(VLOG) 1100 Orang Pecahkan Rekor MURI Masak Nasgor


Foto bozzmadyang

Menjadi bagian pemecah rekor MURI, gimana rasanya #madyangers?

Biasa ajah? Senang? Bangga? Ya relatif lah yaaa. But kalau aku sih happy-happy aja sehh. 

Bukan hanya karena dapet seperangkat alat masak loor yaa hahaaa, atau senang bisa jumpa kawan-kawan bloger, atau karena dapet kenalan baru, tentunya senang bisa andil dalam menyukseskan acara.

Laaa bareng 1100 orang aksi memasak nasi goreng serentak itu khan momen yang jarang-jarang. 

Sooo, serulah pokoknya ikutan acara yang digelar di pelataran Lotte Mart, kawasan Taman Surya, Kalideres, Jakarta Barat, Minggu (26/3/2017).

Awalnya sihh, aku ingin jepret-jepret mendokumentasikan acara sekaligus buat konten di instagram dan juga blog post. Ehhh tertarik juga menjadi peserta setelah bertemu teman-teman banyak yang ikutan heheee.  

Sooo, langsung deh mendaftar yang untungnya masih kebagian nomor di angka 807.  

Jadilah aku menjadi bagian acara yang bertajuk 'Cheers for 19th Years Anniversary'  itu. Dan beneran seruu lorrr. Gak percaya? Lihat neh videonya!

#salammadyang
@bossmadyang



Jangan Cuci Telur Kalau Mau Simpan di Kulkas, Kenapa?



Dulu waktu kecil, di kampong, orangtuaku beternak ayam petelur sebagai sampingan.

Lumayan banyak sihh, ribuan ekor. Hasil telurnya yaa dijual, atau sering ada pedagang yang ambil untuk dijual kembali. 

Ada juga telur yang dikonsumsi sendiri. Taruh di kulkas. 

Nah, ibuku yang sering menyimpannya. Yang bikin aku heran, itu telur kok ndak dicuci yaaa. Khan ada kotoran ayamnya yang menempel. Heran aku. 

Pengalaman lainnya, karena saking kotornya dan karena mau disimpan di kulkas, aku cuci telur.

Maksudnya yaaa biar kotoran ayam yang menempel tak ‘menular’ pada bahan makanan yang ada di kulkas. 

Ehh ternyata apa yang terjadi #madyangers? 

Saat besoknya mau bikin ceplok telur, itu telur dah busuk. Padahal biasanya tahan sampai berhari-hari saat disimpan dalam kulkas. 

Selidik punya selidik ternyata telur mentah memang tak boleh dicuci apalagi disikat. Kenapa?

Telur mentah mengandung ‘protective blomm’ yang melindungi telur dari bakteri, yakni bakteri salmonella. 

Nah lapisan itu pula yang melindungi calon anak ayam dari bakteri yang sama.

Kalau telur mentah itu kita cuci, apalagi disikat, maka pori-pori kulit telurnya akan terbuka sehingga rentan tercemar bakteri. Pori-pori ini tidak mudah terlihat dengan mata telanjang.

Nah mungkin pernah melihat telur yang super bersih yang dijual di toko-toko atau supermarket. Konon itu telur memang sudah dibersihkan dan disemprot dengan cairan lain yang bermaksud untuk melindungi dari bakteri. 

Sooo, hati-hati yaa #madyangers. Biarkan saja telur alami apa adanya. Itu lebih sehat. 

#SalamMadyang
Twitter/IG @bozzmadyang 

*Foto Ilustrasi Dokkumen Pribadi


Martabak Legenda Surken, Jualan Sejak Harga Masih Rp.250 Perak


Taukah #madyangers kuliner martabak legendaris di Bogor?   

Nah Martabak di Jalan Surya Kencana Bogor ini layak menjadi pilihan saat #madyangers ke Bogor. Martabak Encek namanya yang menjual martabak ala street food olahannya di pinggiran jalan. 

