur dan beberapa teman lain mengucapkan selamat. Kami bergegas menuju panggung di sebelah. 

141682041286449686
14168205571580073804

Masih menggunakan kostum kebesaran KPK (benar-benar kebesaran karena ukurannya XXXL), saya naik ke panggung dan menerima Kompasiana Award dari Kang Pepih perwakilan Kompasiana. Terima kasih teman, sahabat Kompasianer dan juga Kompasiana.

We Eat We Write
#SalamFiksi
#SalamKenyang 

@rahabganendra

Artikel ini ditayangkan juga di Akun Kompasiana milik Penulis dengan judul = Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di Booth KPK Kompasianival 2014


 
14168204431800014409
14168204601425811745
1416834483144070590
Bareng Pakde Posma. (Dokpri)
14168335661275845324
Pak Tjiptadinata, Kompasianer of The Year 2014. (Ganendra)
1416834398477734905
Bareng pak Tjipta. (Ganendra)
14168346851779823379
Heboh SKA bareng Tipex. (Ganendra)

14168347442112314432