(VLOG) Umami Food Marathon Kuliner Betawi



TRIP MARATHON KULINER itu seru. Apalagi target kulinernya adalah kuliner tradisional, seperti kuliner khas Betawi. Selain mengulik aneka resep masakan, mencicipinya dan mengetahui kandungan gizinya juga bisa lebih mengenal budaya Betawi  

Trip kuliner dengan tajuk Umami Food Marathon, menjelajahi kuliner Betawi di Warung Mak Dower, Rawamangun Jakarta Timur, Soto Betawi H. Husen di Setiabudi Jakarta, serta workshop Kerak Telor dan Bir Pletok di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ketiga lokasi itu sangat kental dengan budaya kuliner Betawi. 


Dan ini video saat aku mengikuti rangkaian acara Umami Food Marathon bareng Ajinomoto dan Tabloid Bintang yang digelar Sabtu, 16 Desember 2017. Ajang yang seru dan bermanfaat. Tonton videonya. Cekidot! Salam Madyang.

Foto cover sumber Tabloid Bintang. 
@bozzmadyang

Menggali Fakta yang Benar Tentang MSG dan Merawat Budaya Betawi di Ajang Umami Food Marathon Bareng Ajinomoto dan Tabloid Bintang

Foto Bozz Madyang

MSG (Mono Sodium Glutamate) umum digunakan sebagai bumbu penyedap rasa di beragam masakan sehari-hari. Namun tak sedikit yang berupaya menghindarinya.  Kesan yang melekat di benak umum menganggap MSG atau sering disebut micin itu membuat bodoh atau tak sehat.

Tjap “Generasi Micin” itu yang sering digunakan untuk menyebut sebagai sinonim bagi orang bodoh. Bahkan ada teman saya yang berpendapat lebih baik mabok daripada makan micin. Laah!! Benarkah demikian? Apa kata ahli gizi, chef professional, dan produsen MSG  tentang fakta MSG ini?

Lalu mengapa pelaku usaha kuliner tak sedikit yang menggunakan MSG sebagai penguat rasa masakannya?

Sebut saja usaha kuliner ternama seperti Warung Mak Dower di Rawamangun Jakarta Timur, Soto Betawi H. Husen di Setiabudi Jakarta, serta pelaku usaha Kerak Telor yang notabene mengusung kuliner Betawi tak ragu menggunakan MSG ini.

Tak takutkah mereka, menu jualannya dihindari konsumennya? Faktanya ternyata pembeli mereka tetap ramai. Antrean pembeli jamak terjadi dalam kesehariannya.
 
Warung Mak Dower yang menggunakan Ajinomoto dalam masakannya. (Foto Bozz Madyang)
Bagiku ada nilai penting dibaliknya. Pertama, pelaku usaha menggunakan MSG disamping bumbu dasar itu sadar dan cukup memahami fakta tentang MSG dan juga sejauh mana tingkat keamanan MSG saat digunakan.

Kedua, penggunaan MSG yang tepat sebagai penguat rasa membuat cita rasa masakan khas kuliner Betawi itu selalu ‘hidup’ dan disukai oleh konsumennya. Efeknya kuliner Betawi tetap disukai dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Aku bilang dengan demikian secara tak langsung turut merawat kuliner Betawi tetap ‘hidup’ dan lestari di masyarakat. Ini penting! Bukankah budaya tradisional  (termasuk kuliner tradisional ) – dalam hal ini kuliner Betawi -  harus dijaga eksistensinya?

Nah, pertanyaan-pertanyaan di atas, terjawab saat aku mengikuti rangkaian acara Umami Food Marathon bareng Ajinomoto dan Tabloid Bintang yang digelar Sabtu, 16 Desember 2017. Ajang yang seru dan bermanfaat karena disamping trip marathon kuliner khas Betawi, mengenal budaya Betawi sekaligus memperoleh informasi  yang berharga khususnya tentang fakta MSG dalam acara fun talkshow bareng ahli gizi dan chef.  

Trip kuliner dengan tajuk Umami Food Marathon, menjelajahi kuliner Betawi di Warung Mak Dower, Rawamangun Jakarta Timur, Soto Betawi H. Husen di Setiabudi Jakarta, serta workshop Kerak Telor dan Bir Pletok di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jelas ketiga lokasi itu sangat kental dengan budaya kuliner Betawi.

Bahkan kami juga mengenal budaya Betawi lainnya, seperti kain batik, alat musik, wayang dan lain-lain  saat mengunjungi Musem Betawi di Setu babakan. Juga mengenal batik Betawi saat berkunjung dan melihat langsung para pembatik tulis membatik di kawasan Setu Babakan.

Ini ceritaku secara utuh saat ikut Umami Food Marathon di ajang Blogger Gathering Ajinomoto dan Tabloid Bintang. Acara seharian itu menjelajah mulai dari Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan menggunakan transportasi minibus. 20 food blogger turut dalam acara. Seru dan bermanfaat banget untuk para penggila kuliner. Ehh jangan lupa lihat juga video keseruannya berdurasi 6,25 menit  yang aku buat yaah. Cekidot.

Dapur Umami dan Produk Ajinomoto yang Melegenda 

Dapur Umami itu ada di kawasan kantor Ajinomoto Jl. Laksda Yos Sudarso, Sunter, Jakarta Utara, tempat meeting poin acara bareng Ajinomoto dan Tabloid Bintang.

Dapur Umami ini berbagi resep-resep yang mudah, menyenangkan dan menyehatkan melalui website dan media socialnya. Salah satunya bisa di cek di akun instagramnya @dapurumami.id. Banyak resep masakan loh, cocok buat ibu-ibu, perempuan dan yang demen masak.

Senang melihat dapurnya dari jarak dekat. Bersih dan tertata rapi. Di dalamnya banyak peralatan dapur seperti kompor gas, aneka piring, panci, wajan dan sebagainya. Itu kesanku saat masuk ke ruangannya pada Sabtu 16 Desember 2017 sebelum  jam menunjuk angka 7 pagi!  
Aku di dapur Umami. (Dokpri)
Mengintip dapur Umami. (Foto Bozz Madyang)

Di meja tertata rapi dan apik berbagai penghargaan yang diperoleh Ajinomoto, sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), plakat ucapan, seperti dari Pamulang Estate, Tangerang Selatan dan lain-lain. Ada yang menarik perhatianku yakni benda di meja dekat dengan meja dapur. Benda diantara beragam produk Ajinomoto, seperti masako, sajiku tepung bumbu, sajiku bumbu praktis, ajinomoto,  saori dan lain-lain. Itu … mangkok ajinomoto! 
Produk Ajinomoto dan mangkok legend. (Foto Bozz Madyang)
Mangkok legend, aku langsung teringat jaman di kampung dulu, tiap jajan makan baso atau pun mie ayam, mangkok itulah yang sering digunakan. Pastinya lama banget ya, pantesan saja Ajinomoto Tokyo saja  memproduksi penyedap rasa sejak 1909. Kalau di Indonesia sejak kapan Ajinomoto beroperasi?

