In Event

Jelajah Gizi Malang, Jelajah Menjaga Eksistensi Kuliner Warisan Negeri (2)


Klasiknya Museum Angkut dan Kuliner Pasar Apung

“Bu lihat kemari Bu,” kataku sambil membidikkan kamera ke Ibu Ning, penjual Putu Tegal & Rangin Surabaya di atas perahu kecilnya, di Pasar Apung, Museum Angkut, Batu, malang. 

Itu momen saat hari jelang gelap ketika langkah kakiku dan peserta Jelajah Gizi Malang tiba di Museum Angkut. Pertama kali aku menginjak lokasi  museum transportasi dan tempat wisata modern yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur ini. 
Bu Ning. (foto bozzmadyang)
Temaram lampu yang menyala di sana sini, membuat petang itu seperti berpesta. Perahu-perahu kecil menawarkan dagangan kuliner. Kuliner khas tradisional. Beraneka ragam.

Seorang gadis penjaja akesoris tersenyum saat aku minta berpose dan kujepret sebelum aku masuk pintu De’ Topeng. Dipandu langsung oleh sang pemilik museum yang ternyata museum dibangun berawal  dari kegemarannya mengumpulkan barang-barang kuno. Bersama sang istri, kisah-kisah di balik benda-benda bersejarah ini begitu menarik. 
(foto bozzmadyang)
Menarik menyusuri museum De’Topeng berasa menyusuri masa lalu. Betapa tidak, aneka benda-benda bersejarah, uang logam, patung batu, batik, budaya adat, dan lainnya. Patung Ganesha mengingatkan masa-masa kejayaan kerajaan. Begitu pula dengan koin logam, ataupun serat-serat tulisan dengan menggunakan getah pohon. Ada patung Loro Blonyo, berbusana pengantin Jawa.
(foto bozzmadyang)
(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)
Sensasi tak kalah seru, saat aku masuk ke museum angkut dengan beragam sarana transportasi dari berbagai negara. Beragam moda transportasi, motor, mobil kuno, kereta, sepeda gowes mengisi ruangan museum. Di sinilah aku bisa melihat beragam transportasi dari tradisional sampai modern. 

Berasa di Kota Batavia tempoe doeloe saat masuk ke Zona Sunda Kelapa dan Batavia. Lampion, lampu, dagangan rokok, pelabuhan, pedati dan alat transportasi tradisional membuat seperti di kota Jakarta tempoe doeloe. 
(foto bozzmadyang)
Di zona lain, sempat blusukan ke zona Gangster Town and Broadway Street. Ini kota para gangster. Dengan transportasi motor mobil dan motor yang unik cenderung seram. Kayak sedang lihat acting film saja di sini. Klop dengan para pemerannya. Kota juga dinaungi lampu-lampu layaknya kota Gangster. Seram namun seru!
(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)

Sayang tak banyak waktu yang tersedia. Hari sudah malam. Aku dan teman satu tim yang dibentuk saat di perkebunan Kusuma Agro Wisata, dengan nama tim “Menjes’ harus menyelesaikan tugas, yakni photo di patungnya manusia hijau ‘Hulk’. Lumayan pusing juga nyarinya yang ternyata dekat dengan pintu akhir. Tugas selesai.

Pasar Apung menjadi blusukan berikutnya, saat tugas mencari 3 macam jenis makanan harus ditunaikan. Sukses deh. Meski kami lupa memfotonya, karena faktor lapar. Hahaa. 

Malam Eksotis di Pupuk Bawang  

“Wah kita nginep sini saja, pemandangannya keren,” kataku saat makan malam di Resto Pupuk Bawang kepada Prof Ahmad yang semeja. Tapi udaranya dingin eeuyy, karena terbawa angin yang berhembus.

Duduk di bantalan sambil leyeh-leyeh sekaligus ngobrol dengan Prof Achmad. Sembari bolak balik mengambil makanan yang terhidang, khas Malang pastinya. Menu yang menghangatkan, ada bakso bakwan malang, dan wedang angsle. Untuk menambah energy ada rawon. Yang menarik perhatianku adalah sempol ayam. 
Sempol. (foto bozzmadyang)
Ini jenis jajanan street food, abang-abang alias pinggiran jalan yang lagi ngehits. Rasanya enak. Dinikmati dengan saos. Biasa dijual di alun-alun Malang Rp. 2000an. Saking enaknya (atau laagi pengen apa ya) saat ke hotel, tempat menginap, aku bawa beberapa tusuk. Puas deh.

Tentu jajanan Sempol ini menjadi bagian kuliner tradisional yang merakyat. Dijual bebas di alun-alun atau pun pinggiran jalan. Khasanh kuliner yang memperkaya budaya negeri.

Jambu Luwuk Resort Bernuansa Pegunungan bak di Luar Negeri

Jambuluwuk Resort, Batu itu tempat peserta Jelajah Gizi Malang menginap. Lokasinya oke. Penginapan dengan nama-nama kota. Aku di penginapan Jogjakarta, yang lain ada Semarang, Solo dan lain-lain. Datang saat malam jadi kami tak sempat menikmati suasana, ditambah badan yang lumayan letih.

