In Goyang Lidah Review

Menu Kampung ala Jawa Timuran yang 'Ngangenin'

Pecel Madiun ala Bu Pardi. (foto Lahab)

Pernahkah anda merindukan menu garang asem? bothok lamtoro? nasi pecel ala kampung? Saya pastikan kita merindukan menu-menu tradisional yang dulu sempat dengan mudah kita cicipi di kampung. Citarasa khas ndeso, dengan bahan-bahan yang masih alami, berbungkus daun, makan pun terasa nikmat dengan ‘dipuluk’. Yaaa, dipuluk, makan dengan tangan langsung tanpa sendok. Saya sendiri paling demen dengan menu bothok buatan ibu di kampung Wonogiri Jawa Tengah. Bothok dengan bahan sederhana namun rasanya nikmat dan tentu saja menyehatkan karena berbahan seger-segeran yang alami.

Ngiler kalau inget Garang Asem dengan bungkus daun pisang. Garang asem ayam yang segar menggoda saat menjadi lauk makan siang. Siapa yang ga tergiur. Saya sih ngecess banget heheee. Belum lagi kalau menu siang, ‘jangan bening’ (sayur bening, biasanya pakai daun bayam), terus pakai bothok lamtoro plus tempe goreng. Wuiihhh menu simple nan sederhana tapi segernya minta ampun. Dulu sih, sering makan menu ini di tengah sawah musim liburan sekolah, bareng Pakde yang nggarap sawah. Maklum, kalau dulu maennya yaaa ke sawah, atau hutan di pinggiran kampong. Dan itu sangat menyenangkan.

Nah,  belum lama ini aku ‘menemukan’ menu-menu ‘kangenan’ ala kampong ini di Bogor. Tepatnya di jalan Jend. Sudirman. Rumah Makan Pecel Madiun Bu Pardi namanya. Ga terlalu besar, menempati jajaran ruko di samping mal Yogya Bogor Junction. Lokasinya lumayan strategis dan mudah dijangkau. Mungkin ada yang sudah tahu atau mungkin belum tahu. Maklum saja baru buka 8 bulanan di lokasi itu. Meski jauh beberapa tahun silam pernah buka di lokasi berbeda di Bogor.


Aneka menu tradisional. (foto Lahab)

Sesuai namanya yang pakai nama kota Madiun, maka menu-menunya mayoritas menu tradisional Jawa Timuran. Ada pecel Madiun, garang asem, bothok, aneka gorengan, bahkan soto dan rawon pun ada. Mencicipi menu-menunya ini, khas kampung, dengan cita rasa rumah makan keluarga. Pasalnya suasananya santai, dengan bangku-bangku panjang, yang cocok buat rame-rame bareng keluarga.

Cita rasa kampong Jawa Timuran ini dikarenakan memang masakan yang disediakan adalah resep keluarga, yakni dari Bu Pardi sendiri yang sudah almarhum. Nama Bu Pardi, akhirnya dipilih untuk brand rumah makannya itu. Pak Andi sebagai ‘pewaris’ resep keluarga ini merintis dan melestarikan resep kuliner dengan mendirikan Rumah Makan Pecel Madiun ini. 


Banyak menunya. (foto Lahab)
Space yang menggoda adalah ditatanya ragam menu dalam meja yang lumayan besar. Nah kita tinggal pilih saja sesuai selera. Wuaah melihat segetu banyak ragam menu ‘kampung’, jadinya ngilerr bener dah. Khusus untuk gorengan, disediakan juga hangat dengan langsung menggorengnya di tempat. Eh selain menu Jawa Timuran, ada mendoan khas Purwokerto juga lhoo. Cocok sih jadi pasangan nasi pecelnya. Untuk pecel Madiunnya seporsi dibandrol Rp.10.000 saja, udah komplit deh. 

Soto dan rawon juga tersedia hangat-hangat. Kisaran harga soto Rp. 12.000 - 14.000. Sedangkan rawon spesial Rp. 18000 - 20.000. Daging ayam yang digunakan ayam kampung semua. 

Pecel Madiun sebagai menu andalan plus merek rumah makan ini, disajikan dengan aneka sayuran, kubis, plus sambal kacang. Nah pada sambal inilah letak kekhasan menu Pecel Madiun Bu Pardi. Menurut Pak Andi yang sempat saya tanya-tanya, kekhasan pecel madiun rumah makan miliknya memang di sambalnya.