PT Ajinomoto Indonesia berdiri tahun 1969 di Jakarta. Pabrik pertama didirikan pada tahun 1970 di Mojokerto-Jawa Timur dengan produk utama penyedap rasa dengan merek Aji-no-moto. (sumber www.ajinomoto.co.id)

Nah acara dibuka oleh pemandu acara yang gokil dan meriah, Joan Brigita. Cucok bokk, pagi-pagi mesti dibakar semangat dengan celotehannya yang renyah. Lalu kata sambutan dari  Bapak M. Fachrurozy, selaku Departemen Manager Public Relation PT. Ajinomoto Indonesia. Beliau mengucapkan terima kasih dengan kehadiran food blogger dan berharap bisa merasakan rangkaian acara, demo masak, workshop, trip kuliner.

“Kami juga mengundang chef dan ahli gizi agar bisa memberikan informasi bermanfaat dan bisa ditulis secara ilmiah terkait MSG agar masyarakat bisa tercerahkan,” ujar Pak M. Fachrurozy yang akrab dipanggil Pak Oji dan telah puluhan tahun bekerja di Ajinomoto Indonesia. 
M. Fachrurozy selaku Departemen Manager Public Relation PT. Ajinomoto Indonesia beri kata pembuka. (Foto Bozz Madyang)
Sekilas tentang PT. Ajinomoto Indonesia,membuka  pabrik pertama di Mojokerto, Jawa Timur, disusul pabrik kedua di Karawang yang didirikan pada tahun 2012 dengan tujuan memenuhi kebutuhan produk-produk bumbu masak bagi masyarakat Indonesia.

PT Ajinomoto Indonesia adalah salah satu anggota Group Ajinomoto Indonesia. Group Ajinomoto Indonesia saat ini sudah banyak menciptakan produk seperti  AJI-NO-MOTO, Masako bumbu kaldu penyedap, Sajiku  bumbu prakts siap saji, SAORI bumbu masakan Asia dan Mayumi mayonanaise yummy.  Itu cerminan Ajinomoto dalam menciptakan produk yang unik di bidang makanan dengan merealisasikan filosofi “Eat Well, Live Well.

Citarasa Pedas Kuliner Betawi di Warung Mak Dower

Selesai acara di Dapur Umami, maka trip kulineran Umami Food Marathon pun dimulai. Destinasi pertama adalah Warung Mak Dower, Rawamangun, Jakarta Timur. Lokasinya tak lama dicapai dengan mini bus. Maklum Sabtu jadi jalan cukup ‘lega’ gak terlalu macet, apalagi masih pagi. 
Warung Mak Dower, Rawamangun. (Foto Bozz Madyang)
Warung terlihat sederhana namun lumayan menampung banyak orang. Parkirannya lumayan luas.  Ada terpampang jelas tulisan Warung Mak Dower Kuliner khas Betawi “Pedasnya nampol, sambelnya bikin sewot” di atas warung sederhana itu. Bangunan kayu dengan meja kayu dan bangku panjang tersedia. 

Bangku-bangku panjang itumungkin untuk pembeli yang rombongan atau kelompok. Jadi bisa langsung duduk ramai-ramai. Okelah asyik juga. Eh jangan salah, meski warung nampak sederhana, namun banyak artis datang makan kemari looh.

Tak lama dihidangkan aneka menu khas Betawi di meja yang lumayan panjang. Menu dalam ‘piringan’ itu membersitkan selera saat melihatnya.  Itu jengkol! Pete! Wah wah wah, air liur rasanya langsung menetes. Favoritkuuuu!
Suasana Blogger Gathering di Warung Mak Dower. (Foto Bozz Madyang)
Banyak menu tradisional Betawi yang dihidangkan dengan nama-nama unik! Catet neh menu yang dihidangkan buat kami, ada tulang jambal sewot, cue ngacir, tutut ngibrit, genjer centil, cumi lenong, pecak bandeng, gabus pucung, udang lenjeh, jengkol nampol, sayur asem demplon dan  minumannya? Es ondel-ondel (Rp. 20 ribu).

Sebenarnya masih banyak lagi menu-menunya dengan nama unik yang tak dihidangkan. Yaaaa kalau dihidangkan semua, mana habis hahaaa.  

Pecak Bandeng. (Foto Bozz Madyang)

Tulang Jambal Sewot. (Foto Bozz Madyang)

Udang lenjeh. (Foto Bozz Madyang)

Jengkol nampol. (Foto Bozz Madyang)

Dua piring Cue Ngacir yang tengah. (Foto Bozz Madyang)
Aneka menu Warung Mak Dower. (Foto Bozz Madyang)
Aku pastikan cicipin menu yang dihidangkan. Tak terlewat. Sayang banget kalau terlewat heheee. Cuman yaa, aku jaga gak terlalu banyak, biar perut masih bisa nampung untuk kulineran berikutnya hehee. Serius cita rasanya semua aku suka. Pedas dan agak asin.

Pecak bandeng (Rp. 45 ribu) dengan irisan bawang, jeruk rasanya tak terlalu asin. Gabus pucung (Rp. 35 ribu) dengan kuah kehitamannya sensasional. Ini khas Betawinya dan sangat populer.
Gabus Pucung, kuliner Betawi banget. (Foto Bozz Madyang)

Lalu ada tulang jambal sewot (Rp. 26 ribu) yang bikin sewot karena enak pedas jambalnya tapi banyak tulangnya hahaa. Jengkol nampol (Rp. 20 ribu) yang selalu joss dan ikan cue ngacir (Rp. 32 ribu) dengan irisan bawang yang gurih.  
Daftar menu dan harga Warung Mak Dower Desember 2017. (Foto Bozz Madyang)
Ehh genjer centilnya dicampur dengan oncom, enak. Wah genjer pun bisa diolah sedemikian maknyos. Ada lagi cumi lenong (Rp. 35 ribu) asin-asin segar, ini aku habis banyak. Dan favoritku adalah udang lenjeh (Rp. 38 ribu). Ini enak banget dengan pete yang gurih banget. Wajar saja saat food blogger boleh bungkusin tuh menu, udang lenjeh ini tak bersisa. Hahahaa. Tak ketinggalan mencoba sayur asem demplon yang segar.

“Belum pas kalau datang ke sini gak cicipin sayur asem demplon,” celetuk Pak Wandi owner Warung Mak Dower. Yaa ya ya, oke, aku pun cicipin sayur asem yang memang tak asing bagiku.