Sabtu 14 Oktober 2017. Paginya, ternyata kawasan itu indah banget. Jauh memandang Gunung Arjuna seperti menyapa Selamat Pagi. Hawa khas pegunungan terasa, kuhirup dalam-dalam hingga paru-paru terasa penuh. Kuhembuskan, kuhirup berulang-ulang.  Aku menjepret agungnya Gunung Arjuna dan mengunggahnya di Instagram. Komentar dari kawan menyadarkanku, bahwa tempat ini bak di luar negeri!
(foto bozzmadyang)

(foto bozzmadyang)
Berlanjut sarapan. Sudah pastiu menu ala Malang terhidang. Aku gak biasa sarapan pada jam 07.00 wib seperti pagi itu. Jadi ketela dan bubur sumsum jadi menu sehatku ditemani dengan jus. Cukuplah. Suasana teras nyaman memanjakan mata dengan pemandangan alamnya. Gunung Arjuna tetap menawan di kejauhan. Pohon menghijau di kejauhan. Sementara irama senam pagi yang entah dimana, terdengar sayup dari bawah. Pagi yang sempurna!

Namun aku mesti beranjak, jam 08.00 wib jadwal jelajah destinasi berikutnya. Semangat pagi!

Surga dan Neraka di Coban Rondo   

Olahraga pagi ala Jelajah Gizi Malang, ya nge-games. Aneka permainan yang dikemas menarik bikin riang dan tertawa.  Ada tebak nama makanan hanya dengan icip-icipp. Bersama tim Menjes, meski gak bener semua namun bisa nebak beberapa. Dari icip-icip 5 makanan, 2 meleset. Jenang Apel, Brem, adalah diantaranya yang ketebak. Ada games nutrisi, terus berlanjut bermain Treasure Hunt di Labirin.

Wah ini susah juga karena ada 4 clue yang harus dicari dan ditemukan. Aku yang bertugas di menara memberi petunjuk jalan. Sesuai kesepakatan tim Menjes,kode kanan adalah telunjuk satu (surga). 
(foto bozzmadyang)
Kode 2 telunjuk adalah ke kiri (neraka). Terus 3  jari adalah lurus, dan 4 jari adalah mundur. Susah juga karena kadang tim gak kelihatan di gerumbul tanaman yang tingginya melampaui mereka. Maafkan kawan, aku sempat bingung ngarahinnya! But sukses deh bisa menemukan 4 clue.

Nah clue itu ternyata untuk menebak sebuah profesi yang misterius. Mumet dan bikin pening. Meski akhirnya nebak jawabannya adalah Marketing!

Games berikutnya ini menurutku menarik. Menghias ban dengan tanaman. Ini ada pesan moral untuk mencintai tanaman, mempercantik dan memotivasi dengan yang hijau-hijau. Jadi ada ban mobil bekas yang bebas di cat warna warni. Lalu aneka tanaman ditaruh di tengahnya. Dibuat seperti taman kecil, secantik mungkin. Semua games itu dinilai secara tim dan diakumulasikan untuk akhirnya bisa ditentukan pemenangnya. 
(foto bozzmadyang)
Spicy Enthog Aceh Dancok

Makan siang mampir di Daun Coklat alias Dancok yang berada di seberang area labirin. Gak jauh. Menu Enthog Aceh ala Dancok menggoda banget. Warna kecoklatan pekat dengan potongan dagingnya menarik perhatianku. Apalagi lama gak pernah makan daging enthog. 

Bagiku menu ini special, karena jarang makan ginian. Selain itu ada minuman es coklat yang  ‘nendang’ dan menyegarkan. 

(foto bozzmadyang)
Rindang di Dancok. (bozzmadyang)

(bozzmadyang)
Suasana yang menarik di Dancok ini bukan hanya menunya, namun area lokasi yang berupa lereng dengan pepohonan tinggi menjulang.  Cahaya matahari mengintip di sela-sela dedauanan. Spot cantik untuk selfie dan welfie disediakan. Diantara pepohonan dibangun fasilitas ayunan dan tempat menikmati alam di kejauhan berbahan kayu. 

Udaranya sejuk menyegarkan. Dan memasak di lokasi ini semakin membuat seru acara.

@bozzmadyang

Tulisan ini ditayangkan juga di www.sarihusada.co.id dengan judul: Jelajah Gizi Malang, Jelajah Menjaga Eksistensi Kuliner Warisan Negeri (2)

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Featured Post

Saat Tau Makanannya Gak Enak, Food Blogger Mesti Motret, Gimana Ya?

SEBAGAI Food Blogger kecuali sering icip-icip makanan dan minuman beraneka rupa, dalam   menuliskannya tentu sangat butuh foto-foto...

Google+ Followers

Viva LOG