In Event

Jelajah Gizi Malang, Jelajah Menjaga Eksistensi Kuliner Warisan Negeri (3)



Ditantang Masak Rawon Steak ala Chef Revo, Siapa Takut!

Steak Rawon? Ya, itu menu belum ada di dunia hahaa. Soalnya baru diperkenalkan oleh Chef Revo, finalis Junior Masterchef season 1! Meski baru berusia 14 tahun, welaah, wawasannya soal masak memasak jangan ditanya, luass! 

Nah Revo unjuk gigi dengan demo masak menu yaitu Apple Salad, Rawon Steak dan juga bikin minuman Lemon Teleng Tea. Apple Salad ini jenis olahan apel manalagi. Dibuat sedemikian rupa menjadi menu sehat kaya sayuran dan buah. 
Chef Revo demo masak. (foto: bozzmadyang)
Nah yang seru adalah demo Rawon Steak. Menu original karya Revo yang memadukan ala Barat dan Indonesia. Daging sapi menjadi bahan utama. Berbumbu local khas rawon yang dipadu dengan kluwak! Ya kluwak yang berbentuk bulat berkulit keras. Aku mesti membantingnya di lantai semen saat demo masak tim. Kok buat bumbu sih ya?

“Kluwak ini bisa menjadi antioksidan. Baik untuk tubuh,” jelas Prof. Ahmad yang setia menjelaskan nutizi dan gizi bahan makanan selama Revo demo masak.  

Ditutup dengan minuman sehat dan menyegarkan Lemon Teleng Tea. Minuman yang dipadu dnegan bunga Teleng yang berkhasiat antioksidan juga. Warna bunganya cantik, kebiruan, warna favoritku hehee. 
(foto: bozzmadyang)
Menyimak demo masak Chef Revo, khususnya Rawon Steak dengan racikan bumbu/ rempah local menjadi menarik. Setidaknya racikan bumbu itu menjadi kunci masakannya, tidak menggunakan penyedap rasa. Masakan dengan racikan rempah-rempah itu khas dan ciri masakan nusantara.

Melongok Industri Tempe, Kampung Tematik Desa Sanan

“SANAN, Sentra Industri Tempe dan Keripik Tempe,” itu tulisan terpampang jelas di gapura masuk Desa Sanan, yang aku lihat. 

(foto: bozzmadyang)
Desa wisata tematik, Desa Sanan menjadi tujuan jelajah Gizi Malang. Bagiku mengunjungi industry pembuatan tempe menjadi pengalaman yang berharga. Dipandu oleh Pak Arif, kami berkesempatan mengenal proses pembuatan tempe, kripik tempe. Ternyata pembuatan tempe cukup berliku dan butuh pengalaman. Di sini juga aku tau bahwa limbah tempe diolah menjadi pakan ternak.

Melihat bagaimana kedelai dicuci, dihamparkan setelah dikasih ragi tempe, hingga tempe dipotong tipis-tipis diolah menjadi keripik aneka rasa. Ada proses peragian dengan menggunakan ragi khusus. Ternyata tak sembarang ragi dipakai, untuk mendapatkan tempe yang berkualitas. Tempe yang tak mudah sobek saat digoreng (maklum mesti dipotong tipis) dan bercita rasa enak. 

Takjub juga melihat proses pemotongan tempe tipis-tipis dengan cara manual! Kudu berpengalaman agar bisa melakukannya. Meski ada juga proses yang dilakukan dengan menggunakan mesin. Namun cara manual juga masih banyak diterapkan.

(foto: bozzmadyang)
Untuk dibuat keripik, tempe cukup digoreng kering. Ada bermacam rasa. Namun dijelaskan bahwa favorit tetaplah rasa original alias asli. Itu yang kurasakan saat mencicipi tempe keripik yang baru habis digoreng. Renyah dan gurih. Eh lumayan juga sih dibawain satu kotak aneka rasa keripik tempe, buat oleh-oleh rekan kantor deh. Hehehee.

Pembuatan tempe dan keripik dilakukan ‘rumahan’ oleh warga Sanan. Berbeda-beda kemampuan mengolah dalam seharinya. Ada yang mencapai ratusan kilogram bahkan hingga ukuran ton. Hasil dari industry tempe itu terlihat dari infrasturktur jalan yang bagus, dan rumah-rumah yang tertata bagus. 
Meski pasaran masih local, namun industri tempe Sanan ini tak kesulitan di pemasaran. Nama yang populer turut menetukan.  Dan pastinya banyak wisatawan yang berkunjung ke Desa Sanan, gegara tempe! 