Eh ada pilihan paket sayur asem dengan aneka lauk juga. jadi memudahkan pembeli dalam memilih. Harga bervariasi.

Eh apa rahasia enaknya menu Warung Dower ini? Racikan bumbu dasar menjadi kuncinya dengan menampilkan cita rasa pedas. Dan menurut Pak Wandi semua masakan menggunakan Ajinomoto. Sampai saat ini tak masalah dengan pembeli dan penikmat menu di warungnya itu.

Fun Cooking Demo dengan Chef Ari Galih

Masih di Warung Mak Dower, digelar demo masak plus talkshow. Demo masak diperagakan oleh Chef Ari Galih  didampingi ahli gizi, mbak Dr Dyah Eka Andayani SPGK, M.Gizi serta Pak Oji. Jadi lengkap rasanya ada penjelasan tentang gizinya. Demo masak menyajikan menu Gabus Pucung dan Pecak bandeng. 

Hal yang menarik adalah ketika Chef Ari membuat bumbu dasar dengan diuleg, bukan diblender. Itu lebih menampilkan rasa yang beda. Tips masak gabus pucungnya tetap gunakan gula. Bumbu ada kemiri, laos, kunyit, dan lain-lain. Chef Ari saran untuk ketumbar jangan beli sachetan.

“Pakai kunyit biar wangi,” jelasnya sambil menyatakan menggunakan ajinomoto di akhir masakan.

Menariknya gabus pucung ini menggunakan kluwek, yang memberikan efek warna kehitaman. Kluwek ini bermanfaat banget lor.  Kluwek itu anti oksidan apalagi dipadu dengan ikan gabus yang sarat protein.

“Ikan mengandung protein hewani yang bagus untuk jantung, menurunkan kholesterol,” ujar Dr. Dyah yang mendampingi Chef Ari.
Demo masak Chef Ari. (Foto Bozz Madyang)
Chef Ari galih in action. (Foto Bozz Madyang)
Tips dari Chef, gunakan bumbu dasar dulu. Mesti percaya diri dengan bumbu racikan sendiri. Baru kemudian boleh dikasih penguat rasa, seperti ajinomoto. Rasakan taste dulu, baru dikasih ajinomoto sesuai selera. 

Pada kesempatan itu Chef Ari memberikan tips untuk mengolah sayuran, seperti brokoli, jangan dikukus, cukup siapkan air mendidih masukkan brokoli 30 detik, masukin ke dalam air dingin, stop cooking.  Itu diamini oleh Dr Dyah, bahwa untuk sayur sebaiknya masukkan air mendidih paling lama 30 detik karena kandungan vitamin itu cepat rusak kalau dipanaskan.  
Dr Dyah ahli gizi mendampingi Chef Ari sambil menjelaskan olahan masakan  dari sudut gizinya. (Foto Bozz Madyang)
 
Gabus Pucung karya Chef Ari saat fun cooking. (Foto Bozz Madyang)


Pecak bandeng karya Chef Ari saat fun cooking. (Foto Bozz Madyang)
Fakta Tentang MSG, “Aman Dikonsumsi” 

Warung Mak dower, menurut Wandi menggunakan Ajinomoto dalam setiap masakannya, sebagai penguat rasa. Dr. Dyah mengatakan bahwa kita memasak rasa berbeda-beda. Salah satu kuncinya ada di taste Umami yang di dapet penguat rasanya itu. Ada glutamate yang merasangsang indera pengecap. Memberi rasa gurih. Gurih itu didapat dengan menambahkan penguat rasa Ajinomoto. Salah satunya bisa menambah nafsu makan.

“Kalau gak nafsu makan, tambahin 'sakiprit' (sedikit) penguat rasa seperti Ajinomoto,” ujar dr. Dyah.  
Dr Dyah (berjilbab) sedang jelaskan soal gizi di fun cooking saat Blogger Gathering. (Foto Bozz Madyang)
Penguat rasa boleh ditambahkan di awal, tengah, akhir memasak. Tapi lebih baik di akhir masakan.  Chef Ari, sharing pengalaman tentang MSG ini. Dirinya sejak 2008 masak tidak menggunakan MSG karena dulu dia memasak western food. Menurutnya orang bule tak gunakan MSG karena lidahnya terbiasa dengan butter. Beda dengan lidah orang Asia/ Indonesia. Jadi alasan orang bule tidak pakai MSG bukan karena bisa membuat sakit atau bodoh.  

“Kita gak boleh, ujug-ujug bilang bisa jadi orang stupid, orang jadi sakit karena MSG. Berdasarkan jurnal yang saya baca, gak ada orang bodoh karena makan MSG,” jelas Chef Ari.

Chef Ari jelaskan bahwa MSG sudah ada sejak lama, jaman Romawi. Romawi menggunakan MSG dengan fermentasi ikan. Itulah after taste-nya. Jangan Pengguna MSG terbesar Tiongkok, Jepang dan Skandinavia.

Menurut Chef Ari, memasak kita tetap harus mengedepankan Indonesian taste, rempah-rempah harus keluar. Rasain dulu awalnya jangan dikasih MSG. After tastenya penyeimbang rasa bisa pakai ajinomoto.

“MSG itu lebih baik dipakai sesuai takaran, tidak membahayakan,”
ujar Chef Ari. 
Narsum dari kiri ke kanan: Dr Dyah, Chef Ari dan Pak Fachrurozy. (Foto Bozz Madyang)
Menurutnya penyedap rasa itu penyeimbang di akhir makanan. Jika belum pas, pakai saja secukupnya. Di satu sisi BPOM  pun menyatakan digunakan secukupnya.  

Sementara Pak Oji berkisah tentang kemunculan MSG. MSG ditemukan professor ahli kimia dari Jepang bernama Kikunae Ikeda. Sebelum menemukan itu ia belajar di Jerman yang banyak makanan Eropa. Ada satu unsur yang enak. Saat Ikeda kembali ke Jepang pikiran terusik dengan unsur yang membuat enak makanan itu.

Suatu saat, dia makan malam, makan sup rasanya sama seperti saat di Eropa. Ternyata orang Jepang menambahkan Kombu yang mengandung asam amino yang namanya glutamat.   
Pak M Fachrurozy jelaskan tentang MSG. (Foto Bozz Madyang)
Kikunae Ikeda adalah peneliti jadi tak bisa memproduksi besar-besaran. Dia bertemu pengusaha namanya Suzuki, berbagi paten lalu dikembangkan penemuan itu, besar-besaran, hingga lahir Ajinomoto yang artinya “sumber rasa”. 

