Menggali Fakta yang Benar Tentang MSG dan Merawat Budaya Betawi di Ajang Umami Food Marathon Bareng Ajinomoto dan Tabloid Bintang

Foto Bozz Madyang

MSG (Mono Sodium Glutamate) umum digunakan sebagai bumbu penyedap rasa di beragam masakan sehari-hari. Namun tak sedikit yang berupaya menghindarinya.  Kesan yang melekat di benak umum menganggap MSG atau sering disebut micin itu membuat bodoh atau tak sehat.

Tjap “Generasi Micin” itu yang sering digunakan untuk menyebut sebagai sinonim bagi orang bodoh. Bahkan ada teman saya yang berpendapat lebih baik mabok daripada makan micin. Laah!! Benarkah demikian? Apa kata ahli gizi, chef professional, dan produsen MSG  tentang fakta MSG ini?

Lalu mengapa pelaku usaha kuliner tak sedikit yang menggunakan MSG sebagai penguat rasa masakannya?

Sebut saja usaha kuliner ternama seperti Warung Mak Dower di Rawamangun Jakarta Timur, Soto Betawi H. Husen di Setiabudi Jakarta, serta pelaku usaha Kerak Telor yang notabene mengusung kuliner Betawi tak ragu menggunakan MSG ini.

Tak takutkah mereka, menu jualannya dihindari konsumennya? Faktanya ternyata pembeli mereka tetap ramai. Antrean pembeli jamak terjadi dalam kesehariannya.
 
Warung Mak Dower yang menggunakan Ajinomoto dalam masakannya. (Foto Bozz Madyang)
Bagiku ada nilai penting dibaliknya. Pertama, pelaku usaha menggunakan MSG disamping bumbu dasar itu sadar dan cukup memahami fakta tentang MSG dan juga sejauh mana tingkat keamanan MSG saat digunakan.

Kedua, penggunaan MSG yang tepat sebagai penguat rasa membuat cita rasa masakan khas kuliner Betawi itu selalu ‘hidup’ dan disukai oleh konsumennya. Efeknya kuliner Betawi tetap disukai dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Aku bilang dengan demikian secara tak langsung turut merawat kuliner Betawi tetap ‘hidup’ dan lestari di masyarakat. Ini penting! Bukankah budaya tradisional  (termasuk kuliner tradisional ) – dalam hal ini kuliner Betawi -  harus dijaga eksistensinya?

Nah, pertanyaan-pertanyaan di atas, terjawab saat aku mengikuti rangkaian acara Umami Food Marathon bareng Ajinomoto dan Tabloid Bintang yang digelar Sabtu, 16 Desember 2017. Ajang yang seru dan bermanfaat karena disamping trip marathon kuliner khas Betawi, mengenal budaya Betawi sekaligus memperoleh informasi  yang berharga khususnya tentang fakta MSG dalam acara fun talkshow bareng ahli gizi dan chef.  

Trip kuliner dengan tajuk Umami Food Marathon, menjelajahi kuliner Betawi di Warung Mak Dower, Rawamangun Jakarta Timur, Soto Betawi H. Husen di Setiabudi Jakarta, serta workshop Kerak Telor dan Bir Pletok di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jelas ketiga lokasi itu sangat kental dengan budaya kuliner Betawi.

Bahkan kami juga mengenal budaya Betawi lainnya, seperti kain batik, alat musik, wayang dan lain-lain  saat mengunjungi Musem Betawi di Setu babakan. Juga mengenal batik Betawi saat berkunjung dan melihat langsung para pembatik tulis membatik di kawasan Setu Babakan.

Ini ceritaku secara utuh saat ikut Umami Food Marathon di ajang Blogger Gathering Ajinomoto dan Tabloid Bintang. Acara seharian itu menjelajah mulai dari Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan menggunakan transportasi minibus. 20 food blogger turut dalam acara. Seru dan bermanfaat banget untuk para penggila kuliner. Ehh jangan lupa lihat juga video keseruannya berdurasi 6,25 menit  yang aku buat yaah. Cekidot.

Dapur Umami dan Produk Ajinomoto yang Melegenda 

Dapur Umami itu ada di kawasan kantor Ajinomoto Jl. Laksda Yos Sudarso, Sunter, Jakarta Utara, tempat meeting poin acara bareng Ajinomoto dan Tabloid Bintang.

Dapur Umami ini berbagi resep-resep yang mudah, menyenangkan dan menyehatkan melalui website dan media socialnya. Salah satunya bisa di cek di akun instagramnya @dapurumami.id. Banyak resep masakan loh, cocok buat ibu-ibu, perempuan dan yang demen masak.