Dari Cwie Mie Malang Hingga Sop Buntut di Taman Indie  

Tak bosan menikmati menu berkuah hangat Cwie Mie dan Sop Buntut ala kuliner Malang. Kali ini menikmatinya di Taman Indie. Ini resto yang etnik dengan ornamen kayu yang kental budaya Jawa. Dua menu yang mendampingi menu ala khas Malang lainnya.  Makan malam yang tetap berkhas Malang ini menjadi menu di malam terakhir Jelajah Gizi Malang. Esoknya kami akan kembali ke ibukota dan lainnya. 
(foto: bozzmadyang)
Praktis malam itu acara diisi ringan dengan games, tebak makanan dalam kotak. Makanan yang hanya bisa dikenali dari bentuk dan baunya. Juga games mengambil bahan makanan dengan sumpit di atas kereta mainan yang berjalan. 
Diakhiri dengan pengumuman pemenang untuk Instagram Competition, Tim Terbaik, Peserta teraktif dan lainnya. Syukurlah aku kebagian menjadi pemenang di Photo Instagram Competition.  Malam yang indah!

Pelangi Cerah di Jodipan

Minggu, 15 Oktober 2017. Pagi cerah dari Hotel Ijen Suites, tempatku menginap. Hari ini hari terakhir di Malang. Pagi itu aku lebih banyak minum jamu yang tersedia di resto Hotel Ijen Suites. Jamu Beras Kencur dan Kunyit Asem. Itu jamu kesukaanku, yang terbiasa kuminum sejak kecil. 

Jam 08.00 wib, bus beranjak dari hotel. Jodipan, tujuannya. Itu kampong yang lagi ngehit belakangan ini. Kampung yang berwarna-warni dilihat dari kejauhan. Atap, genteng, dinding dicat dengan aneka warna terang. Seperti melihat Pelangi di Jodipan.
(foto: bozzmadyang)
 “Hai, ojo buang sampah nang ngisor, iso keno sirahku,” teriak seorang nenek di bawah. Kira-kira nenek itu bilang  jangan buang sampah sembarangan ke bawah, bisa terkena kepalanya.

Itu yang kudengar saat meniti jembatan naik menuju jembatan kaca. Memang sebaiknya tidak selayaknya pengunjung mengotori kampung yang dijaga kebersihannya. Pasalnya banyak wisatawan yang datang.  

Seperti Minggu itu, aku dan peserta Jelajah Gizi Malang lainnya mesti antre di jembatan kaca. Jembatan Kaca yang baru diresmikan awal Oktober 2017 ini, berkapasitas 50 orang. Jembatan di atas sungai itu membagi kampung menjadi dua, yakni kampung Tridi dan Kampung Warna-warni. Pengunjung dikutip Rp. 2000 saat lewat jembatan. 
(foto: bozzmadyang)
Kampung Wisata di Kota Malang, Jawa Timur ini berlokasi di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Dulunya adalah permukiman kumuh, seperti umumnya perkampungan pinggiran sungai.
Masalah utama adalah sanitasi. Hingga kemudian muncul ide konsep kampung warna warni. Ide yang diamini oleh warga kampong dan hadirnya sponsor cat. Lokasi dengan rumah dan genting yang dicat bak warna pelangi ini banyak dikunjungi wisatawan. 
Seperti akhir pekan ini saat aku ikut #JelajahGiziMalang 2017, pengunjung berjubel blusukan lewat gang-gang sempit yang sarat mural berbagai ragam di Kampung Tridi. Spot untuk foto-foto banyak banget dengan aneka tema mural. Ada tembok besar China, Wayang, Singa dan lain-lain.

Sementara di Kampung Warna-warni lebih berornamen hiasan di sepanjang gang. Rumah dan dinding tentu saja diwarnai dengan warna terang. Lumayan bersih di sepanjang jalur dari Jembatan kaca hingga naik ke jalan raya.
(foto: bozzmadyang)
Wajah kampong Tridi dan Kampung Warna-warni selayang pandang memberikan perubahan. Khususnya wajah kumuh kampong pinggiran sungai menjadi lebih indah. Dan tentunya akan memotivasi warga terlebih bisa mendatangkan dana yang bermanfaat bagi kampong mereka. 