Jadi bisa disimpulkan MSG itu mengandung glutamate yang merupakan unsur gizi, sumber protein. Bahkan MSG itu ada di bahan makanan seperti saos, daging, ikan dan lain-lain ada. Tak pakai langsung tapi ada unsur-unsur di dalamnya ada glutamatnya. 

Mendengar penjelasan dari ketiga narsum bisa disimpulkan bahwa secara ilmiah tidak tepat rumor yang beredar yang mengatakan  MSG itu membuat orang bodoh, “generasi micin’.  Padahal yang menemukan saja seorang professor, ahli kimia, Ikeda.

Pakai sesuai takaran. Jika menggunakan MSG berlebihan pun, makanan malah menjadi tidak enak. Jadi rasakan takaran yang pas lewat rasa. Itu aman. Sooo, penting banget mengetahui fakta yang benar tentang MSG agar tak salah persepsi.

Menikmati Soto Betawi H. Husen nan Legendaris

Hujan deras mengguyur kawasan Setiabudi, Manggarai, saat rombongan #UmamiFoodMarathon tiba di warung yang tak besar itu. Jalannya sempit tak leluasa apalagi ramai kendaraan.

Alamak! Ramai banget warung Soto Betawi Haji Husen itu, meski jam baru menunjukkan angka 11.00 wib, belum jam makan siang! Jadi kami pun mesti cari-cari bangku kosong. Untung dapet kursi meski dempet-dempetan. Gapapalah, jadi hangat di hari hujan deras hahaaa.  
Soto Betawi Haji husen, Manggarai. (Foto Bozz Madyang)

Namun begetulah warung yang sudah puluhan tahun berdiri itu. Selalu ramai oleh pembeli. Maklum ini bukan Soto Betawi biasa, tapi Soto Betawi legend!

Menurut Bayu, salah seorang karyawannya mengatakan sejak buka jam 07.00 wib akan habis sebelum jam makan siang.  Ternyata Soto Betawi cukup digemari ya. Hanya menyediakan menu Soto Betawi di sini. Lalu apa saja isi sotonya? 

“Isinya ada daging, jeroan, kaki, kulit kepala. Dijual sama harganya untuk soto dengan isi sesuai pesanan Rp. 30 ribu seporsi dan nasi Rp. 5000,” jelas Bayu saat kutanya. 
Soto Betawi H Husen, manggarai enak. (Foto Bozz Madyang)

Winda dan Dita menikmati Soto Betawinya. (Foto Bozz Madyang)
Jadi seporsi total cukup rogoh kocek Rp. 35 ribu. Belum termasuk minum. Warung Soto Betawi H Husen ini tak ada cabangnya.  Mencicipi soto Betawinya memang rasanya menyegarkan dengan kuah berwarna kuning dan panas. Isinya lumayan banyak.

Sayangnya saat mau pilih isi daging, sudah habis. Jadilah isinya pakai jeroan, paru dan teman-temannya. Puas menikmati soto Betawi di sini. Aku makan sotonya tak pakai nasi, sengaja agar original  mencicipi soto betawinya yang legendaris itu.
Ramai dan antre. (Foto Bozz Madyang)

Museum Betawi, Museum Khas Adat Budaya Betawi  

Setu Babakan itu populer sebagai lokasi wisata budaya Betawi. Di gerbang depan nampak megah dengan lantai putih nan bersih. Ada kesibukan dekorasi saat kami tiba di dalamnya.

“Nanti malam akan ada acara penganugerahan kehormatan adat Betawi untuk Gubernur dan wakilnya,” kata seorang pekerja yang sedang sibuk mendekor tiang dengan janur kuning. Oooo pantesan.

Di lokasi ini ada Syahroni sang pemandu yang biasa dipanggil Roni. Dia ramah menjelaskan seluk beluk fasilitas di Setu Babakan itu. Pertama kami masuk ke Museum Betawi di kiri ruangan setelah masuk pintu utama.  Ini merupakan museum peninggalan barang-barang kuno khas Betawi.  
Roni sang pemandu di Setu Babakan. (Foto Bozz Madyang)
Roni pemandu. (Foto Bozz Madyang)
Ada yang menarik di museum ini. Aku lihat di sudut museum lantai satu bagian belakang, ada lukisan besar dan warna-warni. Aku amati eh ternyata lukisan tersebut adalah 3 mantan Gubernur DKI Jakarta.  Ada lukisan dalam satu frame. Wajahnya sangat familiar! Sutiyoso, Fauzi Bowo, dan Joko Widodo.

Ada frame lain yang memuat ketiganya sedang duduk, sambil memegang bir pletok. Sementara  dihadapan mereka ada aneka kudapan kuliner Betawi, seperti es selendang mayang. 
Ada lukisan tiga mantan Gubernur DKI Jakarta. (Foto Bozz Madyang)
Kecuali itu museum ini memuat juga sepeda ontel. Ada juga wayang golek, pakaian adat Betawi, aneka kain batik, miniatur perahu adat, wayang kulit, oplet mini mirip opletnya si Doel di sinetron Si Doel Anak Sekolahan, mini bemo, alat-alat musik tanjidor, peralatan masak  dan masih banyak lagi.

“Rencana ke depan, di area Setu Babakan tidak boleh ada kendaraan roda dua dan empat kecuali delman dan  sepeda ontel sebagai transportasi di area dalam sini,” jelas Roni.

Wah jika kesampean tentu akan seperti Kota tua dengan aktivitas sepeda ontelnya. memang seeh lebih tenang dan memberi mata pencaharian bagi warga yang menyewakan sepeda ontelnya. Good!
Sepeda ontel. (Foto Bozz Madyang)

Di dalam Museum Betawi. (Foto Bozz Madyang)

Lantai 1 Museum Betawi setu babakan. (Foto Bozz Madyang)
Roni menjelaskan barang peninggalan kuno Betawi. (Foto Bozz Madyang)
Melihat Canting Pembatik Kain Batik Betawi  di Setu Babakan   

Ternyata ada aktivitas membatik di Setu Babakan. Lokasinya sekitar satu kilometer kali yah. Saat jalan lumayan keringatan. Menyisir sisi kanan Setu yang lumayan banyak penjual kaki lima. Penjual bir pletok, kerak telur sampai penjual aneka makanan dan minuman lainnya.  
Menyisiri Setu ke kegiatan membatik. (Foto Bozz Madyang)
Sebelum ujung masuk sedikit ada kain batik sedang diangin-anginkan. Warnanya biru bersih. Entah apa motifnya, maklum aku gak begitu paham batik hehee. Itu kain batik karya dari pembatik yang tergabung dalam Keluarga Batik Betawi Setu Babakan. 
Kain batik yang sudah jadi. (Foto Bozz Madyang)
Jelas kain batik adalah budaya Betawi yang harus dirawat dan dijaga kelestariannya. Dan di Setu babakan inilah salah satu pembatik yang turut melestarikan dengan memproduksi batik Betawi.