Senang melihat dapurnya dari jarak dekat. Bersih dan tertata rapi. Di dalamnya banyak peralatan dapur seperti kompor gas, aneka piring, panci, wajan dan sebagainya. Itu kesanku saat masuk ke ruangannya pada Sabtu 16 Desember 2017 sebelum  jam menunjuk angka 7 pagi!  
Aku di dapur Umami. (Dokpri)
Mengintip dapur Umami. (Foto Bozz Madyang)

Di meja tertata rapi dan apik berbagai penghargaan yang diperoleh Ajinomoto, sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), plakat ucapan, seperti dari Pamulang Estate, Tangerang Selatan dan lain-lain. Ada yang menarik perhatianku yakni benda di meja dekat dengan meja dapur. Benda diantara beragam produk Ajinomoto, seperti masako, sajiku tepung bumbu, sajiku bumbu praktis, ajinomoto,  saori dan lain-lain. Itu … mangkok ajinomoto! 
Produk Ajinomoto dan mangkok legend. (Foto Bozz Madyang)
Mangkok legend, aku langsung teringat jaman di kampung dulu, tiap jajan makan baso atau pun mie ayam, mangkok itulah yang sering digunakan. Pastinya lama banget ya, pantesan saja Ajinomoto Tokyo saja  memproduksi penyedap rasa sejak 1909. Kalau di Indonesia sejak kapan Ajinomoto beroperasi?

PT Ajinomoto Indonesia berdiri tahun 1969 di Jakarta. Pabrik pertama didirikan pada tahun 1970 di Mojokerto-Jawa Timur dengan produk utama penyedap rasa dengan merek Aji-no-moto. (sumber www.ajinomoto.co.id)

Nah acara dibuka oleh pemandu acara yang gokil dan meriah, Joan Brigita. Cucok bokk, pagi-pagi mesti dibakar semangat dengan celotehannya yang renyah. Lalu kata sambutan dari  Bapak M. Fachrurozy, selaku Departemen Manager Public Relation PT. Ajinomoto Indonesia. Beliau mengucapkan terima kasih dengan kehadiran food blogger dan berharap bisa merasakan rangkaian acara, demo masak, workshop, trip kuliner.

“Kami juga mengundang chef dan ahli gizi agar bisa memberikan informasi bermanfaat dan bisa ditulis secara ilmiah terkait MSG agar masyarakat bisa tercerahkan,” ujar Pak M. Fachrurozy yang akrab dipanggil Pak Oji dan telah puluhan tahun bekerja di Ajinomoto Indonesia. 
M. Fachrurozy selaku Departemen Manager Public Relation PT. Ajinomoto Indonesia beri kata pembuka. (Foto Bozz Madyang)
Sekilas tentang PT. Ajinomoto Indonesia,membuka  pabrik pertama di Mojokerto, Jawa Timur, disusul pabrik kedua di Karawang yang didirikan pada tahun 2012 dengan tujuan memenuhi kebutuhan produk-produk bumbu masak bagi masyarakat Indonesia.

PT Ajinomoto Indonesia adalah salah satu anggota Group Ajinomoto Indonesia. Group Ajinomoto Indonesia saat ini sudah banyak menciptakan produk seperti  AJI-NO-MOTO, Masako bumbu kaldu penyedap, Sajiku  bumbu prakts siap saji, SAORI bumbu masakan Asia dan Mayumi mayonanaise yummy.  Itu cerminan Ajinomoto dalam menciptakan produk yang unik di bidang makanan dengan merealisasikan filosofi “Eat Well, Live Well.

Citarasa Pedas Kuliner Betawi di Warung Mak Dower

Selesai acara di Dapur Umami, maka trip kulineran Umami Food Marathon pun dimulai. Destinasi pertama adalah Warung Mak Dower, Rawamangun, Jakarta Timur. Lokasinya tak lama dicapai dengan mini bus. Maklum Sabtu jadi jalan cukup ‘lega’ gak terlalu macet, apalagi masih pagi. 
Warung Mak Dower, Rawamangun. (Foto Bozz Madyang)
Warung terlihat sederhana namun lumayan menampung banyak orang. Parkirannya lumayan luas.  Ada terpampang jelas tulisan Warung Mak Dower Kuliner khas Betawi “Pedasnya nampol, sambelnya bikin sewot” di atas warung sederhana itu. Bangunan kayu dengan meja kayu dan bangku panjang tersedia. 

Bangku-bangku panjang itumungkin untuk pembeli yang rombongan atau kelompok. Jadi bisa langsung duduk ramai-ramai. Okelah asyik juga. Eh jangan salah, meski warung nampak sederhana, namun banyak artis datang makan kemari looh.

Tak lama dihidangkan aneka menu khas Betawi di meja yang lumayan panjang. Menu dalam ‘piringan’ itu membersitkan selera saat melihatnya.  Itu jengkol! Pete! Wah wah wah, air liur rasanya langsung menetes. Favoritkuuuu!
Suasana Blogger Gathering di Warung Mak Dower. (Foto Bozz Madyang)
Banyak menu tradisional Betawi yang dihidangkan dengan nama-nama unik! Catet neh menu yang dihidangkan buat kami, ada tulang jambal sewot, cue ngacir, tutut ngibrit, genjer centil, cumi lenong, pecak bandeng, gabus pucung, udang lenjeh, jengkol nampol, sayur asem demplon dan  minumannya? Es ondel-ondel (Rp. 20 ribu).