“Sambal menjadi nilai khas pecel kami, kuncinya pada kacangnya. Saya memilih kacang Tuban yang kualitasnya terkenal bagus,” katanya.

Bothok Teri lamtoro. (Foto Lahab)

Memang sih, kalau diicip-icip sambal kacangnya segar pedasnya. Saya sebagai penggila makanan pedas, merasa cocok dengan komposisinya. Oh iya, disini seperti saya bilang tadi, beberapa menu gorengan bisa pesan langsung lhoo. Misalnya pengen telur ceplok ataupun dadar, tinggal langsung dimasakin, sehingga hangat deh. 

Sempat mencoba juga garang asem ayam kampungnya. Empuk dan kuahnya segar. Selain garang asem ayam ada juga garang asem ati ayam kampung. Sama enaknya. Kalau bothok lamtoronya lumayan pedas. Dibungkus daun pisang, dan ada terinya juga. Jadinya taste nuansa kampung bener. Nah garang asem ayam kampung ini cukup dihargai Rp. 20.000. 


Menu dan rate harga.  KLIK Gambar untuk memperbesar (foto Lahab)
Untuk minuman standar. Ada es teh, es jeruk dan lain-lain. Selain itu ada wedang tape, beras kencur, kunir asem. Untuk teh, teh Gopek menjadi pilihan. Inget di rumah kampung dulu, teh Gopek menjadi minuman sehari-hari. Minuman spesialnya adalah Kopi deplok. Yaaa, kopi hasil deplokan sendiri Pak Andi yang diracik sesuai resep keluarga. Rasanya bersahabat banget. Nasgitel, Panas, Legi, Kenthel pokoknya. Heheheee. Aku sudah mencoba kepahitan kopinya dalam secangkir seduhan. Pahitnya khas kopi banget.

“Kopinya ini deplokan sendiri Mas, rasanya pasti beda,” kata Pak Andi, saat saya ditawarin mencoba kopi racikannya. Kental dan berasa banget aroma kopinya.

Sooo, rasanya Rumah Makan Pecel Madiun Bu Pardi ini cocok sebagai pelipur lara menu-menu ‘kangen’ Jawa Timuran. Bolehlah sekali waktu saat kangen menu kampung mampir sejenak. Lokasinya juga mudah dijangkau, termasuk yang dari Jakarta dan sekitarnya. Jalur tol Jagorawi menjadi alternatif. Mudah saja, tinggal pilih, keluar tol di Kedung Halang, atau di Kebun Raya. Saran saya sih, enakkan keluar tol Kebun Raya Bogor, setelah terminal Baranangsiang Bogor, lalu menyusuri Jalan Pajajaran, belok kiri lewat Kebun Raya, ketemu lampu merah ambil kanan. Nah itulah Jl.  Jend. Sudirman. Gak jauh akan ketemu mall Yogya Bogor Junction. Ada deretan ruko di sebelahnya. Nah keliatan deh, nama rumah makannya. Heheheee.


Tongkrongannya keren tho. Foto Agya saat peluncuran Agya  di Senayan pada 2013. (foto Lahab)
Pokoknya pacu saja mobil Agya anda. Gak bakalan ngabisin BBM banyak. Soalnya khan mobil Low Cost Green Car  (LCGC), pasti hemat dong BBM-nya. Sekalian berlibur di Kota Hujan, asyik buat keluarga maupun bareng kawan-kawan. Tongkrongan keren dan modis Agya yang bikin PeDe, makin keren buat jalan-jalan. Sekalian mengenal menu khas tradisional yang mungkin tak banyak anda temui di ibukota. Menu berbeda sekaligus mengenal menu budaya tradisi bagi yang tak mengecap kehidupan di kampung.  Tunggu apalagi, yukk ah cicipin. #Salam Kuliner  Nusantara. #SalamLahab

@mas_lahab
Rumah makan Pecel Madiun Bu Pardi nampak depan. (foto Lahab)


Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Featured Post

Saat Tau Makanannya Gak Enak, Food Blogger Mesti Motret, Gimana Ya?

SEBAGAI Food Blogger kecuali sering icip-icip makanan dan minuman beraneka rupa, dalam   menuliskannya tentu sangat butuh foto-foto...

Google+ Followers

Viva LOG