Ada 4 wanita muda yang sedang asyik membatik. Salah satunya Roha. Gadis itu sedang membatik pesanan dari pembeli. Gambarnya seperti kupu-kupu. Nampak dia cukup lihai memainkan cantingnya. Mencelupkan ke wajan kecil yang berisi ‘malam’, meniupnya lalu menggoreskannya ke kain. Aku pernah ikut workshop membatik saat di Tangerang Selatan. Gak gampang ternyata. Butuh kesabaran.

“Baru setahun di sini, sebelumnya di Cirebon,” kata Roha sambil tetap membatik di kain 2x2 meter itu, saat kutanya.  
Roha asyik membatik. (Foto Bozz Madyang)
Pembatik Setu Babakan. (Foto Bozz Madyang)
Hmmm cukup punya pengalaman dia membatik, jadi wajar gadis asli Cirebon ini cukup fasih membatiknya. Harga kain batik yang sudah jadi, untuk batik tulis bisa lebih dari Rp. 500 ribu. Lumayan juga yaa. Sebagai peninggalan budaya luhur sudah semestinya batik bernilai tinggi itu selalu dijaga.

Selain kegiatan membatik, ada galerinya juga. Isinya kain batik aneka rupa dengan motif dan warna beragam. Ada selendang, kain lebar dan lainnya. Aku cari slayer batik, cuma gak ada. Yayat yang membeli satu buah syal. Katanya buat dikalungkan di leher. 
Kain batik aneka ragam di galeri batik. (Foto Bozz Madyang)
Begini Cara Bikin Bir Pletok dan Kerak Telor Khas Betawi

Ada bangunan terpisah di Setu babakan yang ternyata itu biasa untuk acara. Kami disambut tarian khas Betawi yang ditarikan 4 penari perempuan cantik. Musik khas Betawi mengiring tarian kreasi bernama Ngecak Setapak.  
Disambut tarian kreasi Ngecak Setapak. (Foto Bozz Madyang)
Di ruangan terbuka itulah acara berikutnya digelar, yakni workshop Bir Pletok dan Kerak Telor. Bir Pletok  jelas makanan dan minuman Betawi banget yang sangat populer. Minuman ini menyehatkan karena dibuat dari rempah-rempah.

Ada Bu Aci dan Bu Ika memberikan workshop cara membuat minuman khas Betawi Bir Pletok. Nama bir pletok sejarahnya jaman Belanda, bir yang beralkohol. Lalu warga pribumi membuat bir yang tak beralkohol. Dimasukkan ke bambu, bunyinya pletok-pletok. Jadilah disebut bir pletok.  
Bu Aci (kiri) dan Bu Ika (kanan) demo bikin bir pletok. (Foto Bozz Madyang)
Bahannya ada 15 macam. Bahannya, jahe ada jahe iprit dan jahe gajah agak besar. Sereh, daun jeruk purut, daun pandan, kayu manis, biji pala, kayu misoyi asalnya dari Kalimantan, kapulaga, cengkeh, lada hitam/ lada putih (lada hitam khasiatnya lebih bagus), cabe yang sudah dikeringkan, garam, gula (pasir atau merah, gula batu). Terus ada serutan kayu Secang, ini menentukan warna.  
Sebagian bahan pembuat bir pletok. (Foto Bozz Madyang)
Lalu bagaimana cara membuatnya? 

“Jahenya dikeprek agar saat direbus aromanya keluar,” jelas Bu Aci.

Bahan basah ada daun pandan, jahe jangan dikupas, sereh, jahe.  Bahan-bahan kering dikeprek. Masak air sampai mendidih, masukkan semua rempah-rempah dan direbus sekitar 30 menit. Dihitung setelah mendidih, 30 menit masukkan kayu secang. Setelah warna coklat angkat. Disaring lalu masukkan gula dan garam. Diaduk sampai rata menyatu dengan air, baru disajikan.    

Menurut Bu Aci, bir pletok buatannya tanpa bahan pengawet namun tahan 3 bulan. Kalau sudah dibuka masukkan lemari es. Cara pengawetnya: botol kosong rebus 30 menit, buang airnya, masukkan bir pletok dan tutup, lalu direbus lagi selama 30 menit.

“Manfaatnya bisa untuk menghilangkan batuk, flu, masuk angin, hilangkan pegal-pegal, juga bisa buat detok,” jelas Bu Aci yang sekali bikin bir pletok  bisa memproduksi 370 botol yang dijual dengan harga Rp. 20 ribu, yang botol kecil Rp. 10 ribu. Semua dikerjakan secara home industri. 
Bu Aci jelaskan cara membuat bir pletok. (Foto Bozz Madyang)
Kelar workshop bir pletok pindah ke workshop bareng Bang Udin, yakni bikin kerak telor. Alatnya wajan, anglo/ tungku dari tanah liat. Bisa pakai kompor di rumah, cuman rasanya berbeda. Bahannya ada beras ketan putih, srundeng, bawang merah goreng, garam, lada, ebi disangrai, telur ayam/ bebek.  Bumbu halusnya menggunakan cabai, kencur, jahe, merica. Tak lupa Ajinomoto.

“Cara membuatnya simple, cukup 5 menit, jadi,” kata Bang Udin yang dibantu Roni.   
Bang Udin bikin kerak telor pakai Ajinomoto. (Foto Bozz Madyang)
Cara membuatnya, pertama-tama beras ketan putih masukkan ke wajan. Sekitar 2 menit sampai warna berubah kecoklatan. Masukkan 2 sendok makan srundeng, ebi, garam, dan Ajinomoto. Untuk lada, ajinomoto dan garam sesuai selera. Terakhir baru telor, aduk sampai rata. Lebarkan bentuk lingkaran.  Dimasak  tanpa minyak. 
Kerak telor bikinan Bang Udin. (Foto Bozz Madyang)
Terlihat mudah membikinnya. Jun pun penasaran. Lalu mencoba membuatnya sendiri. Dasarnya Jun memang pandai memasak, jadi tak banyak kesulitan. Memasukkan beras ketan putih, membalik wajan saat beras ketan sudah kecoklatan sampai meratakan telur. Not bad lah. Tapi gak tahu rasanya hehehee. Soalnya aku gak sempat cicipin kerak telor hasil karyanya.  
Jun sedang praktik bikin kerak telor. (Foto Bozz Madyang)
Workshop kerak telor menutup rangkaian Umami Food Marathon. Di sela hujan lebat sambil menikmatin kerak telor yang disajikan, kami cukup puas. Acara yang bermanfaat. Mulai dari pemahaman yang benar secara ilmiah tentang MSG hingga mengenal budaya Betawi melalui peninggalan kuno di museum Betawi hingga trip kulinernya.