Sebenarnya masih banyak lagi menu-menunya dengan nama unik yang tak dihidangkan. Yaaaa kalau dihidangkan semua, mana habis hahaaa.  

Pecak Bandeng. (Foto Bozz Madyang)

Tulang Jambal Sewot. (Foto Bozz Madyang)

Udang lenjeh. (Foto Bozz Madyang)

Jengkol nampol. (Foto Bozz Madyang)

Dua piring Cue Ngacir yang tengah. (Foto Bozz Madyang)
Aneka menu Warung Mak Dower. (Foto Bozz Madyang)
Aku pastikan cicipin menu yang dihidangkan. Tak terlewat. Sayang banget kalau terlewat heheee. Cuman yaa, aku jaga gak terlalu banyak, biar perut masih bisa nampung untuk kulineran berikutnya hehee. Serius cita rasanya semua aku suka. Pedas dan agak asin.

Pecak bandeng (Rp. 45 ribu) dengan irisan bawang, jeruk rasanya tak terlalu asin. Gabus pucung (Rp. 35 ribu) dengan kuah kehitamannya sensasional. Ini khas Betawinya dan sangat populer.
Gabus Pucung, kuliner Betawi banget. (Foto Bozz Madyang)

Lalu ada tulang jambal sewot (Rp. 26 ribu) yang bikin sewot karena enak pedas jambalnya tapi banyak tulangnya hahaa. Jengkol nampol (Rp. 20 ribu) yang selalu joss dan ikan cue ngacir (Rp. 32 ribu) dengan irisan bawang yang gurih.  
Daftar menu dan harga Warung Mak Dower Desember 2017. (Foto Bozz Madyang)
Ehh genjer centilnya dicampur dengan oncom, enak. Wah genjer pun bisa diolah sedemikian maknyos. Ada lagi cumi lenong (Rp. 35 ribu) asin-asin segar, ini aku habis banyak. Dan favoritku adalah udang lenjeh (Rp. 38 ribu). Ini enak banget dengan pete yang gurih banget. Wajar saja saat food blogger boleh bungkusin tuh menu, udang lenjeh ini tak bersisa. Hahahaa. Tak ketinggalan mencoba sayur asem demplon yang segar.

“Belum pas kalau datang ke sini gak cicipin sayur asem demplon,” celetuk Pak Wandi owner Warung Mak Dower. Yaa ya ya, oke, aku pun cicipin sayur asem yang memang tak asing bagiku.

Eh ada pilihan paket sayur asem dengan aneka lauk juga. jadi memudahkan pembeli dalam memilih. Harga bervariasi.

Eh apa rahasia enaknya menu Warung Dower ini? Racikan bumbu dasar menjadi kuncinya dengan menampilkan cita rasa pedas. Dan menurut Pak Wandi semua masakan menggunakan Ajinomoto. Sampai saat ini tak masalah dengan pembeli dan penikmat menu di warungnya itu.

Fun Cooking Demo dengan Chef Ari Galih

Masih di Warung Mak Dower, digelar demo masak plus talkshow. Demo masak diperagakan oleh Chef Ari Galih  didampingi ahli gizi, mbak Dr Dyah Eka Andayani SPGK, M.Gizi serta Pak Oji. Jadi lengkap rasanya ada penjelasan tentang gizinya. Demo masak menyajikan menu Gabus Pucung dan Pecak bandeng. 

Hal yang menarik adalah ketika Chef Ari membuat bumbu dasar dengan diuleg, bukan diblender. Itu lebih menampilkan rasa yang beda. Tips masak gabus pucungnya tetap gunakan gula. Bumbu ada kemiri, laos, kunyit, dan lain-lain. Chef Ari saran untuk ketumbar jangan beli sachetan.

“Pakai kunyit biar wangi,” jelasnya sambil menyatakan menggunakan ajinomoto di akhir masakan.

Menariknya gabus pucung ini menggunakan kluwek, yang memberikan efek warna kehitaman. Kluwek ini bermanfaat banget lor.  Kluwek itu anti oksidan apalagi dipadu dengan ikan gabus yang sarat protein.

“Ikan mengandung protein hewani yang bagus untuk jantung, menurunkan kholesterol,” ujar Dr. Dyah yang mendampingi Chef Ari.
Demo masak Chef Ari. (Foto Bozz Madyang)
Chef Ari galih in action. (Foto Bozz Madyang)
Tips dari Chef, gunakan bumbu dasar dulu. Mesti percaya diri dengan bumbu racikan sendiri. Baru kemudian boleh dikasih penguat rasa, seperti ajinomoto. Rasakan taste dulu, baru dikasih ajinomoto sesuai selera. 