Tentunya harapan warga bisa menjaga kebersihan yang ditunjang dengan perawatan sarana dan prasarana maka akan lebih berdampak baik bagi mereka. Otomatis wajah Malang juga turut terdampak positif. Tentu perubahan wajah itu semakin baik bila diikuti dengan habit warganya tentang perilaku sehat dalam keseharian, seperti menjaga sungai tidak digenangi sampah. 

RM Inggil, Antara Rumah Makan dan Museum Budaya 

Makan siang hari terakhir di malam, special. Itu menurutku mengingat pilihan tempat yang etnik dan berbudaya banget. RM Inggil Malang. Sebuah rumah makan yang tak biasa. Ada museum di depan rumah makan. Unik. Desain museum dengan aneka lukisan, pernik topeng, telepon jadul, kaset pita dan lain-lain.

(foto: bozzmadyang)

(foto: bozzmadyang)

(foto: bozzmadyang)
Menikmati menu di sini tentu berbeda dengan balutan aroma nuansa tempoe doeloe yang kental. Pilihan lokasi yang sangat berkesan untuk rumah makan ini. 

Jelajah Gizi Malang adalah Catatan Berharga 

Tak kupungkiri waktu 3 hari 2 malam turut dalam acara Jelajah Gizi Malang adalah pengalaman berharga. Bagaimana pun banyak member wawasan baru tentang khasanah kuliner Malang dan destinasi wisatanya. Juga mengenal lebih dekat peran masyarakat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kampung Sanan dan Jodipan, itu inspiratif. Bisa menjadi contoh bagi desa lainnya di tanah air. 

Kehidupan yang diciptakan dengan konsep kampong tematik, industry tempe dan kampong wisata membawa perubahan yang positif bagi warganya. Sementara kuliner Malang yang khas dan lestari oleh para pelaku usaha kulinernya tentu menjadi catatan tersendiri. Bahwa siapa pun bisa berperan serta dalam menjaga eksistensi kuliner warisan budaya negeri, dengan masing-masing cara. 
(foto: dadangtrippo)
Termasuk aku sebagai bloger, food bloger, bertanggungjawab turut serta menjaga lestarinya kuliner melalui tulisan. Paling tidak aku bisa mengajak kawan-kawan bloger di Komunitas Kompasianer Penggila Kuliner (KPK) Kompasiana untuk lebih aktif menuliskan tentang kuliner nusantara. 

Menuliskannya, membingkainya, merekamnya, mendokumentasikannya dan menyebarkannya. Harapannya bisa semakin bermanfaat dan turut melestarikan kuliner tradisioanal agar tetap bertahan di tengah gempuran kuliner dari mancangera.

Itu yang aku petik dari partisipasi di jelajah Gizi Malang. Aku berkewajiban menjaga eksistensi kuliner warisan negeri bersama siapa pun yang memiliki kepedulian yang sama. Aku punya  kesempatan mencatat dan memiliki sejarah, melalui budaya kuliner. Semoga. 

Terima kasih kepada Danone  dan Nutricia SariHusada untuk kesempatan turut menjelajahi kuliner Malang di Jelajah Gizi ke 5, Jelajah Gizi Malang. Semangat!
@bozzmadyang

Tulisan ini ditayangkan juga di www.sarihusada.co.id dengan judul: Jelajah Gizi Malang, Jelajah Menjaga Eksistensi Kuliner Warisan Negeri (3)

Related Articles

2 comments:

NOVI OCTORA said...

Jelajah kuliner kayak gini nih kudu sering di lakukan, ben ilat kita sebagai bangsa Indonesia tetap terjaga kearifan lokalnya

Rahab G said...

NOVI OCTORA: iya bener banget....kuliner tradisional membawa identitas bangsa, kusu dilestarikan dgn aksi2 spt jelajah gizi ini...agar tetap eksis ditengah gempuran membanjirnya kuliner mancanegara... #JelajahGiziMalang

Post a Comment

Featured Post

Saat Tau Makanannya Gak Enak, Food Blogger Mesti Motret, Gimana Ya?

SEBAGAI Food Blogger kecuali sering icip-icip makanan dan minuman beraneka rupa, dalam   menuliskannya tentu sangat butuh foto-foto...

Google+ Followers

Viva LOG