Trip kuliner Betawi yang semestinya menjadikan kita semakin peduli dengan budaya kuliner bangsa sendiri. Di tengah merangseknya kuliner ala  western maupun dari Asia dan Timur Tengah. Selayaknya kita turut merawat kuliner dan budaya (Betawi) agar tetap eksis dan menjadi tuan di negeri sendiri. Salah satunya sebagai food blogger adalah dengan menikmatinya, mendokumentasikannya dan menuliskannya agar semakin luas dibaca orang.

Satu hal lagi, dengan mengikuti acara ini, aku semakin paham tentang MSG. Bagaimana micin itu boleh dikonsumsi sesuai takaran yang membuatnya tak berbahaya. Jadi stop katakan generasi micin untuk menyebut generasi bodoh. karena itu menjadi sebuah pembodohan!

Terima kasih  kepada Ajinomoto dan Tabloid Bintang atas acara bermanfaatnya. Terima kasih pelaku kuliner tradisional, Warung Mak Dower, Soto Betawi Husen, Bang Udin, Bu Aci dan Bu Ika yang telah merawat kuliner Betawi. Salam Kuliner Nusantara.

@bozzmadyang

“Cooking For Love” ala Chef Nik dan Sarah Bareng Asian Food Channel

Menyajikan makanan penuh cinta dan menggugah selera itu sebuah karya tersendiri. Seperti dihadirkan oleh Asian Food Channel dengan demo masak di musim ketiga atau terbarunya dari Cooking for Love. Demo masak yang digelar di Almond Zucchini Cooking Studio Jakarta itu menghadirkan Celebrity Chef asal Malaysia Nik Michael Imran dan pembawa acara AFC TV Sarah Benjamin. Kedua chef yang piawai memasak ini menampilkan kreasi masakan yang ekonomis, proses cepat, dan rasa lezat dengan sentuhan modern. Ide-ide memasaknya memberi inspirasi bahwa makanan bergaya restoran bisa dihadirkan di rumah dengan ide-ide dan kreasi masakannya.

Hi #madYanger Minggu lalu aku sempat ikutan demo masak sekaligus menyaksikan langsung acara Cooking for Love yang special banget. Bukan hanya melihat bagaimana masakan diolah namun memberikan wawasan baru soal  tips dan tricks masakan yang memperkaya ide dan kreasi masakan. 

Itu yang aku peroleh saat acara Cooking for Love di Almond Zucchini Cooking Studio Jakarta. Dan pastinya berkesempatan mencicipi racikan duo chef ternama itu. Lezatoz!

Adalah Celebrity Chef yang ganteng  asal Malaysia Nik Michael Imran, yang didampingi wanita cantik asal Singapura pembawa acara AFC TV Sarah Benjamin yang terbang langsung ke Jakarta khusus untuk acara Cooking for Love. Wanita yang saat itu lengan kirinya sedang cedera itu, tak menyurutkan untuk berbagi kreasi masakan bersama Nik.

Cooking for love. (Foto BozzmadYang)

Rasa penasaran terhadap aksi mereka tersalurkan saat acara Cooking for Love dimulai. Sebuah area ‘dapur’ memasak sudah siap. Sudah ada beberapa bahan yang disiapkan. Lengkap dengan peralatan memasak. Dapur yang cantik, bersih dan modern. Semarak demo masak dihadirkan oleh karakter keduanya yang ramah, riang dan jenaka. Maka acara memasak mengalir dengan renyahnya.

“Hari ini saya akan memasak beberapa resep dari musim terbaru Cooking for Love, saya juga akan berbagi tip dan trik rahasia dapur untuk menciptakan hidangan lezat untuk orang terkasih,”
kata Nik sesaat sebelum memulai acara memasaknya.

Sarah dan Nik demo masak. (Foto BozzmadYang)

Nah Nik dan Sarah memperkenalkan dan memperagakan demo masak dengan menu kreasinya masing-masing. Nik, pria yang demen nasi goreng racikan ala Indonesia itu menampilkan masakan menu Lumpia Udang ala Vietnam,  Crab Pasta dan Pavlova Platter. Sementara Sarah memasak hidangan lezat dengan sentuhan modern, Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes dan Coffee Cheesecake. 

Vietnamese Prawn Spring Roll, Crab Pasta dan Pavlova Platter ala Nik

Vietnamese Prawn Spring Roll  atau Lumpia Udang ala Vietnam resep asli milik Chef ganteng Nik. Ini adalah masakan tradisional memiliki cita rasa yang segar dari beragam sayuran yang digunakan dan dicelupkan ke dalam saus Vietnam yang menggugah selera. Sesuai namanya, cita rasanya ala Vietnam yang memang berciri segar, bahan-bahan segar.

“Udangnya jangan terlalu matang, namun agak kecokelatan saja,” kata Nik dalam bahasa Inggris bercampur Melayu. 

Menurutnya dengan warna kecokelatan yang muncul, udang di dalamnya masih terasa empuk, cukup di suhu sekitar 50-58 derajat Celcius.

Vietnamese Prawn Spring Roll. (Foto BozzmadYang)
Itu pula yang kurasakan saat mencicipinya. Udangnya empuk dan lembut.  Gulungan sayuran itu segar dan berasa kalau dicelup Saus Vietnam yang berbahan air  jeruk nipis, gula pasir,  kecap ikan, bawang putih dan cabe merah.  Memasaknya siih sebentar, persiapannya yang lumayan waktunya. Oiya, untuk yang vegetarian,  udang bisa diganti dengan jamur. Kecap ikan bisa dihilangkan. 

Crab Pasta. Ini olahan kepiting! Wah favorit banget ini mah. Karya Nik ini adalah hidangan Crab Pasta dengan daging kepiting segar yang tempatkan di antara susunan pasta dengan sejumput ikura dan selada air sebagai sentuhan akhir.  Sempat icip-icip ini beneran khas rasa kepitingnya berasa. Lezat. 

Crab Pasta. (Foto BozzmadYang)
Saat Nik demo masak Crab Pasta ini, termasuk sebentar, tak perlu waktu lama, sekitar 15an menit saja. Caranya juga cukup mudah. Untuk vegetarian ikura dan daging kepiting bisa diganti dengan jamur  shimeiji.

Pavlova Platter karya Nik ini sebagai hidangan penutup.  Racikan kombinasi sempurna dari whipped cream dengan stroberi segar. Tampilannya menyegarkan sesuai dengan rasa segar dan manisnya pas  menurutku.  Dessert ini cocok untuk dinikmati saat makan malam biasa, pesta atau pun sekadar suguhan manis yang biasa dihidangkan untuk kawan maupun pasangan. So sweet deh! 