Pada kesempatan itu Chef Ari memberikan tips untuk mengolah sayuran, seperti brokoli, jangan dikukus, cukup siapkan air mendidih masukkan brokoli 30 detik, masukin ke dalam air dingin, stop cooking.  Itu diamini oleh Dr Dyah, bahwa untuk sayur sebaiknya masukkan air mendidih paling lama 30 detik karena kandungan vitamin itu cepat rusak kalau dipanaskan.  
Dr Dyah ahli gizi mendampingi Chef Ari sambil menjelaskan olahan masakan  dari sudut gizinya. (Foto Bozz Madyang)
 
Gabus Pucung karya Chef Ari saat fun cooking. (Foto Bozz Madyang)


Pecak bandeng karya Chef Ari saat fun cooking. (Foto Bozz Madyang)
Fakta Tentang MSG, “Aman Dikonsumsi” 

Warung Mak dower, menurut Wandi menggunakan Ajinomoto dalam setiap masakannya, sebagai penguat rasa. Dr. Dyah mengatakan bahwa kita memasak rasa berbeda-beda. Salah satu kuncinya ada di taste Umami yang di dapet penguat rasanya itu. Ada glutamate yang merasangsang indera pengecap. Memberi rasa gurih. Gurih itu didapat dengan menambahkan penguat rasa Ajinomoto. Salah satunya bisa menambah nafsu makan.

“Kalau gak nafsu makan, tambahin 'sakiprit' (sedikit) penguat rasa seperti Ajinomoto,” ujar dr. Dyah.  
Dr Dyah (berjilbab) sedang jelaskan soal gizi di fun cooking saat Blogger Gathering. (Foto Bozz Madyang)
Penguat rasa boleh ditambahkan di awal, tengah, akhir memasak. Tapi lebih baik di akhir masakan.  Chef Ari, sharing pengalaman tentang MSG ini. Dirinya sejak 2008 masak tidak menggunakan MSG karena dulu dia memasak western food. Menurutnya orang bule tak gunakan MSG karena lidahnya terbiasa dengan butter. Beda dengan lidah orang Asia/ Indonesia. Jadi alasan orang bule tidak pakai MSG bukan karena bisa membuat sakit atau bodoh.  

“Kita gak boleh, ujug-ujug bilang bisa jadi orang stupid, orang jadi sakit karena MSG. Berdasarkan jurnal yang saya baca, gak ada orang bodoh karena makan MSG,” jelas Chef Ari.

Chef Ari jelaskan bahwa MSG sudah ada sejak lama, jaman Romawi. Romawi menggunakan MSG dengan fermentasi ikan. Itulah after taste-nya. Jangan Pengguna MSG terbesar Tiongkok, Jepang dan Skandinavia.

Menurut Chef Ari, memasak kita tetap harus mengedepankan Indonesian taste, rempah-rempah harus keluar. Rasain dulu awalnya jangan dikasih MSG. After tastenya penyeimbang rasa bisa pakai ajinomoto.

“MSG itu lebih baik dipakai sesuai takaran, tidak membahayakan,”
ujar Chef Ari. 
Narsum dari kiri ke kanan: Dr Dyah, Chef Ari dan Pak Fachrurozy. (Foto Bozz Madyang)
Menurutnya penyedap rasa itu penyeimbang di akhir makanan. Jika belum pas, pakai saja secukupnya. Di satu sisi BPOM  pun menyatakan digunakan secukupnya.  

Sementara Pak Oji berkisah tentang kemunculan MSG. MSG ditemukan professor ahli kimia dari Jepang bernama Kikunae Ikeda. Sebelum menemukan itu ia belajar di Jerman yang banyak makanan Eropa. Ada satu unsur yang enak. Saat Ikeda kembali ke Jepang pikiran terusik dengan unsur yang membuat enak makanan itu.

Suatu saat, dia makan malam, makan sup rasanya sama seperti saat di Eropa. Ternyata orang Jepang menambahkan Kombu yang mengandung asam amino yang namanya glutamat.   
Pak M Fachrurozy jelaskan tentang MSG. (Foto Bozz Madyang)
Kikunae Ikeda adalah peneliti jadi tak bisa memproduksi besar-besaran. Dia bertemu pengusaha namanya Suzuki, berbagi paten lalu dikembangkan penemuan itu, besar-besaran, hingga lahir Ajinomoto yang artinya “sumber rasa”. 

Jadi bisa disimpulkan MSG itu mengandung glutamate yang merupakan unsur gizi, sumber protein. Bahkan MSG itu ada di bahan makanan seperti saos, daging, ikan dan lain-lain ada. Tak pakai langsung tapi ada unsur-unsur di dalamnya ada glutamatnya. 

Mendengar penjelasan dari ketiga narsum bisa disimpulkan bahwa secara ilmiah tidak tepat rumor yang beredar yang mengatakan  MSG itu membuat orang bodoh, “generasi micin’.  Padahal yang menemukan saja seorang professor, ahli kimia, Ikeda.