Meski di pinggiran jalan, martabak Encek selalu diserbu para pelanggan setianya. Mereka yang sudah sangat menyukai cita rasa martabak keju coklat manis yang melegenda. 

Sebut saja Encik yang kutemui sedang antri di samping gerobak maratabak Encek. Encik ini sudah lama menjadi pelanggan setianya. Bahkan rela antre berjam-jam menunggu martabak kegemarannya diolah.

“Martabak ini yaaa, bisa dimakan besoknya, teksturnya tetap empuk tidak jadi keras,” kata Encik diantara antrean pembeli lainnya. 
 
Memang ada yang berbeda dari martabak Encek ini. Diolah di atas bara arang bukan kompor gas atau semacamnya. Encek tangani semua pengolahan tanpa dibantu siapa pun alias tak ada ‘karyawan’ lainnya. 

Inilah yang mungkin menjadikan cita rasa martabak Encek tak berubah, meski sudah puluhan tahun. Yaaa Encek berjualan martabaks ejak saat masih muda, sejak masih single hingga saat ini memiliki cucu 4 orang. 

“Berjualan sejak muda, sejak harga martabak Rp. 250 perak sampai sekarang Rp. 60 ribu,” kata Encek menjawab pertanyaanku sambil menuangkan adonan martabak ke atas loyang.  
 
Aku mengangguk-angguk sambil berpikir, menebak-nebak kira-kira berjualan sejak tahun berapa yaaa. Tuuu martabak harga Rp. 250 perak broo!!

Olahan martabak Encek sekilas tak beda dengan umumnya. Berbahan tepung, telur, susu cair, margaring/ mentega, garam, gula, dan lain-lain.  Katanya siih tiap hari Encek membuat adonannya sebanyak 15 kg. Dan itu mampu menjadi 50-an loyang. 
 
Ada beberapa jenis martabak yang diolah, dengan rate harga mulai Rp. 40.000 - Rp. 60.000. Martabak yang digeari pelanggannnya adalah martabak keju coklat manis dengan harga Rp. 60.000.

Itu harga jual tertinggi martabak Encek. Wahhh lumayan banget yaaaa, harga bagus untuk sebuah makanan ala street food. Ehh katanya dari usaha menjual martabak ini, Kakek berusia 75 tahun ini sanggup membiayai sekolah anaknya di Amerika loorr. Wuiih.

Sayangnya aku gak punya waktu lama untuk menunggu antrean membeli. Pengen banget cicipin martabak Encek yang melegenda ini. Sementara kerumunan pembeli semakin banyak. Maklum saja Encek yang mulai buka jam 14.00 wib ini, dagangannya tak sampai magrib sudah habis.

Aku membayangkan kekek kurus yang sigap ini tanpa henti membuat adonan, meracik toping, memasaknya di atas bara arang, sejak buka sampai habis, tanpa henti. 

Bening bulir-bulir keringat menetes dari ujung hidungnya seperti yang kulihat siang itu, sudah puluhan tahun dirasakannya. Mengolah martabak dengan bersahaja, tanpa strategi marketing bertele-tele dan rumit, pembeli sudah mendatanginya.
Jangan pernah #madyangers  minta nomor ponsel Encek, untuk sekadar memesan. Encek tak akan berkenan memberinya. Jika minat membeli, datang saja di pojokan salah satu perempatan di kawasan Surya Kencana Bogor. 

Encek selalu ada sebelum malam datang, dengan martabak racikan dari tangan-tangan keriput penuh cerita. Karena Martabak Encek adalah legenda. 

#WeEatWeWrite #madyangers
Semua foto milik @bozzmadyang 

*Artikel ini ditayangkan juga di blog KOMPASIANA milik Penulis dengan judul: Martabak Legend Surken, Jualan Sejak Harga Masih Rp.250 Perak