Pavlova Platter. (Foto BozzmadYang)

Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes and Coffee Cheesecake ala Sarah Benjamin

Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes, ini menu karya Sarah yang juga Food Blogger asal Singapore. Dia sharing resep yang mudah namun cita rasa kombinasi yang unik. Bahannya kaya rempah rempah, olahan  dari nasi dan daging sapi pilihan. Tentu saja bersaus kari yang khas. 

Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes (Foto BozzmadYang)
Untuk resep dessert,  Sarah menyiapkan Coffee Cheesecake dengan kombinasi cita rasa kopi dan cheesecake tradisional yang dimasak tanpa menggunakan oven. Jadi menghemat waktu. Komposisinya ada sandwich vanili coklat, bubuk kopi instan dan whipping cream. 

Untuk racikan ini aku demen, soalnya penggila kopi dan coklat. Kombinasi keduanya ala Coffee Cheesecake menghadirkan nuansa kelezatan tersendiri. God job!
Coffee Cheesecake. (foto BozzmadYang)
Cooking For Love Setiap Rabu pukul 9 Malam di AFC 

Nah sharing 5 menu dari Nik dan Sarah itu dalam demo masak Cooking for Love itu adalah promosi ketiga, terbaru dari  Cooking for Love yang ditayangkan di AFC/ Asian Food Channel yang merupakan saluran televisi terdepan yang berfokus pada makanan dan menyajikan keunikan kuliner Asia dengan rasa global. AFC adalah bagian dari Scripps Networks Interactive, salah satu produsen konten gaya hidup terkemuka di dunia.

Tayangan AFC dapat disaksikan di lebih dari 10 negara di Asia Pasifik. Untuk informasi lebih lanjut, kepoin saja situsnya di www.asianfoodchannel.com atau di Facebook www.facebook.com/asianfoodchannel.  

Oiyaaa, jika #madyanger penasaran dengan resep-resep racikan chef Nik dan Sarah juga resep lainnya sejak episode penayangan perdana, klik dan unduh dimare yess www.asianfoodchannel.com/en/lovetocook/cooking-for-love. 

Dan kalau mau lihat tayangan episode baru Cooking For Love musim ketiga, tongkrongin saja setiap hari Rabu pukul 9 malam di AFC.

Atau mau tau kelima resep yang diperagain di acara demo masak Cooking For Love minggu lalu? Neh kukutipin di bawah ini. Lengkap dari chef Nik dan Sarah. Cekidot!

Vietnamese Prawn Spring Roll

Vegetarian option: Vietnamese Vegetable Spring Roll
Recipe courtesy of Nik Michael Imran
Yield: 10 pax
Prep Time: 30 minutes
Cook Time: 10 minutes
Difficulty Level: Average
For Vegetarians: Replace prawns with mushrooms and omit fish sauce.

INGREDIENTS:
Spring Roll Ingredients:
• 3 cups rice vinegar
• 3 tbsp sugar
• 2 carrot, cut into batons
• 2 cucumbers, cut into batons
• 3 tbsp butter
• 4 cloves garlic, minced
• 1 can of Del Monte prune juice
• 1tbsp fish sauce
• 1 tbsp paprika powder
• 20 prawns, deshelled and deveined
• 10 rice spring roll wrappers
• 1 packet rice vermicelli, cooked
• 1 head lettuce
• 1 bunch fresh mint, roughly chopped
• 1 bunch fresh cilantro, roughly chopped

Dipping Sauce Ingredients:
• 3 tbsp lime juice
• 2 tbsp sugar
• ½ cup water
• 2 ½ tbsp fish sauce
• 1 clove garlic, finely minced
• 1 red chilli, finely chopped

METHOD:
1. In a small bowl, prepare the filling for the spring roll, whisk sugar and rice vinegar
together until sugar is fully dissolved. Add and submerge carrots and cucumber.
Leave them to pickle for an hour in the fridge.
2. Prepare the dipping sauce by combining lime juice, sugar, water, fish sauce garlic and
chilli, ensure that it’s a light golden colour. Stir well to dissolve the sugar.
3. In a pot, melt some butter and add the minced garlic. Saute until translucent then
add prune juice, fish sauce and paprika powder and bring to a boil.
4. Then, reduce to a simmer. Skewer prawns with a bamboo stick and then, poach in
thesimmering liquid for 2 to 4 minutes. When cooked, remove prawns off the
skewers and set aside.
5. In a small bowl, soak the rice spring roll wrapper for a few seconds to soften.
6. Place the spring roll wrapper flat on working surface, fill closer to bottom lip of the
wrapper with rice vermicelli, a piece of lettuce, mint, cilantro, and pickled
vegetables.
7. Fold wrapper from bottom up, just to cover filling, then add prawns above the first
fold.
8. Fold the left and right sides of wrapper over the edge of the filling, make sure
everything is nice and tight then fold bottom up all the way to the top.
9. Repeat with the rest of the ingredients.
10. Serve with dipping sauce.

Crab Pasta

Recipe courtesy of Nik Michael Imran
Yield: 2
Prep Time: 5 minutes
Cook Time: 15 minutes
Difficulty Level: Easy
For Vegetarians: Remove ikura and crab meat. Replace 500g of crabmeat with shimeiji
mushrooms to make a Truffled Mushroom Aglio Olio.

INGREDIENTS:
• 40g garlic, minced
• 40g red chilli, sliced lengthwise, julienned and minced
• 200g watercress leaves
• 300g spaghetti
• Sea salt
• 1 cup olive oil
• 2 tbsp truffle oil
• 200g fresh crab meat, blanched
• 2 tbsp Ikura

METHOD:
1. Mince the garlic. Slice red chili lengthwise, remove the seeds and pith, then finely
julienne before mincing.Pluck medium sized branches from the watercress, including
some leaves.
2. In a pot of boiling water, add pasta and salt, leave it to cook until al dente.
3. In a small pan, lightly sauté the minced red chili and garlic until translucent on a
medium to medium low heat. Turn off the heat and transfer the red chili and garlic
mix into a mixing bowl.
4. In the bowl, add the blanced crab meat, sea salt and watercress. Toss evenly to mix.
Once spaghetti is cooked, immediately add to mixing bowl with a little pasta water.
5. Add truffle oil and and combine evenly wth the pasta. Season with more salt. For
garnishing use Ikura and watercress leaves. Serve.