Pakai sesuai takaran. Jika menggunakan MSG berlebihan pun, makanan malah menjadi tidak enak. Jadi rasakan takaran yang pas lewat rasa. Itu aman. Sooo, penting banget mengetahui fakta yang benar tentang MSG agar tak salah persepsi.

Menikmati Soto Betawi H. Husen nan Legendaris

Hujan deras mengguyur kawasan Setiabudi, Manggarai, saat rombongan #UmamiFoodMarathon tiba di warung yang tak besar itu. Jalannya sempit tak leluasa apalagi ramai kendaraan.

Alamak! Ramai banget warung Soto Betawi Haji Husen itu, meski jam baru menunjukkan angka 11.00 wib, belum jam makan siang! Jadi kami pun mesti cari-cari bangku kosong. Untung dapet kursi meski dempet-dempetan. Gapapalah, jadi hangat di hari hujan deras hahaaa.  
Soto Betawi Haji husen, Manggarai. (Foto Bozz Madyang)

Namun begetulah warung yang sudah puluhan tahun berdiri itu. Selalu ramai oleh pembeli. Maklum ini bukan Soto Betawi biasa, tapi Soto Betawi legend!

Menurut Bayu, salah seorang karyawannya mengatakan sejak buka jam 07.00 wib akan habis sebelum jam makan siang.  Ternyata Soto Betawi cukup digemari ya. Hanya menyediakan menu Soto Betawi di sini. Lalu apa saja isi sotonya? 

“Isinya ada daging, jeroan, kaki, kulit kepala. Dijual sama harganya untuk soto dengan isi sesuai pesanan Rp. 30 ribu seporsi dan nasi Rp. 5000,” jelas Bayu saat kutanya. 
Soto Betawi H Husen, manggarai enak. (Foto Bozz Madyang)

Winda dan Dita menikmati Soto Betawinya. (Foto Bozz Madyang)
Jadi seporsi total cukup rogoh kocek Rp. 35 ribu. Belum termasuk minum. Warung Soto Betawi H Husen ini tak ada cabangnya.  Mencicipi soto Betawinya memang rasanya menyegarkan dengan kuah berwarna kuning dan panas. Isinya lumayan banyak.

Sayangnya saat mau pilih isi daging, sudah habis. Jadilah isinya pakai jeroan, paru dan teman-temannya. Puas menikmati soto Betawi di sini. Aku makan sotonya tak pakai nasi, sengaja agar original  mencicipi soto betawinya yang legendaris itu.
Ramai dan antre. (Foto Bozz Madyang)

Museum Betawi, Museum Khas Adat Budaya Betawi  

Setu Babakan itu populer sebagai lokasi wisata budaya Betawi. Di gerbang depan nampak megah dengan lantai putih nan bersih. Ada kesibukan dekorasi saat kami tiba di dalamnya.

“Nanti malam akan ada acara penganugerahan kehormatan adat Betawi untuk Gubernur dan wakilnya,” kata seorang pekerja yang sedang sibuk mendekor tiang dengan janur kuning. Oooo pantesan.

Di lokasi ini ada Syahroni sang pemandu yang biasa dipanggil Roni. Dia ramah menjelaskan seluk beluk fasilitas di Setu Babakan itu. Pertama kami masuk ke Museum Betawi di kiri ruangan setelah masuk pintu utama.  Ini merupakan museum peninggalan barang-barang kuno khas Betawi.  
Roni sang pemandu di Setu Babakan. (Foto Bozz Madyang)
Roni pemandu. (Foto Bozz Madyang)
Ada yang menarik di museum ini. Aku lihat di sudut museum lantai satu bagian belakang, ada lukisan besar dan warna-warni. Aku amati eh ternyata lukisan tersebut adalah 3 mantan Gubernur DKI Jakarta.  Ada lukisan dalam satu frame. Wajahnya sangat familiar! Sutiyoso, Fauzi Bowo, dan Joko Widodo.

Ada frame lain yang memuat ketiganya sedang duduk, sambil memegang bir pletok. Sementara  dihadapan mereka ada aneka kudapan kuliner Betawi, seperti es selendang mayang. 
Ada lukisan tiga mantan Gubernur DKI Jakarta. (Foto Bozz Madyang)
Kecuali itu museum ini memuat juga sepeda ontel. Ada juga wayang golek, pakaian adat Betawi, aneka kain batik, miniatur perahu adat, wayang kulit, oplet mini mirip opletnya si Doel di sinetron Si Doel Anak Sekolahan, mini bemo, alat-alat musik tanjidor, peralatan masak  dan masih banyak lagi.

“Rencana ke depan, di area Setu Babakan tidak boleh ada kendaraan roda dua dan empat kecuali delman dan  sepeda ontel sebagai transportasi di area dalam sini,” jelas Roni.

Wah jika kesampean tentu akan seperti Kota tua dengan aktivitas sepeda ontelnya. memang seeh lebih tenang dan memberi mata pencaharian bagi warga yang menyewakan sepeda ontelnya. Good!
Sepeda ontel. (Foto Bozz Madyang)

Di dalam Museum Betawi. (Foto Bozz Madyang)

Lantai 1 Museum Betawi setu babakan. (Foto Bozz Madyang)
Roni menjelaskan barang peninggalan kuno Betawi. (Foto Bozz Madyang)
Melihat Canting Pembatik Kain Batik Betawi  di Setu Babakan   

Ternyata ada aktivitas membatik di Setu Babakan. Lokasinya sekitar satu kilometer kali yah. Saat jalan lumayan keringatan. Menyisir sisi kanan Setu yang lumayan banyak penjual kaki lima. Penjual bir pletok, kerak telur sampai penjual aneka makanan dan minuman lainnya.  
Menyisiri Setu ke kegiatan membatik. (Foto Bozz Madyang)
Sebelum ujung masuk sedikit ada kain batik sedang diangin-anginkan. Warnanya biru bersih. Entah apa motifnya, maklum aku gak begitu paham batik hehee. Itu kain batik karya dari pembatik yang tergabung dalam Keluarga Batik Betawi Setu Babakan. 
Kain batik yang sudah jadi. (Foto Bozz Madyang)
Jelas kain batik adalah budaya Betawi yang harus dirawat dan dijaga kelestariannya. Dan di Setu babakan inilah salah satu pembatik yang turut melestarikan dengan memproduksi batik Betawi.

Ada 4 wanita muda yang sedang asyik membatik. Salah satunya Roha. Gadis itu sedang membatik pesanan dari pembeli. Gambarnya seperti kupu-kupu. Nampak dia cukup lihai memainkan cantingnya. Mencelupkan ke wajan kecil yang berisi ‘malam’, meniupnya lalu menggoreskannya ke kain. Aku pernah ikut workshop membatik saat di Tangerang Selatan. Gak gampang ternyata. Butuh kesabaran.

“Baru setahun di sini, sebelumnya di Cirebon,” kata Roha sambil tetap membatik di kain 2x2 meter itu, saat kutanya.  
Roha asyik membatik. (Foto Bozz Madyang)
Pembatik Setu Babakan. (Foto Bozz Madyang)
Hmmm cukup punya pengalaman dia membatik, jadi wajar gadis asli Cirebon ini cukup fasih membatiknya. Harga kain batik yang sudah jadi, untuk batik tulis bisa lebih dari Rp. 500 ribu. Lumayan juga yaa. Sebagai peninggalan budaya luhur sudah semestinya batik bernilai tinggi itu selalu dijaga.

Selain kegiatan membatik, ada galerinya juga. Isinya kain batik aneka rupa dengan motif dan warna beragam. Ada selendang, kain lebar dan lainnya. Aku cari slayer batik, cuma gak ada. Yayat yang membeli satu buah syal. Katanya buat dikalungkan di leher. 
Kain batik aneka ragam di galeri batik. (Foto Bozz Madyang)
Begini Cara Bikin Bir Pletok dan Kerak Telor Khas Betawi

Ada bangunan terpisah di Setu babakan yang ternyata itu biasa untuk acara. Kami disambut tarian khas Betawi yang ditarikan 4 penari perempuan cantik. Musik khas Betawi mengiring tarian kreasi bernama Ngecak Setapak.  
Disambut tarian kreasi Ngecak Setapak. (Foto Bozz Madyang)
Di ruangan terbuka itulah acara berikutnya digelar, yakni workshop Bir Pletok dan Kerak Telor. Bir Pletok  jelas makanan dan minuman Betawi banget yang sangat populer. Minuman ini menyehatkan karena dibuat dari rempah-rempah.

Ada Bu Aci dan Bu Ika memberikan workshop cara membuat minuman khas Betawi Bir Pletok. Nama bir pletok sejarahnya jaman Belanda, bir yang beralkohol. Lalu warga pribumi membuat bir yang tak beralkohol. Dimasukkan ke bambu, bunyinya pletok-pletok. Jadilah disebut bir pletok.  
Bu Aci (kiri) dan Bu Ika (kanan) demo bikin bir pletok. (Foto Bozz Madyang)
Bahannya ada 15 macam. Bahannya, jahe ada jahe iprit dan jahe gajah agak besar. Sereh, daun jeruk purut, daun pandan, kayu manis, biji pala, kayu misoyi asalnya dari Kalimantan, kapulaga, cengkeh, lada hitam/ lada putih (lada hitam khasiatnya lebih bagus), cabe yang sudah dikeringkan, garam, gula (pasir atau merah, gula batu). Terus ada serutan kayu Secang, ini menentukan warna.  
Sebagian bahan pembuat bir pletok. (Foto Bozz Madyang)
Lalu bagaimana cara membuatnya? 

“Jahenya dikeprek agar saat direbus aromanya keluar,” jelas Bu Aci.