Pavlova Platter

Recipe courtesy of Nik Michael Imran
Yield: 6 – 8 pax
Prep Time: 20 minutes (heat the oven)
Cook Time: 1 hour 15 minutes
Difficulty Level: Intermediate

INGREDIENTS:
• 4 cold egg whites
• 1 cup sugar
• 2 tsp vinegar
• 4 tsp corn-starch
• 1 tsp vanilla extract
• 750ml whipped cream
• 200g strawberries, cut into quarters
• 3 passionfruit
• Pinch of salt

METHOD:
1. Preheat oven to 120°C (do not exceed 140°C).
2. Using a handmixer, whisk the cold eggs and salt until foamy then add the vinegar
and continue whisking until soft peaks form.
3. Add sugar bit by bit until meringue is shiny and stiff peaks have formed.
4. Toss in vanilla extract and fold gently to combine. Sift the corn-starch into the same
bowl and continue to fold gently until everything is combined.
5. Line a baking pan with parchment paper. To hold the paper in place, you can use
some of the meringue mixture to stick the paper on to tray.
6. Form little bowls of pavlovas, about 2-3inches wide, using a spatula. Leave some
space between bowls to leave room for expansion.
7. Bake te pavlovas for 75 minutes or until the Pavlova is dry then turn off the oven and
crack open the oven door slightly to allow the oven to cool down gradually for
another 30 minutes.
8. While you wait for the pavlovas to cool, in a cold metal bowl, use a hand mixer to
whip the cream until soft peaks form.
9. Slice strawberries and scoop out passionfruit flesh into separate bowls and set aside
for topping.
10. To assemble, place a generous dollop of whipped cream in the hollowed middle of
the pavlova, then top with strawberries and passionfruit. Serve immediately.

Red Curry Beef on Crispy Rice Cakes

Recipe courtesy of Sarah Benjamin
Yield: 6 pax
Prep Time: 30 minutes
Cook Time: 35 minutes
Difficulty Level: Intermediate

INGREDIENTS:
Spice paste:
• 5 large dried chilies, soaked in water and deseeded
• 1 tsp salt
• 1 shallot, peeled and roughly
chopped
• 5 cloves garlic, peeled
• 1 5-cm piece of galangal, peeled
• 2 stalks of lemongrass, outer layer and hard ends removed, chopped
• 1 tbsp ground coriander
• 2 tsp ground cumin
• ½ tsp ground black pepper
• 1 tsp shrimp paste
• Zest of 2 kaffir limes or regular limes
• 2-4 bird’s eye chilies, stalks removed (or add more if you really like spicy food)

Curry sauce:
• 1 ½ tbsp brown sugar
• 1 tbsp fish sauce
• 3 tbsp vegetable oil
• 1 cup coconut milk
• 3 kaffir lime leaves, finely shredded
• Thai basil leaves, julienned, to garnish
• 3 lime wedges, to serve
• Salt, to season
Rice:
• 2 tbsp + 1 tbs caster sugar
• 1 tsp salt
• 2 tbsp japanese rice vinegar
• 2 cups japanese short-grain rice, cooked
• 2 cups water
• 2 tbsp soy sauce
• ½ tbsp fish sauce
• 2 large rib-eye or sirloin steaks

METHOD:
1. First, make the spice paste by blending all the ingredients together in a food
processor until smooth. Add some oil to help it along. Set aside.
2. In a heavy pot, heat up oil over a medium heat, and fry the spice paste until fragrant,
and oil is coming to the surface. Toss in brown sugar and fish sauce. Stir well.
3. Add the coconut milk and salt, bring the curry to a boil.
4. Turn the heat down, cover the pot, and simmer for 15 to 20 minutes, until the sauce
is thickened. Season to taste with additional sugar, if necessary. Stir in most of the
finely shredded kaffir lime leaves, and set aside to cool.
5. While the curry is cooking, make your rice cakes. Stir 2 tablespoons of caster sugar,
salt and rice vinegar together until everything is dissolved. Fold this mixture into the
freshly cooked rice evenly.
6. Wet your hands a little, and scoop out small handfuls of the rice. Press together to
form a compact rectangle, like the rice in sushi. Try to get the sides as even as
possible. Repeat with all the rice.
7. Heat a frying pan up over a medium-high heat and add one tablespoon of oil to the
pan. Fry the rice cakes for 1 minute on each side, until lightly crisp. Remove to a
plate.
8. Stir the fish sauce, 1 tablespoon sugar and soy sauce together until the sugar has
dissolved. Brush this mixture onto all sides of the rice cakes, then return to the pan
and cook on a medium heat to caramelize on all sides.
9. Next, sear your steak. Pat the outside of the steak dry with kitchen paper. Heat a
tablespoon of oil in a heavy frying pan over a high heat. Fry the steak for 4-5
minutes, flipping every 20 seconds, until you have a nice golden crust on the outside,
and the steak is cooked to your desired doneness. If you have a digital thermometer,
the steak should be 54-55C for medium rare. Remove the steaks to a plate, pour
over any pan juices, and let them rest for 5-10 minutes. Slice the steak into 1-cm
thick slices.
10. To serve, lay the rice cakes out on a platter, and top with a slice of steak. Spoon
some red curry sauce over, and garnish with julienned Thai basil leaves. Serve
alongside lime wedges.

Coffee Cheesecake Pots

Recipe courtesy of Sarah Benjamin
Yield: 8 pots
Prep Time: 20 minutes
Cook Time: nil
Difficulty Level: Easy

INGREDIENTS:
Mocha Cookie Crumb
• 150g chocolate vanilla sandwich cookies
• 1tsp instant coffee powder
Coffee cheesecake mousse:
• 300 ml whipping cream
• 1 block cream cheese (about 225g)
• 2 tbs instant coffee powder, dissolved in 1 tablespoon hot water
• 200g icing sugar, sifted
• 1 tsp vanilla extract
Sponge Layer
• ½ packet ladyfinger sponge biscuits
• 250ml brewed coffee, sweetend with 2 teaspoons sugar

METHOD:
1. To make the mocha cookie crumbs, grind the chocolate biscuits together with the
coffee powder using your hands.
2. Using a hand blender, prepare the mousse by beating whipped cream to stiff peaks.
Next, in a separate bowl, whisk the cream cheese with the shot of coffee, icing sugar
and vanilla extract until fluffy.
3. Add one third of the whipped cream into the cream cheese mixture and fold it in
gently. Then, fold in the remainder of the whipped cream.
4. Now, get ready to assemble the pots. Fill the base of each jar with a layer of the
mocha cookie crumbs. Top with a layer of cheesecake mousse. Dip the sponge
biscuits into coffee, and place on top. Top with some more of the cheesecake
mousse mixture, then a final layer of the mocha crumbs.
5. Coffee cheesecake pots can be served immediately, or chilled in the fridge until
ready to eat. 

@bozzmadyang