Bahan basah ada daun pandan, jahe jangan dikupas, sereh, jahe.  Bahan-bahan kering dikeprek. Masak air sampai mendidih, masukkan semua rempah-rempah dan direbus sekitar 30 menit. Dihitung setelah mendidih, 30 menit masukkan kayu secang. Setelah warna coklat angkat. Disaring lalu masukkan gula dan garam. Diaduk sampai rata menyatu dengan air, baru disajikan.    

Menurut Bu Aci, bir pletok buatannya tanpa bahan pengawet namun tahan 3 bulan. Kalau sudah dibuka masukkan lemari es. Cara pengawetnya: botol kosong rebus 30 menit, buang airnya, masukkan bir pletok dan tutup, lalu direbus lagi selama 30 menit.

“Manfaatnya bisa untuk menghilangkan batuk, flu, masuk angin, hilangkan pegal-pegal, juga bisa buat detok,” jelas Bu Aci yang sekali bikin bir pletok  bisa memproduksi 370 botol yang dijual dengan harga Rp. 20 ribu, yang botol kecil Rp. 10 ribu. Semua dikerjakan secara home industri. 
Bu Aci jelaskan cara membuat bir pletok. (Foto Bozz Madyang)
Kelar workshop bir pletok pindah ke workshop bareng Bang Udin, yakni bikin kerak telor. Alatnya wajan, anglo/ tungku dari tanah liat. Bisa pakai kompor di rumah, cuman rasanya berbeda. Bahannya ada beras ketan putih, srundeng, bawang merah goreng, garam, lada, ebi disangrai, telur ayam/ bebek.  Bumbu halusnya menggunakan cabai, kencur, jahe, merica. Tak lupa Ajinomoto.

“Cara membuatnya simple, cukup 5 menit, jadi,” kata Bang Udin yang dibantu Roni.   
Bang Udin bikin kerak telor pakai Ajinomoto. (Foto Bozz Madyang)
Cara membuatnya, pertama-tama beras ketan putih masukkan ke wajan. Sekitar 2 menit sampai warna berubah kecoklatan. Masukkan 2 sendok makan srundeng, ebi, garam, dan Ajinomoto. Untuk lada, ajinomoto dan garam sesuai selera. Terakhir baru telor, aduk sampai rata. Lebarkan bentuk lingkaran.  Dimasak  tanpa minyak. 
Kerak telor bikinan Bang Udin. (Foto Bozz Madyang)
Terlihat mudah membikinnya. Jun pun penasaran. Lalu mencoba membuatnya sendiri. Dasarnya Jun memang pandai memasak, jadi tak banyak kesulitan. Memasukkan beras ketan putih, membalik wajan saat beras ketan sudah kecoklatan sampai meratakan telur. Not bad lah. Tapi gak tahu rasanya hehehee. Soalnya aku gak sempat cicipin kerak telor hasil karyanya.  
Jun sedang praktik bikin kerak telor. (Foto Bozz Madyang)
Workshop kerak telor menutup rangkaian Umami Food Marathon. Di sela hujan lebat sambil menikmatin kerak telor yang disajikan, kami cukup puas. Acara yang bermanfaat. Mulai dari pemahaman yang benar secara ilmiah tentang MSG hingga mengenal budaya Betawi melalui peninggalan kuno di museum Betawi hingga trip kulinernya.

Trip kuliner Betawi yang semestinya menjadikan kita semakin peduli dengan budaya kuliner bangsa sendiri. Di tengah merangseknya kuliner ala  western maupun dari Asia dan Timur Tengah. Selayaknya kita turut merawat kuliner dan budaya (Betawi) agar tetap eksis dan menjadi tuan di negeri sendiri. Salah satunya sebagai food blogger adalah dengan menikmatinya, mendokumentasikannya dan menuliskannya agar semakin luas dibaca orang.

Satu hal lagi, dengan mengikuti acara ini, aku semakin paham tentang MSG. Bagaimana micin itu boleh dikonsumsi sesuai takaran yang membuatnya tak berbahaya. Jadi stop katakan generasi micin untuk menyebut generasi bodoh. karena itu menjadi sebuah pembodohan!

Terima kasih  kepada Ajinomoto dan Tabloid Bintang atas acara bermanfaatnya. Terima kasih pelaku kuliner tradisional, Warung Mak Dower, Soto Betawi Husen, Bang Udin, Bu Aci dan Bu Ika yang telah merawat kuliner Betawi. Salam Kuliner Nusantara.

@bozzmadyang

36 comments:

Dapur Ngebut said...

pecak bandengnya enak, ajaib tanpa duri. genjer centil, udang lenjeh... ah semuanya enak!
seharian makan masakan gurih ber msg, badan ga kenapa2 krna takarannya yg pas :)

Nefertite Fatriyanti said...

Bandeng bisa kering begitu ya gorengnya, enggak lembek.

Diah Woro Susanti said...

Selain kenyang yg pasti kita juga dapet pencerahan ya mengenai mitos MSG slama ini

Jun Joe Winanto said...

Wuahahahahaha... endeeessss endolita bambang gulindem. hahahhaha.. MSG yes. Ueeeenak tenan. Itu lagi ada praktik buat Kerak Telor mulut ampe manyun-manyun kang. Hahahah.

Rahab G said...

Dapur Ngebut: yup benerr....pecak bandengnya nyos.... asin guriihhhhh :D

Rahab G said...

Nefertite Fatriyanti bener kering, empuk, dititilin enakkk :D

Rahab G said...

Diah Woro Susanti yesss itu penting, pemahaman ttg MSG scr ilmiah yes

Rahab G said...

Jun Joe Winanto manyun2 ngilerrr kerak teloorrr :D

Ria Handayani said...

Pecak Bandengnya menggugah selera, dijamin nambah nasi kalau makan lauknya pecak bandeng.

Ria Buchari said...

endoss marendoss semua menunya,,bikin nagih ya bos :D

Maya Siswadi said...

Seru banget acaranya ya. Padat dan penuh informasinya, sampai bingung mana yang mau dishare duluan, hahaha

Suciati Cristina said...

benerrr Haji Husen rame dan antriii..
ah aku jadi inget jinglenya ajinomoto jadinya hihi..

Rahab G said...

Ria Handayani yoii...bandengnya kering,gurih josss

Rahab G said...

asliiii akuu lum puas ngicipin semua menu dower yg enak2....kudu balek lageeee :)

Rahab G said...

Maya Siswadi hahahaaa yoiiii ....acara yg kudu sering diadakan, sekalian ngangkat kuliner tradisional :D

Rahab G said...

Suciati Cristina "cup-cup-cup...cap mangkok merah, Ajinomoto! Putih dan gurih...ditanggung halal, Ajinomoto!" hahahaaa

Nita Lana Faera said...

Uww lengkap ulasannya, Bozz. MSG ditemukan oleh profesor ya, masa iya menyebabkan bodoh? 😁 Ga mungkin banget lah. Moga makin banyak ya info yg tepat ttg MSG ini 😁

rahab ganendra said...

Nita Lana Faera yes ahli kimia...ya smg makin bnyk info2 yg benar dikatahui bnyk orang :)

Ya Yat said...

Pete di masakan mak dower enak dicemilin... gara gara liat cara masak chef ari aku ngubah cara masak... biasanya pakai MSG di awal masakan sekarang pake di akhir masakan

Nur Said Rahmatullah said...

Yup, MSG Ajinomoto itu penyedap rasa saja ya. Bukan bumbu wajib yg harus dituangkan.

Rahab G said...

Ya Yat ngemil pete goyenggg dong :D .... yoii di akhir masakan setelah bumbu dasar bikinan sendiri ga nendang hahaa.... :D

Rahab G said...

Nur Said Rahmatullah yup penguat rasa bumbu dasar :D

Ade UFi said...

Iya ya, mas. Itu mangkok legendaris banget. Ga usah dikampung mas rahab, di jakarta juga masih banyak abang2 yang pakai mangkok ajinomoto. Saingannya mangkok ayam.. xixixi

Ajinomoto ini memang menjaga kualitas dan rasa ya. Produknya pasti aku pakai setiap bln yg tepung kremes sama masako. Enak soalnya buat masakan.

Lia Harahap said...

Oooh jadi Soto Betawinya buka jam 7. Wah mesti pagi-pagi nih biar dapet daging :D

Myra Anastasia said...

marathon yang berfaedah hehehe. Puas banget kulinerannya. Dan gak khawatir dengan MSG yang dikonsumsi :)

Yesi Intasari said...

seru banget umami food marathonnya.. aku sempet nyobain bikin kerak telor juga kemarin hehe

Rahab G said...

Ade UFi yess....cmn aku lum nemuin di jkt hehee

Rahab G said...

Lia Harahap yess kudu pagi2 datangnya hahaa

Rahab G said...

Myra Anastasia yes....kuliner tradisional yg bikin makin kenal kuliner betawi dan jg info ttg msg yg bener :)

Rahab G said...

Yesi Intasari yess....seru.....hasil kerak telur gmn rasanya? :)

GulanyaGulali said...

aku jadi ngiler lagi deh mas rahab...
food marathon yang tak terlupakan #tsaahhhh

Astin Astanti said...

lengkap banget reportasenya mas. Saya suka banget nih kemasan acara yang mengenal kan kuliner dan kebudayaan betawi. Kulinernya enak, budayanya juga bersahaja, suka banget apalagi sekarang ngerti apa itu msg sebenernya

Rahab G said...

GulanyaGulali yuk food marathon lagee Winn :D

Rahab G said...

Astin Astanti betulllll...acara semacam ini layak sering diadakan yes...mengangkat kuliner tradisional :D

uni dzalika said...

paling suka waktu ke kampung setu banyak yang bisa dipelajari, tapi dua tempat sebelumnya juga seru bisa nyobain makanan enak semua pakai msg padahal

racHmat PY said...
This comment has been removed by the author.

Post a Comment